Home Migas Asosiasi Pertamina Diminta Hentikan Kebohongan Publik

Pertamina Diminta Hentikan Kebohongan Publik

197
0
SHARE
Gedung Pertamina /EWINDO

ENERGYWORLD – ‎PT Pertamina (Persero) diminta menghentikan pembohongan publik melalui kabar tercapainya swasembada Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar. Hal itu dikarenakan besaran produksi dan konsumsi Solar dalam tiga tahun terakhir ‎tidak sebanding dengan daya serap. ‎

“Faktanya, cadangan solar yang melimpah tersebut terjadi lantaran rendahnya daya serap konsumen seperti pertambangan, perkebunan, dan industri lainnya,” terang Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman.

Dia mencontohkan industri pertambangan. Dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan produksi menyusul pemberlakuan UU Minerba. Di sektor perkebunan khususnya kelapa sawit juga diterpa isu lingkungan yang mengakibatkan melambatnya laju ekspor.

“Sesungguhnya ‘prestasi’ kelebihan solar Pertamina itu merupakan beban. Yang harus dipikirkan adalah mau dibawa ke mana hasil kelebihan produksi tersebut. Pilihannya lainnya, apakah Pertamina harus menurunkan produksinya, atau apakah akan memberikan profit apabila kelebihan solar itu diekspor? Atau hanya malah digunakan secara keliru sebagai pencitraan seolah-olah prestasi luar biasa Pertamina,” cetus Yusri.

Lebih lanjut dia memastikan, apabila opsi mengekspor kelebihan solar bukanlah perkara mudah. Bahkan, berpotensi akan mendatangkan kerugian bagi Pertamina.

“Grade solar produk Pertamina dengan spesifikasi kandungan sulfur 3500 ppm dan Cetane Number 48 tergolong kategori tidak ramah lingkungan. Sehingga hanya negara yang tidak peduli lingkungan saja yang mau membeli. Itu pun pasti dengan harga murah.” tutupnya.

Seperti diketahui, Pertamina mengklaim akan mengalami surplus solar menyusul pengoperasian Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) Cilacap di Jawa Tengah dan Kilang Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, pada Mei 2016. Bahkan, Pertamina memprediksi pada 2023 akan terjadi swasembada semua jenis BBM karena produksi kilang mencapai dua juta barel per hari.

Dimana unit RFCC mengolah feed stock berupa Low Sulfur Waxy Residue (LSWR) sebanyak 62.000 barel per hari (bph) menjadi produk bernilai tinggi, yaitu HOMC sebanyak 37.000 bph. Dari produksi HOMC tersebut, sebagian besarnya diproses lebih lanjut untuk diolah menjadi premium.

Dengan demikian, produksi premium dari kilang Cilacap naik dari 61.000 bph menjadi 91.000 bph. Sementara itu, kilang TPPI dapat mengolah sekitar 100.000 barel per hari kondensat dan naphta. Dari pengolahan bahan baku dengan mogas mode akan diperoleh beberapa produk minyak, seperti LPG, Solar, Fuel Oil, Premium, dan HOMC. TPPI dapat menghasilkan sekitar 61.000 bph premium, 10.000 bph HOMC, dan 11.500 bph solar. Sementara Kementerian ESDM memperkirakan, penghematan devisa impor BBM jenis solar senilai Rp27 triliun dari pemakaian biodiesel pada 2016. Red‎