Home Ekbiz Corporate Kisah Aneh Pertamina Beli 100% Blok B Exxon Mobil Trilyunan Rupiah

Kisah Aneh Pertamina Beli 100% Blok B Exxon Mobil Trilyunan Rupiah

0

ENERGYWORLD – Ada yang menarik dari laman  laporpresiden.id dimana sebuah artikel dari seorang yang pernah kerja di Mobil Oil Indonesia. Dia menulis surat kepada Presiden berikut lengkapnya:

Pertamina Hamburkan Trilyunan Rupiah Beli Blok Migas Yg Tua Dari ExxonMobil

Yth. Bapak Presiden Jokowi,

Saya sangat terkecut dengan baca berita2 link dibawah ini:

1. http://archives.portalsatu.com/ekbis/bulan-depan-pertamina-kuasai-tiga-aset-migas-exxon-di-aceh/.
2.http://jogja.solopos.com/baca/2015/09/20/tata-kelola-migas-exxonmobil-jual-3-aset-ke-pertamina-644579.

Ini karena saya dulu bekerja di Mobil Oil Indonesia, sudah amat berpengalaman dan kebetulan saya yang mengevaluasi, membuat rancangan dan membantu supervisi produksi lapangan Arun dan lapangan South Lhoksukon di Blok “B” dan lapangan NSO “A” di Blok “NSO” (North Sumatra Offshore) 20-30 tahun yang lalu, maka saya menguasai persoalan mengenai blok2 ini.

Lapangan Arun yang terletak di Blok B adalah lapangan yang produksinya gas dan LNG terbesar di Indonesia dan digabungkan dengan produksinya LNG di Bontang menjadikan Indonesia pengekspor LNG terbesar di dunia pada saat 1984-1998.  Sanking besarnya segala biaya pemasangan fasilitas di Lapangan Arun dan di PT. Arun LNG plant sudah dikembalikan ke Mobil Oil Indonesia (sekarang namanya ExxonMobil Oil Indonesia) dalam tempo 5 tahun saja. Sekarang Lapangan Arun sudah tidak produksi lagi. Bagaimanapun, ExxonMobil telah nagih semua uang yang mereka investasikan melalui skema Cost Recovery dari Blok “B” maupun investasi fasilitas di PT. Arun LNG plant.

Blok NSO dengan lapangannya NSO”A” ceritanya lain lagi. Sejak 1983, saya mengikuti NSO”A” & “J’, karena gasnya mengandung H2S, gas racun yang agak tinggi, dan cadangannya hanya 1/8.5 cadangan dari Lapangan Arun. Sedangkan biaya eksplorasi yang telah dipakai oleh Mobil Oil untuk lapangan2 NSO”A” dan “J” jumlahnya amat besar, yakni sikitar US$200 milliar (Rp. 37 trilliun dengan kurs terkini). Kami pada saat 1984-1990an sangat sulit menjustifikasikan pengembangan Lapangan NSO karena keekonomisannya. Cuman jika tidak dikembangkan, Mobil Oil akan rugi US$200 milliar sebagai Sunk Cost menurut aturan Cost Recovery berdasarkan PSC terms Migas Indonesia, akhirnya dengan skenario hanya mengembangkan lapangan NSO”A” saja, dengan keekonomian yang marginal, akhirnya dapat dikembangkan dan produksi di tahun 1998. Jadi lapagan ini dikembangkan dengan tujuan utamanya untuk mengembalikan semua uang/ biaya yang telah dipakai oleh Mobil Oil saat eksplorasi blok “NSO”.

Saya sangat heran sekali, paling lama 2 tahun lebih lagi Blok “B” dan Blok “NSO” sudah 100% jadi milik Indonesia, dan pasti diberikan oleh pemerintah ke Pertamina untuk mengelolakannya. Kenapa Pertamina mau bayar  ExxonMobil Oil Rp. 7 trilliunan atau lebih sekarang untuk membeli blok “B” dan blok “NSO” yg sudah pasti gak ekonomis lagi, karena gasnya di Blok “B” tinggal  “pis” saja, sedangkan blok “NSO” yang cadangan gas sekarang  hanya tinggal  1/19 (seper-sembilan belas) dari cadangan awalnya sebelum diproduksikan???

Maka mohon Bapak Jokowi memperhatikan soal ini, karena Pertamina akan hamburkan Rp. 7 trilliun atau lebih membayar ExxonMobil untuk pembelian Blok2 yang tidak ekonomis dan saham 30% di PT Arun LNG plant, karena bagaimanapun pada tahun 2018, blok2 dan fasilitas di PT Arun yang dimiliki oleh ExxonMobil harus dikembalikan ke  pemerintah Indonesia karena kontrak produksinya sudah berakhir menurut undang2 migas Indonesia.

Salam dan terima kasih,
Hasim Sutanto

 

Surat diatas menarik bahkan pemerhati energi Yusri Usman sontak dengan tahu ada kasus ini sempat mengirim surat juga kepada Kepala SKK Migas yang menyatakan kenapa Pertamina tidak menunggu dua tahun saja. Dan kenapa ada pesetujuan SKK Migas berikut surat Yusri kepada Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi yang juga di CC kesjumlah Direksi Pertamina:

 

Kepada yth Bpk Amin Sunaryadi,

Mohon pencerahaan atas persetujuan SKKMigas kepada Pertamina membeli saham 100 % Exxon Mobil blok B dan NSO Aceh..? Mengapa tdk Pertamina menunggu saja sd thn 2018 kontrak berakhir dan mungkin jauh lbh menhuntungkan.sementara itu mnrt info bahwa ada temuan BPKRI bahwa ada dana restorasi +- U$ 250 juta yg sdh terlanjur terbayarkan kepada Exxon Mobil melalui ” cost recovery” dan smp saat ini belum dikembalikan kepada negara , apakah dgn sdh terjadi transaksi B to B antara Pertamina dgn Exxon Mobil Ltd pd tgl 1 oktober 2015. bahwa kelak biaya restorasi akan menjadi beban dan tg jawab Pertamina ?.mhn tanggapannya.mksh salam Hormat saya Yusri Usman..CC : Direksi Pertamina

Kepada EnergyWorld Yusri secara keras bahkan berkomentar: Sejak Undang-Undang Migas  22 thn 2001 sudah membuktikan kehadiran BP Migas dan sejak November 2012 menjadi SKK Migas lifting migas nasional semakin merosot dan banyak ditemukan praktek-praktek kongkalikong baik dalam menjual migas bagian negara dan kebocoran dalam cost recovery, jelasnya.

Yusri juga menilai bahwa “Sudah selayaknya lah SKKMigas dibubarkan saja dan kembali ke Undang Undang nomor 8 thn thn 71,”ujarnya.

Yusri juga mengatakan bahwa pencerahan yang saya sampaikan ke SKK MIgas dan Pertamina tak ada respon. Tak tahu kenapa?  Bahkan Yusri juga bilang anehnya lagi penerintah Aceh dalam hal ini juga tidak dilibatkan. “Ini sangat aneh, dan terbukti ada suratnya kok dari Gubernur Aceh yang mempertanyakan ini kepada Wapres,” pungkasnya. (RHZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.