Home Ekbiz Corporate Edan…KemenESDM Akan Terbitkan Surat Newmont Padahal Tidak Bangun Smelter

Edan…KemenESDM Akan Terbitkan Surat Newmont Padahal Tidak Bangun Smelter

337
1
SHARE

ENERGYWORLD – Edan KemenESDM Akan Terbitkan Surat Newmont Padahal Tidak Bangun Smelter. Kenapa bisa?

Pernyataan Direktur Jenderal Minerba, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot bahwa  tambang asal Amerika Serikat (AS) ini, telah memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan dalam pengurusan SPE. “Besok Jumat, rekomendasi SPE bisa terbit,” kata Bambang di Jakarta, Kamis (19/11/2015).

Kementerian ESDM menerbitkan rekomendasi Surat Persetujuan Ekspor (SPE) PT Newmont Nusa Tenggara (Newmont) pada Jumat (20/11/2015). Padahal Newmont belum membangun smelter.

Terkait kewajiban Newmont membangun unit pengolahan dan permurnian mineral mentah (smelter), Bambang menyatakan, tak ada masalah. Dalam hal ini, Newmont belum membangun namun sebatas menjalin kerjasama dengan Freeport untuk membangun smelter di Gresik, Jawa Timur. “Mereka telah sampaikan kerja sama definitif dengan Freeport,” kata Bambang.

Rekomendasi SPE memang menjadi hal yang diperlukan Newmont agar konsentratnya bisa diekspor. Setelah mendapat rekomendasi, pihak Kementerian Perdagangan segera menerbitkan SPE kepada Newmont. Kalau izin Newmont lolos maka Freeport kelihatannya juga bakal mengikuti jejaknya.

Padahal Gubernur Nusa Tenggara Barat, M Zainul Majdi mendesak pemerintah tidak memperpanjang izin ekspor konsentrat hasil tambang PT Newmont Nusa Tenggara. Izin ekspor dijadwalkan berakhir pada 18 September 2015, jika tak ada komitmen membangun smelter.

“Kami merekomendasikan ke pemerintah pusat agar tidak memperpanjang izin ekspor, kecuali Newmont menunjukkan komitmennya membangun smelter di Nusa Tenggara Barat (NTB),” tegas Zainul Majdi di Mataram, Senin (15/6) lalu.

Sebelumnya Newmont pada 18 Maret 2015 mendatang. PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) mengaku optimis mendapat kembali perpanjangan izin ekspor konsentratnya dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

” Saya doanya sudah setiap malam. Jadi optimis (izin ekspor diperpanjang). Selalu optimis,” kata Direktur Utama Newmont Martiono Hadianto di kantor Ditjen Minerba, Tebet, Jakarta, Rabu (18/2) lalu.

Ia mengaku optimis lantaran pihaknya telah mengajukan perpanjangan permohonan izin sejak 11 Februari 2015 lalu, atau mengajukan permohonan perpanjangan 30 hari sebelum rekomendasi berakhir.

” Newmont telah mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah untuk pengajuan izin. Sudah sesuai dengan aturan. Pengajuannya 30 hari sebelum Februari, tanggal 18 itu kan februarinya 28 hari,” jelasnya.

Terkait lokasi pabrik pemurnian (Smelter), Martiono Hadianto mengaku tidak mencantumkan kepastian lokasi pabrik pemurnian (smelter) dalam permohonan perpanjangan izin tersebut. Sebab, dalam ketentuannya tidak diharuskan ada kepastian lokasi smelter.

” Aturannya kan nggak ngomong gitu (lokasi smelter). Cuma bilang harus ada jaminan. Kan itu aja. Harus ada progress perkembangan. Yaudah gitu aja,” tandasnya.

Untuk diketahui, izin ekspor konsentrat Newmont diberikan untuk periode 18 September 2014 hingga 18 Maret 2015 dengan kuota ekspor tembaga mencapai sekitar 350.000 ton. Berdasarkan Permen ESDM Nomor 11 tahun 2014, maka Newmont harus mengajukan permohonan perpanjangan izin paling cepat dilakukan 45 hari, dan paling lambat 30 hari sebelum rekomendasi berakhir.

Dengan demikian, Batas Akhir pengajuan paling lambat pada 18 Februari 2015.

Kita tahu pembangunan smelter, sebagaimana diketahui merupakan amat dari UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba). Beleid tersebut mewajibkan perusahaan tambang untuk membangun smelter.

UU tersebut berlaku efektif untuk lima tahun sejak diundangkan, pada 12 Januari 2014. UU tersebut juga melarang ekspor bijih mineral tanpa diolah dulu di dalam negeri. UU memberikan sanksi bagi perusahaan tambang yang tidak mau membangun smelter.

Smelter merupakan fasilitas pengolahan hasil tambang yang berfungsi meningkatkan kandungan logam, seperti timah, nikel, tembaga, emas dan perak. Setelah diolah, maka hasil tambang mencapai tingkat yang memenuhi standar sebagai bahan baku produk. Jadi kenapa kok belum bangun Smelter sudah dikasih ijin Ekspor lagi? (WM)

LEAVE A REPLY