Home Ekbiz Corporate KEPUTUSAN PEMERINTAH PERPANJANGAN BLOK CORRIDOR TIDAK TEPAT (BAGIAN 3)

KEPUTUSAN PEMERINTAH PERPANJANGAN BLOK CORRIDOR TIDAK TEPAT (BAGIAN 3)

0

ENERGYWORLD.CO.ID – Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Banyumas kecewa berat atas keputusan Pemerintah terkait perpanjangan kontrak pengelolaan Blok Corridor kepada kontraktor eksisting, yaitu ConocoPhillips sebesar 46% untuk 20 tahun kedepan mulai tahun 2023 yang dikeluarkan melalui Siaran Pers Nomor : 463. Pers/04/SJI/2019. Partisipasi interes lainnya yaitu Talisman Corridor Ltd. (Repsol) sebesar 24% dan PT Pertamina Hulu Energi Corridor hanya sebesar 30% saja. Blok Corridor sendiri merupakan blok migas terbesar ketiga di Indonesia setelah Proyek Tangguh dan Blok Mahakam. Hingga akhir Juni 2019, realisasi lifting gas dari Blok Corridor tercatat sebesar 827 juta kaki kubik per hari.

Kontrak awal Blok Corridor disepakati tanggal 21 Desember 1983 dengan tiga kontraktor kontrak kerjasama (KKKS), yaitu ConocoPhillips (54%), Talisman (36%) dan Pertamina (10%). Kontrak blok migas tersebut akan berakhir pada 19 Desember 2023.

Keputusan perpanjangan kontrak tersebut telah melanggar Permen ESDM No. 15 Tahun 2015 setelah Permen ESDM No. 23 Tahun 2018 dibatalkan oleh Mahkamah Agung pada November 2018.

Maka semua kebijakan Kementerian ESDM seharusnya berpedoman pada Permen ESDM No. 30 Tahun 2016 dan Permen ESDM No. 15 Tahun 2015 yang memberikan Hak Istimewa kepada Pertamina untuk menjadi Operator Blok Migas yang akan berakhir kontrak kerja samanya.

Selain itu Pemerintah seharusnya juga mempertimbangkan alasan-alasan mengapa Pertamina 100% dalam pengelolaan blok migas terminasi antara lain yaitu:

  1. Memperbesar kontribusi NOC (National Oil Company) dalam produksi migas nasional sehingga meningkatkan ketahanan dan kedaulatan energi nasional;
  2. Pertamina merupakan BUMN, yang bermakna 100% keuntungannya masuk ke negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (amanat Pasal 33 ayat 3 UUD 1945);
  3. Pertamina sudah terbukti dan sudah berpengalaman dalam mengelola blok di onshore maupun offshore hasil alih kelola sebelumnya, bahkan mampu meningkatkan produksi migas di blok-blok yang bersangkutan.

“Keputusan ini juga akan berakibat menyandera Pertamina dalam pengelolaan Blok Rokan, dikarenakan ketergantungan supply gas dari Blok Corridor, dimana supply gas tersebut amat vital dalam operasional Blok Rokan dan Kilang Dumai. Saat ini Blok Corridor menyumbang sekitar 17% dari total produksi gas di Indonesia, tercatat hingga April 2019, produksi gas,”ujar ketua Dewan Energi Mahasiswa Banyumas., Rosyid Ridlo Al-Hakim NIA.

 

(BERSAMBUNG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.