Home BUMN BBM, Jokowi dan SBY

BBM, Jokowi dan SBY

0

ENERGYWORLDINDONESIA – Ramai Tagar Tentu Saya Bisa Jelaskan Lalu tagar #SBYJelaskan di lini masa Twitter. Berawal dari Disindir soal harga BBM yang dilempar Jokowi Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sepertinya geram mendengar sindiran Presiden Joko “Jokowi” Widodo soal subsidi BBM.

Saling sindir ini pentingkah? Atau hanya retorika saja di elit tingkat dewa. Rakyat sih tetap harus menerima kenyataan pahit. Alkisah Presiden Jokowi menyebut subsidi BBM di masa SBY Rp 300 triliun disindir Jokowi soal harga BBM dalam pidatonya di sebuah acara, Presiden Jokowi menyinggung masalah kebijakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) di eranya sebesar Rp 800 miliar untuk membuat harga BBM di Papua murah. Lalu kata Jokowi ada yang menyampaikan ke saya ‘Pak presiden, Rp 800 miliar itu duit gede lho, masa Pertamina disuruh merugi’. Gak, gak rugi. Pertamina tahun ini untungnya lebih dari Rp 40 triliun. Kurangi Rp 800 miliar aja rame, lanjut Jokowi.

Tak hanya itu Jokowi kemudian menyinggung masalah alokasi dana subsidi BBM di era SBY yang mencapai Rp 300 triliun. “Dulu subsidi BBM Rp 300 triliun diem semuanya. Ini Rp 800 miliar aja rame. Ya kan? Ya kita harus ngomong fair. Mentang-mentang yang di Papua diem, kita beri harga Rp 60 ribu, 70 ribu terus. Ya gak?” sindir Jokowi.

Sondak perang twitter pun terjadi maka SBY tak terima dan munculah tentu Saya Bisa Jelaskan balasan itu disampaikan lewat akun twitternya. Awalnya SBY menulis jika dirinya sudah mendengar pernyataan Jokowi tentang subsidi BBM di masa kepemimpinannya. “Pak Jokowi intinya mengritik dan menyalahkan kebijakan subsidi untuk rakyat dan kebijakan harga BBM, yang berlaku di era pemerintahan saya,” tulis SBY di twitternya. Kemudian, SBY meminta para mantan menteri dan pejabat di pemerintahannya untuk bersabar menerima sindiran Jokowi tersebut. Ia pun mengungkapkan jika dirinya bisa memberikan penjelasan tentang kebijakannya mengalokasikan Rp 300 triliun untuk mensubsidi BBM. Jangan Gunakan Aksi Teror untuk Kepentingan Politik “Tentu saya bisa jelaskan. Tapi tak perlu dan tak baik di mata rakyat. Apalagi saat ini kita tengah menghadapi masalah keamanan, politik, dan ekonomi,” ungkapnya.

“Justru kita harus bersatu padu. Juga makin rukun. Jangan malah cekcok dan beri contoh yang tak baik kepada rakyat. Malu kita,” sindir SBY.

Saling jawab mantan presiden dan Presiden zaman now ini mendapat tanggapan banyak netizen, beragam komentar disampaikan, namun saya hanya ingin mengatakan kenapa ini harus jadi tontonan murahan soal saling serang elit politik besar bangsa ini.

Ada banyak hal lain yang lebih penting dari soal ini. Dan janganlah merasa paling hebat dan merasa paling berjasa, bukannya semua untuk rakyat. Mau apa sebenarnya atau hanya ingin pujian sekadar mengibuli imajinasi rakyat? Toh kenyataannya rakyat akan selalu jadi korban soal BBM ini Mau naik atau gimana pun rakyat kan akan tetap dipaksa untuk beli. Ada subsidi atau tidak rakyat perlu BBM dan kenyataannya adalah benar adanya.

Seandaikan dua tokoh yang satu presiden dan mantan ini tak usah usik-usik hal yang bikin energi terkuras dalam perdebatan yang membuat korbannya adalah tetap rakyat tentu lebih baik. Dan pemimpin yang satu jangan suka ungkit-ungkit masa lalu, lalu yang lama juga jika harus bikin pembelaan saya kira sudah terlambat. Karena toh lagi-lagi rakyat hanya bisa isapan jari saja. Tak merubah apa yang telah terjadi. Akhirnya marilah bijak dan bangun kepercayaan bagi rakyat itu dengan cerdas, Energi Fosil kita Minyak Bumi, Gas Alam  dan Batubara juga sebagian sudah bukan punya kita lagi, karena terikat kontrak  karya dengan asing semua. Awal tahun ini Total di Blok Mahakam dan dikembalikan ke NOC artinya Pertamina harusnya jalankan juga tak bisa jalan sendiri.

Jadi baiknya bangsa ini bersatu bangun kepercayaan agar rakyat bisa merasakan hasil bumi ini jangan apa-apa impor. Gitu saja. |TR – BDI 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.