Home BUMN Bagaimana Menghitung Kuota Impor, PLT Dirjen Migas ini Absurd…

Bagaimana Menghitung Kuota Impor, PLT Dirjen Migas ini Absurd…

0
Djoko Siswanto dalam sebuah private jet /ist

ENERGYWORLD –  Sejumlah media menulis banyak soal opeparan Plt Dirjen Migas yang mengeluarkan pernyataan janggal. Pemotongan Kuota Impor Minyak Mentah 8.000 Barel per Hari Disebut Total 30 Juta Barel per Tahun.

Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas), Djoko Siswanto mengeluarkan pernyataan tidak masuk akal. Ia mengutarakan ke sejumlah awak media, bahwa ada pengurangan impor minyak mentah oleh Pertamina tahun ini.

“Impor crude-nya Pertamina saya kurangi jadi 8.000 barel per hari selama 2020. Sekitar 30 juta barel dalam setahun (pengurangannya),” kata Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto kepada wartawan di Gedung Migas, Jakarta, Selasa (14/1/2020) .

Judul yang nyaris seragam itu berbunyi ESDM Pangkas Kuota Impor Minyak Mentah 30 Juta Barel pada 2020. Media hampir semua sama. Dengan melansir angka pemangkasan impor minyak mentah oleh Pertamina tersebut inin seperti ada hal janggal.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman melihat kejanggalan pernyataan Dirjen Migas terkait besaran pemotongan impor minyak mentah oleh Pertamina itu.

“Kok bisa ya, sudah jadi pejabat tinggi kok bicara dulu baru mikir belakangan. Karena kalau hitung-hitungan simpel saja masih salah hitung ya, gimana kalau hitungan rumit terkait biaya proyek besar dan keekonomian lapangan. Bisa salah hitung dan dibohongin kontraktor terus pejabat Migas kita,” ungkap Yusri kepada Redaksi, Kamis (16/1/2020).

Hitungan sederhana kan bisa dilihat, begini ya jika pemotongan impor sebesar 8.000 barel per hari, maka dalam satu tahun saja paling banyak sejumlah 365 hari, maka sepanjang tahun 2020, jumlah pemotongan impor tersebut hanya 2.9 juta barel dalam setahun. “Aneh kalau dikatakan angka 30 juta barel tidak import itu darimana datangnya,” tanya Yusri.

Djoko Siswanto pernah menjabar Dirjen Migas yang diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional merangkap iya sejak Juli masih menjadi Pelaksana Tugas Dirjen Migas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan resmi memberhentikan Djoko Siswanto dari posisi Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas). Djoko dipindah tugaskan menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN). Pemberhentian Djoko berdasarkan Keputusan Presiden RI 45/TPA/2019 tentang penghentian jabatan di lingkungan ESDM. Jonan menyatakan jabatan Dirjen Migas segera dilelang. “Saya sudah katakan pada Pak Sekjen, besok memulai lelang jabatan dirjen migas,” kata dia di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (12/7/2019). Namun peran Dirjen juga nampak masih dipegang Djoko meski hanya PLT. Karena anehnya sampai kini omongan yang Dirjen Migas yang akan dilelang belum muncul.

Nama DJoko Siswanto juga pernah disebut tergerus kasus Petrosea yang diduga dicurigai atas tender Shorbase saat dia di SKK Migas.

Bahkan CBA pernah menyatakan proses tender yang berbau busuk ini mestinya dibuka selebar mungkin dan bahkan penyidikan aparat hokum harus membuka kasus dugaan korupsinya.

Untuk itu pihaknya meminta KPK, kejaksaan atau Kepolisian agar melakukan menyeret yang terlibat Orang yang bertangggungjawab dan dan juga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). “Kami dari CBA meminta kepada aparat hukum untuk segera membuka kasus yang merugikan Negara ratusan milyar ini,” kata Uchok.

Sayang kan Djoko Siswanto yang kariernya moncer diberbagai posisi yang pernah dijabat Djoko Siswanto sebagai ; Anggota Pokja Direktorat BBM BPH Migas , 2004-2008 Direktur BBM BPH Migas, 2011-2013 Sekretaris BPH Migas, 2013-2015 Direktur Gas Bumi BPH Migas , 2014-2015 Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM, 2015-2016 Deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas, 2018-2018 Data lain bahwa posisi strategis di atas, Djoko juga memiliki peran penting dalam membongkar praktik mafia migas dengan bergabung dalam Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang digawangi oleh Faisal Basri ketika Sudirman Said masih menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Nah untuk kasus Petrosea silakan klik: ADA BAU BUSUK DI TENDER SHOREBASE PETROSEA ITU…. (Bagian 6 TAMAT)

Menurut Yusri lagi bahwa apa hubungannya kata Dirjen Migas pengurangan impor minyak mentah dengan menggunakan B30, karena implementasi Biodisel ( B30 ) itu percampuran solar reguler hasil kilang Pertamina 70% dengan Fame 30%, bahkan dengan B20 saja kilang Pertamina sudah kelebihan produksi solar reguler.

“Maka dengan B30 tentu lebih besar kelebihan solar reguler, dengan kualitas solar yang kurang bagus dengan standar masih dibawah Euro2, negara mana yang mau beli, kalaupun ada ya jual rugilah” tandas Yusri. |AT/EWINDO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.