Home BUMN Menunggu Hak Preogratif Presiden Joko Widodo di Menteri ESDM

Menunggu Hak Preogratif Presiden Joko Widodo di Menteri ESDM

282
0
SHARE

Inilah kisah ESDM kita. Sudah dua bulan menteri ESDM tak ada. Keputusan secara sah di sektor energy pincang. Akan berapa lama lag MenESDM kosong?

EnergyWorld – Polemik Dwi kewarganegaraan Arcandra Tahar memang sudah usai pada saat pihak Istana negara lewat Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengumumkan pemberhentian pada Senin (15/08) lalu. Lalu menununjuk Menko Maritim dan Sumber Daya, Luhut Binsar Panjaitan sebagai pelaksana tugas Menteri ESDM sampai dipilih menteri definitif.

Tai kini sudah dua bulan dan bursa calon Menteri ESDM pun mulai bermunculan di ranah publik. Ada signal mantan Menteri ESDM 20 hari kembali menyandang menteri ESDM kembali, ada juga  yang berlatar belakang politik dan signal sudah kuat professional akan menduduki posisi ESDM 1 ini. Untuk yang mencuat akan diplihnya kembali  Arcandra Tahar sejumlah pendapat mengemuka dan prokntra

Pengamat Hukum Tata Negara dari Universitas Ekasakti, Padang Sumatera Barat, Otong Rosadi mengatakan saat ini status warga negara Indonesia yang disandang Arcandra sudah sah secara hukum. Lantas apakah dengan begini AT bisa kembali melenggang ke Medang Merdeka Utara gedung ESDM?  Tentu tidak semudah itu.

Ferdinand Hutahean Direktur Eksekutif dari Energy Wacht Indonesia, mengatakan Archandra tidak Akan Angkat Lagi sebagai Menteri ESDM. “Archandra Tahar saya yakin tidak akan diangkat lagi sebagai menteri ESDM. Kalaupun sampai Archandra diangkat lagi oleh Presiden, artinya presiden sedang main-main mengurus negara dan tunduk pada tekanan pihak pihak yang menjadi sponsor Archandra,” ujar Ferdinand kepada EWINDO, Selasa (27/9) di Jakarta.

Ferdinand menambahkan jika saja AT diangkat kembali ini kekeliruan besar terlebih bahwa status WNI Archandra masih bermasalah secara hukum. “Bukan negara yang cacat hukum, tapi pemerintah melanggar aturan dan mengedepankan kepentingan kelompok tanpa memperhatikan kepentingan negara,”tegas pengamat Energi.

Sebelumnya beredar juga bahwa Archandra setelah berubah warga kenegaraannya kembali dikabarkan akan diangkat kembali jadi menteri. Namun bisa dipastikan jika AT diangkat akan menjadikan dunia energi (ESDM) Negeri ini nambah panjang polemiknya.

Ferdinand juga menilai Pemerintah kembali memancing reaksi publik atas kontroversi status kewarganegaraan Archandra Tahar sang mantan Menteri ESDM yang pernah bertugas 20 hari dan kemudian diberhentikan karena ternyata AT memang bukanlah Warga Negara Indonesia sebagaimana syarat yang diatur didalam UU, jelasnya.

Pemberhentian AT pada saat itu adalah pengakuan sah kepada publik bahwa Presiden telah melakukan pelanggaran UU dan pelanggaran itu mengakibatkan status AT sebagai menteri cacat hukum. Kemudian apakah DPR akan menindaklanjuti secara konstitusional pelanggaran UU tersebut?

“Mungkin juga ini menjadi biasa karena terjadi pelanggaran UU secara berjaamah antara Pemerintah dan Legislatif,” ujar Ferdinand.

Menteri Hukum Yasona Laoly H dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa Pemerintah telah meneguhkan kembali status WNI Archandra Tahar. Inilah yang membuat status WNI Archandra kemudian akan rentan gugatan pembatalan di Pengadilan Tata Usaha Negara. UU No. 12 Tahun 2006 tidak mengenal istilah meneguhkan kewarganegaraan.

“Kemudian juga status Tahar selama diberhentikan jadi menteri ESDM, AT belum jadi WNI tapi mengapa pemerintah membiarkan AT bebas melakukan kegiatan tanpa dilarang oleh Ditjen Imigrasi? Negara telah gagal menegakkan aturan dan secara sengaja tidak mau menegakkan aturan. Mestinya Tahar harus dicatat sebagai pengungsi bila kemudian tidak punya status kewarganegaraan dan diurus UNHCR. Pemerintah tidak boleh gunakan kalimat meneguhkan dengan alasan supaya tidak stateless. Olimpiade yang baru berlalu di Brazil bahkan mengakui yang tidak punya kewarganegaraan dan berprestasi,”jelasnya.

