Home Ekbiz Corporate URANIUM FREEPORT & KEBOHONGAN

URANIUM FREEPORT & KEBOHONGAN

102
0
SHARE
Porsite FREEPORT di Timika /EWINDO

EENRGYWORLD – Tulisan Hendrajit yang menguncang Freeport Indonesia berjudul

Obama, Freeport, dan China di Aktual.com dan media ini juga memuatnya, berisi soal Uranium di tanah cendrawasih. Isinya sebagaian adalah sebagai berikut:

“Ternyata ada perusahaan China yg mau beli Freeport, bukan karena emasnya tapi karena uraniumnya”…

Benarkah Uranium Jadi Pertaruhan Freeport McMoran di Papua Sehingga Mengutus Obama Sebagai Broker Tingkat Tinggi?

Kunjungan mantan Presiden AS Barrack Obama ke Indonesia kali ini mengundang aneka spekulasi.

Resminya sih Obama jadi pembicara kunci di Kongres Diaspora Internasional yang diselenggarakan Dino Pati Djalal, Tidak resminya, jadi broker tingkat tinggi Freeport ke Indonesia, Persis seperti Bill Clinton jadi broker Chevron ke Senegal. Benarkah sebuah perusahaan tambang Cina Zijin Mining Group Company Limited siap ambil alih Freeport dari Amerika Serikat?

Jika informasi ini benar, sangat masuk akal jika Obama diterjunkan sebagai broker tingkat tinggi, untuk mematahkan manuver Cina. Melalui the Operation Pulang Kampung.

Beredarnya kabar mengenai kemungkinan perusahaan Cina mengambil-alih kepemilikan PT Freeport Indonesia dari tangan Freeport McMoran Amerika Serikat nampaknya semakin beralasan setelah Freport McMoran menjual saham mayoritasnya di tambang perunggu Tenke Fungurume di Republik Demokratik Kongo kepada Molybdenum Tiongkok senilai 2,65 miliar dolar Amerika (sekitar Rp35,35 triliun).

Selain itu, Barrick Gold milik Aaron Regent yang juga tangan kanan Li Khai Shing dan Tambang di Tenke Fungurume di Republik Demokratik Kongo oleh Molybdenum Tiongkok, juga telah membeli saham kepemilikan Freeport beroperasi di Chili.

Alhasil, merebaknya kabar bahwa sebuah konsorsium Cina akan membeli kepemilikan saham PT Freeport Indonesia menjadi semakin dipercaya kebenarannya, dan tidak boleh dianggap enteng. Pada Februari 2017 lalu, Jaringan Pro Demokrasi sempat menaruh kekhawatiran terhadap kemungkinan Freeport Indonesia diambil-alih oleh perusahaan Cina. itulah kira-kira dan bisa di baca lengkap di

http://energyworld.co.id/2017/07/02/obama-freeport-dan-china/

Saat tulisan itu viral di WA group dan sejumlah Medsos maka sontak pihak Freeport Indonesia langsung berikan bantahan yang disampaikan Corporate Communications
PT Freeport Indonesia dengan bantahan itu dikatakan bahwa Tambang yang dikelola PTFI tidak terdapat KONSENTRASI kadar uranium yang memadai untuk dieksploitasi dikarenakan lingkungan geologi khususnya sumber magmanya tidak memadai. Dan pihak FI juga mengutip artikel 2010 link artikel dari konferensi pers BAPETEN pada Rabu, 10 Agustus 2010: http://bisniskeuangan.kompas.com/amp/read/2010/08/04/17162476/Bapeten:.Freeport.Tak.Menambang.

Terkait akses data hasil penambangan, hasil penjualan dan informasi kadar kandungan mineral yang ditambang PTFI dilaporkan secara rutin kepada instansi Pemerintah terkait seperti Kementerian ESDM, Keuangan, BKPM, Perdagangan dan BUMN.

Ini menarik juga, selang beberapa hari polemik tulisan Hendrajit dan bantahan dari Juru Bicara Freeport Indonesia Reza Pratama yang kabarnya mantu dari Ginanjat Kartasasmita aku medsos FaceBook Hendrajit lasung terblokir dan Hendrajit kita tidak berFesbuk.

Yang menarik jika tulisa Hendrajit salah harusnya bantahan saja. Dan harusnya  tanya saja Yan Permenas Mandenas S.Sos Ketua Fraksi Pikiran Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua pernah berujar keANTARA di Jayapura bahwa “Kegiatan tambang uranium  dilakukan secara tersembunyi dan telah berlangsung cukup lama,” ungkapnya yang juga anggota Komisi C DPRDP.

Ia menambahkan, Freeport telah mencuri hasil kekayaan masyarakat Papua dan membohongi pemerintah dengan hasil tambang yang disalurkan lewat jaringan pipa-pipa bawah tanah.

“Selain emas, uranium juga diproduksi oleh Freeport,” tambahnya.

Informasi ini menurutnya, didapatkan dari sejumlah masyarakat dan karyawan Freeport di Timika.

“Selain karyawan dan masyarakat, saya juga mendapat laporan dari sumber yang dapat dipercaya,” tandasnya.

Hal ini sangat disayangkan mengingat pajak yang didapatkan dari perusahaan emas terbesar didunia ini, hanya berjumlah Rp30 milyar pada tahun lalu.

Mandenas juga mengeluhkan, bahwa dewan belum bisa bergerak karena terkendala masalah klasik, yaitu belum ada alokasi dana untuk turun ke lapangan. Nah apakah URANIUM DI FREEPORT ITU KEBOHONGAN atau bukan, toh kabarnya kini perpanjangan kontrak karya sudah berlangsung juga. HMMMM. Aneh. |RED/EWINDO

LEAVE A REPLY