Home Energy MENGAPA BEGITU SULIT MENGGANTI ARCHANDRA TAHAR

MENGAPA BEGITU SULIT MENGGANTI ARCHANDRA TAHAR

0
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdianand Hutahaean

MENGAPA BEGITU SULIT MENGGANTI ARCHANDRA TAHAR?

Oleh  : Ferdinand Hutahaean

Sepekan sudah Archandra Tahar sang Menteri ESDM yang diangkat Jokowi menggantikan Sudirman Said diberhentikan dari posisinya setelah 20 hari menjadi Menteri ESDM. *Archandra Tahar diberhentikan karena yang bersangkutan telah berstatus warga negara Amerika* dan hal tersebut melanggar banyak UU yang berlaku di negara ini. Pertanyaan yang menggelitik rasionalitas kita adalah *MENGAPA BEGITU SULIT MENGGANTI ARCHANDRA  TAHAR?*

Entah apa yang dipikirkan dan dirancang oleh presiden terkait jabatan Menteri ESDM. Saya jadi berpikir bahwa *Presiden tidak serius mengurus bangsa*. Kalau presiden serius, tidak mungkin membiarkan kursi Menteri berlama-lama kosong dan dijabat oleh PLT. Posisi Menteri ESDM sangat vital bagi keberlangsungan bangsa. *Presiden mestinya sudah seharusnya menyadari bahwa kondisi bangsa kita sudah berada dibibir kondisi darurat Energi dan Sumber Daya Mineral*. Masalah realisasi pembangunan listrik 35 GW, RUU MIGAS, menipisnya cadangan minyak bumi, penyediaan energi masa depan dan kontrak-kontrak karya SDA yang akan berakhir adalah masalah krusial dan pokok yang perlu penanganan segera dan cepat. Masalah ini jika tidak segera ditangani dan diurus secara benar, maka jangan salahkan publik kalau menuding Presiden adalah penyebab kegagalan itu semua.

Berkembangnya isu terutama yang ditiupkan oleh Menko Maritim bahwa seolah-olah Archandra Tahar akan balik lagi menjadi Menteri ESDM adalah bentuk ketidak pahaman rejim ini menunaikan tugas dan kewajibannya. *Pemerintah itu bertugas untuk menyelenggarakan negara bukan sekedar mengangkat seseorang jadi pejabat*. Seakan-akan pemerintah tugasnya hanya jadi EO pemilihan pejabat tanpa berpikir bagaimana menyelesaikan masalah. *Jika memilih pejabat saja butuh waktu lama, apakah mungkin rejim ini akan mampu atasi masalah?* Saya tentu ragu dengan kemampuan rejim ini mengemban amanah rakyat untuk mensejahterakan bangsa. Melaksanakan tugas mudah saja lambat, bagaimana mau bekerja cepat?

Presiden harus bertindak cepat dalam menentukan posisi menteri. Keberadaan PLT Menteri ESDM yang saat ini dijabat oleh Menko Maritim Luhut Panjaitan tidak boleh dibiarkan berlama-lama. *Posisi Luhut akan menimbulkan konflik kepentingan karena semua tau bahwa Luhut Panjaitan punya usaha disektor Energi dan Minerba*.  Ini tidak boleh dibiarkan karena berpotensi disalah gunakan. Kemudian bahwa PLT tidak boleh mengambil kebijakan strategis tentu akan memperlambat bahkan menghambat pencarian solusi bagi masalah sektor ESDM ini. Dan tentu itu akan menambah kerusakan bagi negara.

Negara ini punya banyak putera puteri yang mampu jadi Menteri ESDM. Banyak yang layak untuk menjabat menteri ESDM dan punya jiwa nasionalisme. Saran saya kepada Presiden agar tidak berpikir lagi mendudukkan Archandra Tahar sebagai menteri. Alasan pintar tidaklah cukup untuk mempertaruhkan masa depan bangsa ini, apalagi klaim pintar yang belum tentu hebat bagi orang lain. Saya pikir minggu ini Presiden sudah harus memutuskan pengganti Archandra Tahar. Kecepatan presiden akan menjadi tolok ukur kemampuan presiden dalam memimpin bangsa ini. Begitu banyak masalah yang harus segera ditangani, jangan biarkan bangsa menuju kehancuran karena sebuah kesalahan yang tidak perlu terjadi.

Jakarta,  24 Agustus 2016