Pada Kasus Arcandra Tahar memang memiliki dwi kewarganegaraan, namun kenapa dia tidak diproses secara keiimigrasian? Tahar berwarga negara Amerika Serikat jadi wajar dicopot dari kursi menteri ESDM dan batal demi hukum karena UU Indonesia tidak kenal azas dwikwarganegaraan. Ia memang sudah duduk empuk meski hanya 20 hari di bangku menteri, kata Ferdinand.

Sampai kini memang tak ada pihak yang berbicara soal pelanggraan imigrasi bahkan Dirjen Imigrasi pun adem ayem. Isu jadi mengelembung, tapi Tahar ternyata tak diam. Secara keras kasus Tahar dinilai Ferdinand  yang juga pengamat energi ini keberadaan Archandra Tahar di Indonesia saat ini jelas melanggar UU Keimigrasian.

“Mestinya Archandra harus ditempatkan di rumah tahanan imigrasi sampai urusan keimigrasiannya selesai,” jelas Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI), ini dalam laman PRIBUMINEWS.co.id Jumat, 26 Agustus 2016.

Archandra seharusnya tidak boleh melakukan kegiatan apapun secara bebas sampai urusan keimigrasiannya selesai. “Tapi memang penerintah ini sudah terbiasa tidak menegakkan aturan bahkan menabrak Undang-Undang,” tegasnya.

Archandra Akan ke SKK Migas?

“Isu Archandra Tahar yang akan menjadi kepala SKK Migas atau bahkan kembali jadi menteri ESDM memang sangat mengecewakan. Orang yang sudah cacat integritas ternyata menjadi pilihan bagi rejim ini,” tegas Ferdinand.

Masih kata Ferdinand ini jelas memalukan bagi sebuah bangsa dan tidak seharusnya terjadi. “Seolah bangsa ini tidak punya lagi warga negara yang mampu hingga harus memilih orang-orang tidak layak jadi pemimpin,” ungkapnya. Meski saat ini AT sudah jadi WNI.

Ditepi lain Pengamat politik dari Universitas Andalas, Sumatera Barat, Edi Indrizal, menilai usulan pengangkatan kembali Arcandra Tahar menjadi Menteri ESDM bisa menimbulkan kegaduhan yang berisiko tinggi dan berakibat fatal jika dilakukan.

“Pengangkatan, pemberhentian atau penggantian menteri sepenuhnya merupakan hak prerogatif presiden, namun jika mengangkat kembali Arcandra Tahar yang sebelumnya diberhentikan karena masalah kewarganegaraan ganda akan menimbulkan pro dan kontra berkepanjangan,” kata Edi, Rabu 14/9/2016 seperti dilansir Antara.

Ia menilai, tidak semua orang bisa menerima pengangkatan kembali Tahar, karena itu presiden disarankan melakukan kalkulasi politik secara cermat, agar tidak terjadi kegaduhan yang berisiko tinggi bagi pemerintahan.

“Secara objektif alasan kontra akan pengangkatan tersebut jauh lebih kuat dari pada yang pro, dan hingga kini masih terus diperdebatkan,” kata dia.

Misalnya kenapa Tahar tidak secara terbuka menyampaikan status kewarganegaraannya ketika akan diangkat dulu. Karena kejujuran dan keterbukaan adalah soal mendasar terkait integritas.

“Kalau soal kapasitas, masih banyak putra putri terbaik bangsa yang lebih berkapasitas,” kata dia.

Sekalipun dia memiliki kompetensi tinggi, namun yang dibutuhkan pemerintah adalah orang profesional yang bisa memberikan solusi untuk bangsa, tanpa merusak kredibilitas pemerintahan.

Karena itu presiden tetap punya opsi dengan mengangkat tokoh lain yang berasal dari kalangan profesional dan lebih kredibel.

“Sedangkan untuk tetap mengoptimalkan potensi Arcandra, presiden bisa menjadikannya staf ahli khusus untuk pembangunan energi sumber daya mineral nasional,” usulnya.

Dua yang Kuat

Baiklah kita luakan AT dan jika kita berandai-andai siapa yang kuat untuk menjadikan posisi orang nomor satu di ESDM?

