Home BUMN Apa Mantan Orang Petral Akan Dijadikan Dirut Pertamina?

Apa Mantan Orang Petral Akan Dijadikan Dirut Pertamina?

Dirut Pertamina Baru Harus Terbebas Dari Bau Mafia Migas Dan Kuasai Hulu Sampai Hilir

0
SHARE
istimewa
Gedung Pertamina/ ist

ENERGYWORLD.CO.ID – Sambil menunggu Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) yang baru menggantikan Elia Masa Manik, pensiunan Pertamina yang berhimpun dalam eSPeKaPe (Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina) mencium aroma yang tidak disenangi apalagi jika dikaitkan dengan perjuangan eSPeKaPe untuk menyelamatkan Pertamina dengan menyarankan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar memilih untuk jabatan Dirut Pertamina yang tepat.

Adanya isu sudah ada nama Hanung Budya, Nicke Widyawati dan Syamsu Alam yang menjadi kandidat Dirut Pertamina, meskipun merupakan bagian hak prerogatif presiden, tapi bagi eSPeKaPe ada kewajiban moral untuk mengkritisi jika memang hanya tiga orang itu yang di gadang-gadang.

Ketua Umum eSPeKaPe, Binsar Effendi Hutabarat yang juga Ketua Umum Komunitas Keluarga Besar Angkatan 1966 (KKB ’66) dengan tegas menolak ketiga-tiganya sebagai calon kuat Dirut Pertamina.

“Kami, eSPeKaPe, dengan tegas menolak ketiga nama tersebut untuk salah satunya menjadi Dirut Pertamina” katanya melalui keterangan kepada pers (4/5/2018).

Untuk nama Hanung Budya yang baru mendapat Surat Keputusan (SK) No. Kep-288/DPP/GOLKAR/III/2018 tertanggal 21 Maret 2018 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto tentang Susunan Badan Litbang DPP Golkar, terdapat nama Hanung Budya sebagai Ketua Bidang ESDM (energi dan sumber daya mineral) Badan Litbang DPP Golkar yang diketuai Umar Juoro, sudah barang tentu ada unsur politik nantinya di Pertamina yang harus terbebas dari pengaruh politik praktis.

Sementara diketahui jika pada 2004 Hanung adalah Dirut Pertamina Trading Limited (Petral) menggantikan Ari Sumarno. Petral anak perusahaan Pertamina yang dinilai ‘sarang’ mafia migas dan oleh Presiden Jokowi sudah dibubarkan, sangat tidak patut untuk didorong menjadi Dirut Pertamina, yang dipastikan akan kembali ‘menikam’ kebijakan Presiden Jokowi dari belakang.

Saat Hanung menjabat Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina justru di bulan September 2014 terjadi kasus penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) di Riau dengan nilai mencapai Rp 1,3 triliun, adalah bukti mekanisme pengawasan Pertamina dibawah tanggungjawab Hanung tidak jalan dan akan berbahaya jika dipercaya kembali di Pertamina.

“Apalagi dipercaya untuk menjadi Dirut Pertamina akan sangat berbahaya karena tidak akan lepas mewakili kepentingan tertentu, terlebih lagi untuk kepentingan mafia migas”, beber Binsar Effendi yang juga Ketua Dewan Penasehat Laskar Merah Putih (LMP).

Untuk Syamsu Alam yang Direktur Hulu Pertamina dan menapaki karirnya sejak 1989 dengan pernah menjabat Direktur Eksplorasi dan Pengembangan di PT Pertamina EP anak perusahaan Pertamina dari 2008-2011 lalu menjadi Dirut Pertamina EP dari 2011-2013 dan Senior Vice President (SVP) Exploration Pertamina dari 2013-2014. Sarjana geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini realitanya hanya berkutat di kegiatan usaha hulu, tentu belum layak didorong menjadi Dirut Pertamina.

Untuk nama Nicke Widyawati yang Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) Pertamina sejak November 2017 dan saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) Pertamina pada 20 April 2018 diangkat menjadi pelaksana tugas (Plt) Dirut Pertamina pengganti Ellia Massa Manik yang diberhentikan akibat melakukan pembangkangan atas putusan RUPS Pertamina pada Maret 2018 tentang perubahan nomenklatur dewan direksi Pertamina. Meskipun merangkap jabatan menjadi Plt Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina, jebolan Teknik Industri ITB dan master hukum bisnis Unpad serta yang pernah duduk sebagai Direktur Pengadaan Strategis 1 PLN, dari penilaian eSPeKaPe masih jauh mumpuni untuk memimpin Pertamina.

“Baik Syamsu Alam maupun Nicke Widyawati yang konon masing-masing didukung oleh elit politik, bagi kami, eSPeKaPe, bukan kelasnya Syamsu dan Nicke untuk menahkodai Pertamina sampai bisa ke pelabuhan tujuan” kata Binsar Effendi tegas.

Memang menurut Ketua Umum eSPeKaPe saat ini adalah eranya usaha hulu ditengah terus naiknya harga minyak global. Sehingga keahlian hulu diharapkan menjadi penolong kinerja Pertamina dengan menaikkan volume produksi minyak dan gas bumi (migas). “Tapi selama Syamsu Alam jadi Direktur Hulu Pertamina, justru tidak mampu menaikkan produksi eksplorasinya sampai-sampai disebuah momen Presiden Jokowi menggeleng-gelengkan kepalanya merasa ada yang salah di Pertamina yang tak mampu menggenjot produksi minyaknya” imbuh Binsar Effendi.

Dengan adanya persandingan yang menjadi alasan penolakan eSPeKaPe terhadap nama-nama kandidat Dirut Pertamina meskipun sejumlah elite masing-masing mendapat dukungan, untuk menyelamatkan Pertamina tidak memerlukan dukung-mendukung para elite.

Binsar Effendi memang akui jika usaha hulu harus digenjot, tapi kebutuhan BBM juga sangat penting dari sisi distribusi yang selama ini tidak transparan dan kurangnya informasi dari Pertamina termasuk kemungkinan kebocoran saat penyaluran BBM.

Oleh sebab itu yang seharusnya tepat untuk menjadi Dirut Pertamina adalah yang sudah punya pengalaman kuat di usaha hulu dan usaha hilir sekaligus, dan mencari yang cocok tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan.

“Kami di eSPeKaPe dengan tegas mendukung Iwan Ratman yang sudah mempunyai komitmennya jika gagal akan mundur ketimbang menunggu di copot melalui RUPS Pertamina. Ini adalah suatu pertaruhan dari eSPeKaPe dan demi mendukung penuh kebijakan Presiden Jokowi terhadap Pertamina,” pungkas.

Dan memang akan bahaya jika saja Pertamina diserahkan ke orang yang salah, apalagi mantan orang Petral mau Dijadikan Dirut Pertamina? |AHM/EWINDO

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.