Home Dunia Energi Terbarukan dalam Al-Quran dan Sunnah

Energi Terbarukan dalam Al-Quran dan Sunnah

0

EnergyWorld.co.id – Draft kesepakatan Konfrensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim yang digelar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau dikenal dengan Confrence of Parties (COP) ke-21 yang berlangsung sejak 30 November, akan difinalisasi hari ini. Dalam konfrensi tersebut, para ilmuwan memperingatkan betapa bumi semakin panas, planet ini semakin tidak ramah terhadap kehidupan manusia. Air permukaan laut naik, dan sejumlah badai yang dahsyat terjadi, begitu pula kekeringan yang parah.

Draft kesepakatan ini disusun dengan memakan waktu selama empat tahun. Namun sejumlah kalangan masih pesimistis dengan isinya.

Mei Boeve, Direktur Eksekutif 350.org, misalnya menyebut pihaknya sudah menangkap sinyal yang jelas dari pertemuan Paris. “Tetapi beberapa pihak masih mengeruhkan kondisi dengan teks lemah,” katanya dalam lama bisnis.com, kemarin (11/12).

Jika negara-negara itu serius tentang menjaga pemanasan di bawah 1,5° C, katanya, semua perlu komitmen yang kuat soal penurunan penggunaan bahan bakar fosil dan mengarahkan pada 100% energi terbarukan pada 2050.

Meningkatkan penggunaan energi terbarukan menurut dia akan membantu mengurangi terlepasnya emisi karbon ke bumi, sekaligus menahan peningkatan suhu bumi.

Namun tentu saja penggunaan energi terbarukan ini bukan tanpa tantangan. Kita bi

Jika saja ada di antara para penentu kebijakan dari 195 negara yang hadir dalam pertemuan tersebut bersedia menengok sejenak kepada ajaran-ajaran yang diturunkan Sang Pemilik Bumi ini, tentu mereka akan mendapatkan solusi untuk keluar dari masalah global ini.

Misalnya saja dalam kitab suci umat Islam, Al-Quran.  Dalam kitab yang diturunkan pada abad ke-14 kepada Muhammad SAW ini dengan jelas menyebutkan tentang energi terbarukan.

Energi terbarukan ini setidaknya dibahas di tiga tempat, yaitu surat Yaasiin  ayat 80, Surat Al-Waqi’ah ayat 71 dan 72, dan surat An-Nuur ayat35.

Di surat Yaasiin dan Al-Waaqi’ah indikasinya sumber energi itu dari pohon, sedangkan di surat An-Nuur indikasinya dari buah. Maka dari sinilah mestinya fokus pencarian energi terbarukan itu dikejar. Utamakan atau lebih banyak mengejar sumber energi terbarukan dari pohon, karena itulah yang terjadi sejak dahulu, kini dan nanti.

Dahulu orang membakar api langsung dari kayu – yang masih hijau sekalipun (Surat Yaasiin 80). Ulama-ulama dahulu menterjemahkan api dari kayu yang hijau itu – apa adanya, karena memang ada kayu tertentu yang masih hijau-pun bisa dibakar – yaitu kayu Al-Markh dan Al-‘Afar yang tumbuh di Hijaz.

Energi yang paling populer seabad terakhir adalah berupa hydrocarbon, asalnya juga dari pohon tetapi yang telah menjadi fosil dalam proses yang berlangsung jutaan tahun. Tafsir surat Yaasiin tersebut masih valid untuk energi era fosil tersebut.

Yang dimaksud energi terbarukan adalah energi biomassa, biodiesel, bioethanol dan sejenisnya. Semuanya juga bisa dihasilkan oleh pohon kayu yang hijau atau dari buahnya. Lagi-lagi tafsir Al-Qur’an surat Yaasiin 80 tersebut tetap valid untuk era renewable energy.

Kalau kita dalami sedikit mengapa petunjuk Al-Qur’an tersebut bisa valid sepanjang masa, sementara ilmu pengetahuan dan peradaban manusia silih berganti ? Ini adalah bukti bahwa Al-Qur’an datangnya dari Yang Maha Tahu, dia membahas sesuatu yang hak sepanjang jaman.

Perhatikan misalnya bukti ilmiahnya yang terkait dengan energi tersebut. Ketika orang Arab Badui menggesekkan kayu Markh dan kayu ‘Afar untuk menghasilkan api  – demikian para mufassirin menjelaskan tafsir surat Yaasiin tersebut – bahan yang digesek tersebut intinya adalah biomassa, mayoritasnya berupa cellulose dengan rumus kimia C6H10O5 (n).

Seabad terakhir bahan bakar kita adalah hydrocarbon dari fosil seperti bensin, diesel dan sejenisnya, rumus kimianya secara umum adalah CnH2n+2. Ketika manusia membuat energi terbarukan berupa bioethanol ataupun biodiesel dari tanaman, formulasi kimianya tetap mirip yaitu antara lain C2H6O untuk bioethanol dan C19H36O2 untuk biodiesel.

Lihat persamaan antara formula-formula tersebut diatas, bentuk bisa berubah – tetapi unsur dasar dari bahan bakar, kayu, fosil maupun biofuel tetap sama yaitu untur-unsur Carbon (C) dan Hydrogen (H). Yang berbeda hanya unsur Oksigen (O) yang tidak terdapat pada bahan bakar fosil – karena proses kayu menjadi fosil yang berjalan jutaan tahun adalah secara anaerob di bawah tanah.

Maka dengan formula dasar CHO inilah kita bisa mengkutak –katik segala sumber energi terbarukan dari pohon atau tanaman. Termasuk dari buah – buahan yang mengandung karbohidrat atau pati yang unsur kimia dasarnya sama juga dengan Cellulose tersebut diatas C6H10O5, hanya bentuk molekulnya saja yang berbeda.

Karena energi atau bahan bakar bisa juga dibuat dari bahan makanan yang mengandung karbohidrat, pati atau minyak tersebut, maka sangat mungkin terjadi konfik antara kebutuhan pangan dan kebutuhan energi.

Mana yang didahulukan bila ini terjadi?

Untuk inilah kita perlu contoh soal bagaimana mengatasinya bila konflik demikian muncul. Dan contoh soal ini sudah sempurna turun ke kita melalui uswatun hasanah kita, termasuk contoh soal yang long anticipated – konflik pangan dan energi ini. Hadis berikut menjadi panduannya.

Dari  Aisyah RA, dia berkata, “Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar (ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami di malam hari, lalu aku tidak makan, dan beliau (Nabi) juga tidak makan karena kami tidak punya lampu. Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.” (HR. Ahmad).

Diriwayat lain dari Abu Hurairah RA, “Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun rumah-rumah Rasulullah tidak ada satu haripun yang berlampu. Dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan.”

Maka dengan petunjuk Al-Qur’an yang sangat luas tersebut di atas, dilengkapi dengan contoh soal untuk mengatasi bila terjadi konflik kepentingan antara pangan dan energi – umat ini mestinya bisa secara leluasa meng-eksplorasi berbagai sumber energi terbarukan itu , tanpa harus kawatir akan mengorbankan kepentingan yang lebih besar yaitu masalah pangan. (Maia/gd.c)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.