Tim Redaksi Energy World Indonesia (EWINDO) merangkum nama yang bertebaran di yang minat dna juga yang digadang-gadangkan namun kami menyisakan dua pilihan yang dirasa dari data sangat kapable. Mereka adalah sebagai berikut:

Ardian Nengkoda

Kandidat kuat Menteri ESDM berikutnya adalah Ahli perminyakan Indonesia yang karir profesional nya lebih banyak di negara Timur tengah yakni, Ardian Nengkoda. Dirinya saat isi bekerja sebagai GM di Aramco sebagai pengembang proyek Gas off shore.

Siapa Ardian Nengkoda?  

Mari kita lihat perjalanannya. Informasi sejumlah sumber kalangan Oil & Gas namanya Ardian Nengkoda dikenal seorang professional yang luar biasa. Dia adalah satu-satunya orang Asia yang memenangkan penghargaaan Society of Petroleum Engineers (SPE) 2015 dalam proyek-proyek regional, pembangunan fasilitas dan konstruksi minyak di Abu Dhabi, UAE, dan penghargaan Gas Processors Association (GPA) Annual Technical Conference (San Antonio, Texas). Dia juga pemilik 6 hak paten dalam bidang migas.

Ardian terkenal dalam bidang oilfield technologist dengan background pendidikan Doktor bidang Chemical Engineering (Offshore methane gas hydrate production research), dan memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang induatri oil and gas E&P, projects, on&offshore, deepwater, marginal field, EOR technology, unconventional gas development.

Memiliki pengetahuan mendalam dalam bisnis gas upstream, midstream and downstream, serta R&D. Dia telah berpengalaman mengerjakan mega project sepanjang Oman, Saudi Arabia, Kuwait, Qatar, UAE, Algeria, Sudan, GoM, Norway & UK, Brazil, Indonesia, Pakistan, Thailand, Malaysia dan Australia.

Diantara ratusan karya tulisnya adalah: Integrated water chemistry study to support oil field development scenario; Hydrate Problems in Gas Lift Production: Experiences and Integrated Inhibition, Understanding of Oilfield Souring and Effective Monitoring: A Case Study; Gas Hydrate Problems in Desert of Sultanate of Oman: Experiences and Integrated Inhibition Program Authors, dan ratusan karya lainnya.

Saat ini Ardian bekerka di Aramco sebagai arsitek pengembangan gas, yang memimpin dan mengatur pengembangan mega gas lepas pantai Offshore Mega gas (FDP, design sampling & PVT fluid characterization, flow assurance & production chemistry, production strategy, drilling plan, facilities concept and design). Juga aktif menjalankan organisasi non-profit dalam sektor pendidikan sustainable energy dan menjadi sukarelawan untuk SPE dan IATMI sejak 1997, dosen tamu, training instructor, menjadi pelatih dan mentor bagi mahasiswa-mahasiswa di banyak negara.

Pengalamannya adalah di bidang: field development, offshore project management, operation, smart field, oilfield chemistry, flow assurance, facilities engineering, O&G processing, subsea, EOR unconventional gas/FLNG technology, fluid, energy & water management.

Kalangan pebisnis  Oil & Gas juga yang kami hubungi menyebutkan bahwa kalangan Oil & Gas menilai sepertinya pengalamannya sangat luas. Ardian memiliki pengetahuan oil and gas sangat baik. “Dia juga kenal banyak orang. Banyak kawan saya di middle east kenal dia,” kata serang pengusaha Gas yang sementara ini enggan disebutkan namanya.

Namun demikian ada kekurangannya, kata sumber tadi. “Cuma satu pengalaman memimpin agak kurang, kecuali saat di Oman, praktis dia hanya pelaksana dan posisi di Aramco saat ini juga kan sebagai senior engineer,” jelas sumber itu.

Masih kata sumber tadi Energi Sumber Daya Mineral,  adalah ruang kelola berharga dan bernilai. “Yang harus dibuktikan apakah dia mampu memimpin salah satu kementrian yang basah dan banyak political involvement itu, “kata sumber tadi.

07

Ardian dan Society of Petroleum Engineers / SPE 2015/ ist.

Ardian adalah putra Indonesia yang mampu menorehkan prestasi dalam dunia perminyakan dan industri perminyakan, ia juga pernah bekerja di Arab Saudi dan peraih penghargaan atas kinerjanya di industri perminyakan dunia dari Society of Petroleum Engineers/SPE.

SPE merupakan sebuah organisasi perminyakan internasional yang beranggotakan insinyur perminyakan di seluruh dunia. Penghargaan ini diberikan kepada Adrian karena selama 11 tahun berkontribusi di dunia perminyakan.

