Home Energy Dinamika dan Realitas Energi Nasional (Bagian 2)

Dinamika dan Realitas Energi Nasional (Bagian 2)

0
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2016/ilustrasi

Perkembangan Ekonomi

Energi mempunyai peran penting dan strategis untuk pencapaian tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan pembangunan nasional. Sektor energi terus memberikan kontribusi besar dalam pembangunan Indonesia. Kegiatan industri energi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Indonesia.

Perkembangan energi di Indonesia dari sektor konsumsi energi terus mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Laju rata-rata pertumbuhan penduduk Indonesia dari tahun 2010 hingga 2014 mencapai 1,4%. Jika diproyeksikan hingga tahun 2035 penduduk indonesia mencapai 305.652.400.000 jiwa.

Dari sektor produktivitas energi indonesia dapat diukur dari perbandingan antara PDB dengan pasokan energi primer. Penggunaan energi akan lebih efisien apabila produktivitas energi semakin meningkat, intensitas energi mengalami penurunan dan nilai elastisitas energi yang dicapai kurang dari 1. Pada tahun 2012, PDB Indonesia sebesar Rp 2.618 triliun dan meningkat pada tahun 2013 menjadi Rp 2.770 trilliun. Suplai energi primer Indonesia pada tahun 2012 adalah 1,285 triliun TOE dan meningkat pada tahun 2013 menjadi 1,328 triliun TOE. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan produktivitas energi dari 2.036,24 rupiah/TOE menjadi 2.085,07 rupiah/TOE.

Berdasarkan data World Bank tahun 2015, perbandingan PDB per konsumsi energi Indonesia adalah 10,94 lebih tinggi dari Jepang (10,04) dan China (5,23) dengan satuan USD/kg oil equivalent. Sementara berdasarkan pengelompokan di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat ke-3 dibawah Singapura (16,32) dan Filipina (13,88).

Pada sektor ekonomi Indonesia pada tahun 2016, pertumbuhan meningkat dimulai kuartal I (4,92%), kuartal II (5,18%) dan mengalami penurunan kuartal III (5,04%) (Gambar 2). Pada kuartal I dan kuartal II mengalami peningkatan karena didorong oleh perilaku konsumen dan belanja negara lewat pembangunan infrastruktur. Selain hal tersebut, harga komodiiti global yang membaik juga mendorong kenaikan pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal III mengalami penurunan karena kondisi ekonomi dunia pada kuartal III masih belum stabil dengan tingkat pertumbuhan yang tidak merata.

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,1% pada tahun 2016 dan 5,3% pada 2017 – tidak berubah dari proyeksi Indonesia Economic Quarterly edisi Maret 2016. Konsumsi masyarakat diperkirakan akan lebih kuat. Pertumbuhan akan bergantung pada investasi swasta, yang menyambut baik serangkaian paket kebijakan ekonomi.

Untuk mempercepat pertumbuhan, Indonesia harus mengandalkan perluasan ruang fiskal dalam jangka pendek, sambil memperkenalkan reformasi untuk memfasilitasi investasi dan mengurangi biaya berusaha untuk jangka menengah. Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2017 akan melambat sebab perekonomian nasional harus menghadapi kondisi global yang semakin kompleks dan berbagai tantangan dari domestik.

Dengan kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini, kebutuhan energi Indonesia terus dipacu agar dapat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Kebutuhan energi juga harus mengikuti laju perkembangan PDB nasional karena PDB dibentuk dari sektor-sektor pengguna energi, seperti sektor industri, transportasi, rumah tangga, komersial, dan lainnya. Oleh karena itu, perubahan asumsi laju pertumbuhan PDB baik untuk skenario dasar maupun skenario tinggi akan memberikan perbedaan pada proyeksi pemakaian energi final.

Pada skenario dasar RUEN, laju pertumbuhan PDB rata-rata 6% per tahun akan mendorong kebutuhan energi tahun 2050 menjadi 5,8 kali dari tingkat kebutuhan pada tahun 2014. Untuk skenario tinggi dengan laju pertumbuhan PDB rata-rata 6,9% per tahun, kebutuhan energi pada tahun 2050 naik menjadi 7,6 kali lipat terhadap kebutuhan energi tahun 2014.

Bahan bakar minyak (bensin, minyak solar, minyak bakar, minyak tanah dan avtur) masih mendominasi kebutuhan energi nasional dengan pangsa 31,5% pada tahun 2014, kemudian di tahun 2050 meningkat menjadi 40,7% untuk skenario dasar dan 42,5% untuk skenario tinggi. Hal ini terjadi karena penggunaan teknologi peralatan berbahan bakar BBM masih lebih efsien dibandingkan peralatan lainnya, terutama di sektor transportasi. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.