Home Ekbiz Corporate Repsol Spanyol Akan Gugat Pertamina?

Repsol Spanyol Akan Gugat Pertamina?

201
0
SHARE
Aahmad Bambang/ist

Menuding Repsol sedang mengalami kesulitan keuangan Ahmad Bambang dinilai Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman tidak etis.

ENERGYWORLD – Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang kembali dikritik menyusul komentarnya terkait rencana Pertamina membeli saham milik Repsol di Lapangan Menzel Lejmat North (MLN), Aljazair.

Pernyataan Ahmad dinilai kurang etis karena menuding Repsol sedang mengalami kesulitan keuangan sehingga harus menjual salah satu asetnya kepada Pertamina.

Apalagi, komentar miring dan tidak pantas itu dilontarkan Ahmad Bambang dalam sebuah forum bergengsi perminyakan dunia yang otomatis akan membuat malu dan merugikan pihak Repsol.

“Ini jelas sangat merugikan dan merusak reputasi Repsol dalam dunia bisnis minyak dan bisa menghancurkan harga sahamnya di lantai bursa. Sesungguhnya Jual beli saham di blok migas adalah merupakan hal yang biasa dan sering terjadi, sehingga janganlah berlebihan seakan merasa hebat. Contohnya pada 2008 saat BP melepas sahamnya di Blok ONWJ ke Pertamina. Apakah saat itu British Petroleum ( BP) sedang kesulitan keuangannya? Tentu tidak juga,” tegas Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman kepada wartawan di Jakarta, Rabu (14/12).

Sekadar perbandingan, Yusri menambahkan, anak usaha Pertamina, yakni PT Pertamina Hulu Energi (PHE), juga berencana menjual beberapa hak kelolanya di blok migas yang ada di luar negeri dan blok CBM di dalam negeri. “Pertanyaannya, apakah Pertamina juga mengalami kesulitan uang sampai menjual blok-blok tersebut,” gugat dia.

Diketahui, Presiden Direktur PHE Gunung Sardjono Hadi pernah mengatakan (15/9/2016), pihaknya akan melepas seluruh hak kelola di Blok SK-305 dan Blok 10 yang ada di Malaysia. Di blok SK-305, PHE memiliki hak kelola 30 persen. Sedangkan di Blok 10 ada hak kelola sebesar 10 persen.

Kemudian, PHE juga mau melepas sahamnya di Blok 11.1 yang ada di Vietnam. Rencana ini masih menunggu otoritas negara tersebut karena harus mengurus dana Abandonment dan Site Restoration (ASR). PHE diketahui juga akan melepas blok migas nonkonvensional di Indonesia. Saat ini, PHE memiliki hak kelola 14 Blok CBM, di mana delapan blok di antaranya PHE menjadi operator.

Yusri Usman mengungkapkan, ia juga mendapat informasi bahwa pihak Repsol sangat marah dengan pernyataan Ahmad Bambang tersebut, dan berencana melakukan gugatan hukum arbitase Internasional, “Kalau benar informasi bahwa pihak Repsol marah karena merasa namanya dicemarkan, ini akan jadi preseden buruk bagi Pertamina diforum pergaulan minyak dunia. Ini akibat komentar yang ngawur dari seseorang sekelas Wadirut,” ujar dia.

Yusri pun merasa heran kenapa seorang Ahmad Bambang bicaranya bisa di luar kontrol dan diduga melanggar etika bisnis dalam dunia perminyakan , apalagi dia kapasitasnya seorang wakil dirut sebuah BUMN terbesar di Tanah Air. “Semestinya dia gentleman merilis permintaan maaf secara terbuka di media dan sebaiknya Ahmad Bambang juga hati-hatilah jika bicara, jangan terkesan jumawa dan sombong,” katanya.

Sebelumnya, Ahmad Bambang dalam dalam acara Pertamina Energy Forum 2016 di Jakarta, Selasa (13/12), mengatakan, saat ini Repsol sedang dalam kesulitan keuangan dan berencana menjual sahamnya di MLN.

“Repsol mau jual hak partisipasinya di Lapangan MLN. Kami lagi negosiasi. Dia kan lagi rugi keuangannya. Saat ini Pertamina dan Repsol sedang menegosiasikan harga saham 35 persen hak kelola tersebut,” kata dia.

Lebih jauh Yusri menjelaskan bahwa awalnya juga pembelian saham ConocoPhilpis Aljeria sebesar 65% pada blok migas ini menimbulkan kontroversial dan pertanyaan besar , pasalnya pd tgl 19 Desember 2012 Dirut Pertamina Karen Agustiawan menyatakan telah menanda tangani “sales purchase agreement/ SPA” pada tgl 17 desember 2012 dengan perusahaan ConocoPhilips Algeria Ltd untuk akuisisi senilai USD 1, 7 miliar dengan saham 65 % milik ConocoPhilips Algeria Ltd pada blok 405a Aljazair , adapun komposi 65% hak partisipasi sebagai operator pada lapangan Menzel Lejmat North ( MLN ) , tetapi tidak sebagai operator untuk lapangan Ourhud yg hanya saham hak partisipasi 3, 7 % dan 16, 9% di lapangan EMK , adapun tambahan produksi yang akan diperoleh Pertamina saat itu adalah sebesar 23.000 bph ( barrel per hari ) dari total produksinya 35.000 bph.

Namum belakangan muncul keanehan dan menjadi pertanyaan yg menggelitik, pasalnya Reuters ( 18/12/12) telah melaporkan ” net carryng value asset dari ConocoPhilips Algeria Ltd ” di akhir oktober 2012 nilai assetnya hanya sebesar USD 850 juta , akan tetapi dibayar oleh Pertamina sebesar USD 1, 75 miliar , dan selisih yang sangat besar dan mengandung pertanyaan aneh harus bisa dijelaskan oleh direksi Pertamina , dan sementara jumlah produksi yang akan diperoleh Pertamina ternyata juga hanya berkisar 11.000 bph , tentu berbeda jauh dengan apa yang sudah dikatakan oleh semua Direksi dan komisaris Pertamina saat itu adalah 23.000 bph.

“Nah untuk tidak menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah diketahui oleh publik kebenarannya sampai dengan saat ini, mohon kiranya BPK RI dan KPK bisa memberikan perhatian khusus untuk transaksi ini,” tutup Yusri. | EWINDO/MEDITA

LEAVE A REPLY