Ia diketahui telah turut di dalam cukup banyak mega proyek perminyakan di dunia, selain itu Adrian juga telah banyak menyumbangkan kemampuannya di dalam konferensi dunia, karya-karya tulis ilmiah yang tentunya sangat penting bagi perkembangan industri perminyakan dunia.

Dengan penghargaan SPE yang diraihnya ini juga membuat nama Adrian Nengkoda tercatat dalam sejarah sebagai orang Asia pertama yang berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi itu.

Dia adalah satu-satunya orang Asia yang memenangkan penghargaaan Society of Petroleum Engineers (SPE) 2015 dalam proyek-proyek regional, pembangunan fasilitas dan konstruksi minyak di Abu Dhabi, UAE, dan penghargaan Gas Processors Association (GPA) Annual Technical Conference (San Antonio, Texas). Dia juga pemilik 6 hak paten dalam bidang migas.

Ardian terkenal dalam bidang oilfield technologist dengan background pendidikan Doktor bidang Chemical Engineering (Offshore methane gas hydrate production research), dan memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang industri oil and gas E&P, projects, on & offshore, deepwater, marginal field, EOR technology, unconventional gas development.

Memiliki pengetahuan mendalam dalam bisnis gas upstream, midstream and downstream, serta R&D. Dia telah berpengalaman mengerjakan mega project sepanjang Oman, Saudi Arabia, Kuwait, Qatar, UAE, Algeria, Sudan, GoM, Norway & UK, Brazil, Indonesia, Pakistan, Thailand, Malaysia dan Australia.

Diantara ratusan karya tulisnya adalah: Integrated water chemistry study to support oil field development scenario; Hydrate Problems in Gas Lift Production: Experiences and Integrated Inhibition, Understanding of Oilfield Souring and Effective Monitoring: A Case Study; Gas Hydrate Problems in Desert of Sultanate of Oman: Experiences and Integrated Inhibition Program Authors, dan ratusan karya lainnya.

Saat ini Ardian bekerka di Aramco sebagai arsitek pengembangan gas, yang memimpin dan mengatur pengembangan mega gas lepas pantai Offshore Mega gas (FDP, design sampling & PVT fluid characterization, flow assurance & production chemistry, production strategy, drilling plan, facilities concept and design). Juga aktif menjalankan organisasi non-profit dalam sektor pendidikan sustainable energy dan menjadi sukarelawan untuk SPE dan IATMI sejak 1997, dosen tamu, training instructor, menjadi pelatih dan mentor bagi mahasiswa-mahasiswa di banyak negara.

Pengalamannya adalah di bidang: field development, offshore project management, operation, smart field, oilfield chemistry, flow assurance, facilities engineering, O&G processing, subsea, EOR unconventional gas/FLNG technology, fluid, energy & water management.
Ardian adalah putra Indonesia yang mampu menorehkan prestasi dalam dunia perminyakan dan industri perminyakan, ia juga pernah bekerja di Arab Saudi dan peraih penghargaan atas kinerjanya di industri perminyakan dunia dari Society of Petroleum Engineers/SPE.

SPE merupakan sebuah organisasi perminyakan internasional yang beranggotakan insinyur perminyakan di seluruh dunia. Penghargaan ini diberikan kepada Adrian karena selama 11 tahun berkontribusi di dunia perminyakan.

ardianesdmIa diketahui telah turut di dalam banyak mega proyek perminyakan di dunia, selain itu Adrian juga telah banyak menyumbangkan kemampuannya di dalam konferensi dunia, karya-karya tulis ilmiah yang tentunya sangat penting bagi perkembangan industri perminyakan dunia.

Dengan penghargaan SPE yang diraihnya ini juga membuat nama Adrian Nengkoda tercatat dalam sejarah sebagai orang Asia pertama yang berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi itu.

Direktur-Utama-Pertamina-Dwi-SoetjiptoDwi Soetjipto

Saat ini Dwi menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero), meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen Kekhususan Manajemen Stratejik dari Universitas Indonesia (UI). Sebelum menyandang gelar Doktor, Dwi meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Andalas Padang, dan gelar Insinyur dari Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

Akhirnya semoga dalam bulan ini Menteri baru sudah ada. Apakah Ardian Nengkoda  ataau Dwi Soetjipto yang saat ini dipastikan akan duduk di ESDM 1, maka akhirnya nanti keputusan memilih Menteri ESDM akan menjadi hak preogratif Presiden Joko Widodo, dan memang saat ini begitu krusial untuk segera diputuskan mengingat banyak tugas di sektor migas dan energi ini. Kami menunggu hak preogratif Presiden Joko Widodo di ruang ESDM. | AENDRA & TIM RISET EWINDO