Home Energy Bangsa Bahari Itulah Kita

Bangsa Bahari Itulah Kita

0
ilustrasi

ENERGYWORLDINDONESIA – Bentuk negara yang kepulauan tentu saja merupakan alasan mengapa transportasi laut merupakan satu-satunya pilihan kala itu, Bayangkan dari Jawa ke Sumatera saja harus berlayar belum lagi ke berbagai pulau yang letaknya jauh. Dikisahkan Sriwijaya adalah kerajaan dengan armada maritim yang sangat kuat, itupun didapat dari catatan I Tsing sang Pendeta China.

Diketahui kepercayaan masyarakat Indonesia adalah Animisme dan Dinamisme hingga akhirnya Budha dan Hindu masuk sebagai agama ke Indonesia nah agama baru ini masuk ke Indonesia melalui hubungan dagang dengan India dan China. Dan ini juga karena terbentuknya Jalur Sutera di abad ke 2 sebelum Masehi.

Rute Jalur Sutera maritim sendiri menghubungkan China, Asia Tenggara, anak benua India, semenanjung Arab, Somalia, Mesir dan Eropa. Dan ini merupakan paradoks karena India dan China adalah bangsa darat, dan menurut Profesor Oliver Wolter dalam bukunya “India dan China memiliki sedikit tradisi tentang berlayar. Kapal-kapal mereka hanya menyusuri pantai dan sungai. Bahwa dalam hal hubungan perdagangan melalui laut antara Indonesia dan China – juga antara china dan India Selatan serta Persia – pada abad ke V – VII, terdapat indikasi bahwa bangsa China hanya mengenal pengiriman barang oleh Bangsa Indonesia.”

Dalam epik Ramayana dikisahkan saat Sri Rama menyeberang ke Alengka (Srilanka) ia membuat jembatan, bukan berlayar. Kenapa? Karena lautan merupakan tempat kotor yang harus dihindari dan pegunungan harus dicapai karena makin tinggi disitu tempat bersemayam para Dewa (Mahameru). Adapun mengenai penyebaran Hindu di Indonesia dibawa oleh para Brahmana padahal Menurut ajaran Hindu kuno; seorang Brahmana dilarang untuk menyeberangi lautan apalagi meninggalkan tanah airnya. Jika ia melakukan hal tersebut maka dia akan kehilangan hak akan kastanya. Lalu dari mana asal penyebaran Hindu di tanah air? Jawabannya tentu saja dari para pelaut Indonesia. Dan China sendiri saat itu percaya akan kutukan Raja Naga Laut Timur hingga abad 10 mereka memulai abad maritim dibawah dinasti Tsung (Song).

Jauh sebelum itu seorang Etnografer asal Inggris James Hornell mengatakan “Orang Austronesia (Nusantara) sudah berkeliaran dan membangun koloni di Srilangka dan India 500 tahun sebelum Masehi. Jejak-jejak mereka ditemukan dalam bentuk lukisan-lukisan kapal bercadik dan kepercayaan orang-orang Srilangka tentang keberadaan suku naga di masa lampau. Pun ahli sejarah Arab Goerge F. Hourani dalam bukunya Arab Seafaring menulis “Orang Arab sudah mengarungi lautan-lautan di sekitar India sejak sebelum masehi. Tetapi keberadaan mereka di sana terlambat jika dibanding para pelayar dari Nusantara yang memiliki kapal dan sistem navigasi yang lebih baik.” Lebih jauh lagi ia berpendapat bahwa bentuk kapal layar Nusantara sangat mempengaruhi bentuk-bentuk kapal di seluruh dunia.

Wan Chan dalam buku Kunlun and Kunlun Slaves as Buddhists in the Eyes of Tang chinese mencatatkan Tentang kapal dagang berukuran besar dari Nusantara yang berlabuh di China dengan empat layar sudah ditulis oleh para Sarjana sejak dinasti Han (206 SM – 220 M). Orang-orang China menyebutnya Kunlun Po “ Kapal dari orang Kunlun berkulit gelap. Kapal-kapal itu juga biasanya digunakan peziarah Budah untuk melakukan perjalanan pulang pergi China-India-Srilangka.

Tak ketinggalan Robert Dick-Read dalam bukunya Perjalanan Bahari, menuliskan bahwa saat dia ke Madagaskar dia mendapati banyak kesamaaan bahasa Madagaskar dan bahasa-bahasa di Indonesia, tak Cuma itu alat musik (kolintang), rumah di sana yang mirip rumah joglo dan Kuliner. Lalau Dick mengadakan serangkain wawancara dengan penduduk setempat apakah mereka mengetahui tentang indonesia? Mereka menjawab bahwa mereka keturunan Nusantara. Dan mereka merantau ke sana pada zaman kerajaan Sriwijaya. Lebih lanjut lagi disampaikan bahwa pelayar nusantara tak hanya ke Madagaskar tapi juga ke seluruh dunia. Ia berhipotesa bahwa Hawaii ditemukan oleh orang Jawa, mengacu penamaan pulau eksotik tersebut sebagai Jawa kecil di mana pengejaan Spanyol hurup J sering dilafalkan sebagai H misalnya Julio dibaca Hulio, jadi Hawaii adalah Jawa II.

Sisa-sisa kejayaan Maritim Indonesia ada di Makassar yang terkenal dengan kapal Phinisinya pada tahun 1700-an pelaut Bugis ini berlayar ke Australia dan mereka berniaga dengan suku Aborigin, mereka mencari Tripang untuk dijual di nusantara. Uniknya bangsa kita yang adiluhung ini memilih berniaga dengan mereka tidak menjajah. Karena suku Aborigin belum mengenal uang maka metode pergangan dilakukan dengan Barter. Ini dapat ditemui di berbgaia karya seni orang Aborigin berupa lukisan orang Makassar di perahu dan familiarnya kata Makassan sebagai bangsa Suku Makassar yang merupakan mitra dagang lama mereka. Hubungan ini berakhir ketika tahun 1900-an Australia diduduki Inggris, karena tiap kapal Makassar hendak berlabuh ke Darwin dicegat dan dimintai pajak. Akhir yang tragis bukan juga bagi bangsa Aborigin tapi juga bagi Sejarah Maritim Nusantara.

Lebih tragis lagi bangsa kita hanya sedikit memiliki catatan sejarah akan kejayaan bahari ini, justru kita hanya mendapatkannya dari tulisan bangsa lain.

Bandung, 12 Juni 2020

OLEH Edri Paduka Prapanca

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.