Home BUMN Jakarta Blackout, Siapa Harus Mundur?

Jakarta Blackout, Siapa Harus Mundur?

0
Istimewa
PLN, Gedung Kantor Pusat

Ketika peristiwa penggelapan listrik oleh PLN baru-baru ini membuat banyak pertanyaan di kepala masyarakat, ke mana kontigensi plan ketahanan energi nasional itu.

Ternyata tidak ada. Kontigensi plan adalah sebuah escape plan tindakan alternatif yang harus dilakukan ketika sebuah bencana terjadi.

Ada lagi yang lebih mengejutkan adalah mengapa Pak Presiden langsung yang turun ke bawah?

Mengapa tidak menterinya yang pasang badan. Setidaknya mengatakan biar saja Pak saya yang turun tangan Pak, tidak usah Bapak. Eh ini nggak ada lho. Bener deh.

Mau menterinya atau menkonya, sama sekali nggak ada nongol batang hidungnya. Tidak pasang badan untuk presidennya. Padahal mereka itu pembantu presiden yang harusnya bertanggung jawab. Hingga saat ini pun tidak ada pernyataan apapun dari pejabat atasan tersebut. Tidak ada tindakan nyata.

Banyak yang berharap pejabat kita punya budaya malu. Sayang tidak ada budaya malu tersebut. Sudah hilang akar budaya tersebut. Pejabat atau menteri terkait harusnya dengan sigap pasang badan, bahkan berani mengatakan saya yang selesaikan Pak, saya siap mundur jika gagal, ini strategi saya, ini kontigensi plannya Pak, ini alternatifnya Pak, ini cara mengcover kerugiannya Pak, bukan malah membiarkan presidennya turun langsung dan dia adem-adem bae di belakang nyengar-nyengir. Kasian presiden kita. Kalau dulu ada Sesdalobang, Sekretaris Presiden bidang Pengendalian Pembangunan di jamannya Orba, semacam inspekturnya presiden yang mengontrol kerja para menteri.

Sesdalobang adalah mata presiden, mulutnya presiden, tangannya presiden untuk nyentil para menteri yang tidak perform. Dulu Pak Solihin GP pernah di sana, Pak Hendropriyono pernah di sana. Mereka itu adalah figure yang tegas. Posisinya sejajar kepala staf kantor kepresidenan.

Sebelum terjadi Sesdalobang sudah tanya dan mempertanyakan apa kontigensi plan di setiap kementerian? Dan bisa nyentil menteri atau meluruskan sebelum “shit happen”. Kalau begini mendingan menterinya orang partai kali, karena apa? Karena ketumnya bisa menyentil, struktur atasannya bisa menyentil dan ngamplengi.

Kalau profesional yang kerja tanpa Sesdalobang lagi, maka banyak kementerian yang tidak ada yang mengontrol. Sampai presiden sendiri turun tangan. Kemarin presiden turun tangan ke PLN dan saya melihatnya juga malu banget. Asli malu banget saya. Kasian Pak Jokowi beliau ini presiden. PLN itu corporate. Korporasi itu jauh di bawah jabatan politis dirinya dan kementerian. Namun beliau ke bawah turun langsung dan tidak mendapat jawaban yang memuaskan lagi.

Malu harusnya kementeriannya. Malu harusnya menkonya. Sampai sekarang permintaan maaf aja tidak ada dari Kementerian. Blas sama sekali tidak ada pernyataan. Ibukota lho yang padam. Waktunya lama lagi.

Sekali lagi, ibukota yang padam di jaman modern begini tanpa kontigensi plan, yang bener aja. Di mana sense of crisis para pejabat terkait ya. Masa presidennya yang harus turun. Masa apa-apa presiden.

Di mana sense of responsibility-nya wahai Anda para pejabat? Kasihan Pak Presiden. Ke depan jangan sampai terulang lagi ya.

Wahai para pembantu presiden kami tunggu ucapan maaf dan strategi kontigensi plan untuk semua bidang. Rakyat membayar pajak meminta pertanggungan jawab Anda semua lho ya. Jangan nesu kalau diingetin kayak gini. Kita cuma saling mengingatkan saja. Boleh dong.

By Mardigu WP

silakan simak Videonya: https://www.facebook.com/305415055267/posts/10162509556455268?s=1320594603&v=e&sfns=mo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.