Home BUMN ESDM Tunjuk Sukandar Jadi Plt Kepala SKK Migas

ESDM Tunjuk Sukandar Jadi Plt Kepala SKK Migas

0

ENERGYWORLD – Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Sukandar kini menjabat sebagai Plt Kepala SKK Migas, menggantikan sementara posisi yang kosong tersebut semenjak ditinggal pensiun oleh Amien Sunaryadi.

“Iya, betul jadi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SKK Migas, sejak Senin (26/11/2018) kemarin,” ujar Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto kepada media saat dijumpai di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/11/2018). Sebelumnya, Amien Sunaryadi resmi pensiun dari jabatannya sebagai Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) hari ini. Hal itu dikonfirmasi sendiri olehnya.

“Iya betul,” jawabnya, kepada CNBC Indonesia, Selasa (20/11/2018).

Amien pensiun dengan meninggalkan tiga pekerjaan rumah penting yang harus dirampungkan oleh calon bos SKK Migas berikutnya, yaitu investasi migas yang loyo, cost recovery yang masih membengkak, serta produksi migas yang cenderung terus menurun.

Sebelum masa pensiunnya tiba, Amien sering berkata, di masa jabatannya sudah banyak lapangan-lapangan tua di Indonesia, yang membuat kinerja produksi migas belum bisa maksimal. Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan keresahannya atas permasalahan di sektor hulu migas Indonesia. Terutama soal minimnya investasi yang masuk.

Data SKK Migas per September 2018, hanya terdapat 74 wilayah kerja (WK) migas yang sudah berproduksi, dari total 224 WK yang ada di Indonesia.

Amien Sunaryadi menuturkan, 74 WK yang sudah berproduksi tersebut mayoritas adalah WK yang sudah mature (berumur tua). Ini menyiratkan, lifting migas trennya memang sedang menurun sedangkan biaya produksi (cost recovery) trennya tidak menurun.

“Prioritas yang harus dilakukan Indonesia adalah eksplorasi. Sedangkan, eksplorasi membutuhkan capital tinggi, teknologi tinggi, dan kemampuan menghitung risiko,” ujar Amien melalui keterangan resminya, Senin (15/10/2018).

Situasi ini pun membuat Amien sering ‘disemprot’ oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, yang menegurnya, mempertanyakan kenapa biaya produksi mahal, tetapi produksinya kecil.

Bagaimana tidak? Pasalnya, Indonesia dulu pernah berjaya sebagai negara pengekspor minyak mentah. Namun, seiring berjalannya waktu, kini kondisi berbalik. Indonesia pun menjadi net importir, karena banyaknya lapangan minyak di Indonesia yang usianya sudah sepuh. Akhirnya produksi pun tergerus.

Amien pun pensiun dengan meninggalkan tiga pekerjaan rumah penting yang harus dirampungkan oleh calon bos SKK Migas berikutnya, yaitu investasi migas yang loyo, cost recovery yang masih membengkak, serta produksi migas yang cenderung terus menurun.

Ia mengakui, lapangan minyak Indonesia saat ini memang cukup berisiko. Sebab, penemuan minyak di hulu kecil, sehingga butuh biaya yang besar untuk terus menggenjot kinerjanya.

“Sementara produksi tidak jalan, impor BBM terus naik karena populasi manusia bertambah dan konsumsi tetap,” tutur Amien ketika menyampaikan sambutannya dalam sebuah diskusi energi di Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Karena itu, tuturnya, dia meminta agar lapangan-lapangan tua ini diutak-atik agar tetap bisa berproduksi selain juga sambil mencari lapangan baru yang masih hijau.

“Jika tidak begitu, ya jadi impor saja terus. Tantangan kita produksi naik, discovery besar. Jadi paling enggak, coba lapangan eksisting diutak-atik. Sebanyak 47% lapangan kita umurnya di atas 25 tahun,” pungkasnya. cnbc/ewindo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.