Home CATATAN #ENERGYWORLDINDONESIA Hengkangnya Shell dan Kontroversi LNG Laut/Darat Masela

Hengkangnya Shell dan Kontroversi LNG Laut/Darat Masela

0
Blok Masela/ Istimewa

Yoga P. Suprapto

20 lebih banyak dari 15, semua orang tahu. 20 ayam lebih banyak dari 15 ayam, itu sudah pasti. 20 ayam pasti lebih mahal dari 15 ayam. Ya iya lah. Eh.. tunggu dulu, tergantung ayam yang 15 itu ayam apa dulu.

Kalau itu ayam pelung atau ayam cemani, bisa jadi 15 ayam lebih mahal yang 20. Kurang lebih itulah yang terjadi pada kontroversi mana yang lebih mahal atau lebih murah LNG darat atau LNG laut Masela.

Persepsi yang ada di masyarakat saat ini dan beredar di media, termasuk juga media internasional berbahasa Inggris adalah bahwa “biaya Kilang LNG darat Masela yang 20 Milyar dolar Amerika itu 5 Milyar dolar lebih mahal dibanding biaya FLNG Masela yang 15 Milyar dolar Amerika. Dan itu membuat Shell hengkang dari Masela”.

Mari kita telisik darimana angka 20, 5 dan 15 itu muncul. Dengan sedikit perhitungan sederhana dan penyamaan dasar dan rujukan perhitungan tidak sulit untuk membuktikan bahwa LNG darat jauh lebih murah dari kilang LNG terapung di Masela. Seperti soal ayam diatas. Soal Shell hengkang dari Masela itu hal lain lagi.

20 Milyar dolar Amerika itu angka resmi dari POD (Plan of Development) LNG darat Masela dengan kapasitas 9.5 juta ton/tahun yang disampaikan oleh Inpex dan disetujui oleh SKKMigas, tahun 2019. 15 Milyar dolar Amerika itu angka resmi dari POD (Plan of Development) FLNG Masela dengan kapasitas 7.5 juta ton/tahun yang disampaikan oleh Inpex dan disetujui oleh SKKMigas, tahun 2016. 5 Milyar dolar tentu selisihnya, 20 dikurang 15. Jadi LNG Darat Masela 5 Milyar dolar Amerika lebih mahal dari LNGLaut/Terapung Masela.

Gampang, sederhana, jelas dan… salah..!
Kekeliruan pertama karena angka 20 dan 15 tersebut mewakili 2 biaya proyek LNG dengan kapasitas yang berbeda. Kekeliruan kedua, karena biaya 15 milyar dolar Amerika diatas tidak didasarkan pada biaya FLNG yang sudah terbukti lancar beroperasi, yaitu FLNG Prelude yang pada tahun 2015 memang belum selesai dibangun.
Yang lebih tepat adalah menghitung perkiraan biaya FLNG Masela berdasarkan biaya proyek FLNG Prelude setelah selesai dan beroperasi lancar. Biaya proyek Prelude pada awal proyek (2012) direncanakan sebesar 12 Milyar dolar Amerika, namun setelah proyek selesai dan beroperasi (2019) membengkak. Sebagian analis memperkirakan 17 Milyar dolar Amerika namun ada analis ternama yang memperkirakan mencapai 19.3 Milyar dolar Amerika untuk kapasitas 3.6 juta ton/tahun LNG.
Seandainya kita ambil data biaya FLNG Prelude yang rendah saja, yaitu 17 Milyar dolar Amerika dengan kapasitas 3.6 juta ton/tahun, maka untuk kapasitas 9.5 juta ton/tahun FLNG Masela (seandainya ada), biaya proyeknya adalah sekitar 30 Milyar dolar Amerika.
Biaya ini memang tidak berbanding lurus dengan kapasitas 9.5 dibagi 3.6. Proyek serupa dengan kapasitas 2 kali lebih besar biaya proyek nya tidak menjadi 2 kali lebih mahal tetapi hanya menjadi 1.7 kali lebih besar. Dalam industri, hal ini dikenal sebagai the rule of six-tenth (ref: AACE International Recommended Practice 59R-10) yaitu
[Biaya1/Biaya2]= [Kapasitas1/Kapasitas2]0.6

Perkiraan biaya FLNG Masela (seandainya ada) yang 30 Milyar dolar Amerika inilah yang harus dibandingkan dengan biaya LNG darat Masela 20 Milyar dolar Amerika. Artinya ada potensi penghematan 10 Milyar dolar Amerika dengan keputusan memindahkan proyek Masela menjadi LNG darat.
Dari sisi biaya proyek, keputusan LNG darat Masela merupakan keputusan yang sudah tepat. Ditambah lagi dengan terbukanya peluang pengembangan industri petrokimia di darat yang menaikkan nilai tambah ekonomi nasional, naiknya besaran kandungan dalam negeri proyek dari 10% untuk FLNG menjadi sekitar 40% untuk LNG darat, serta potensi pengembangan wilayah dan masyarakat Maluku sekitar lokasi LNG darat.
Keputusan pemerintah Indonesia untuk memindahkan konsep LNG Laut (FLNG, Floating LNG) gagasan Shell menjadi LNG di darat tahun 2016 yang lalu, tentu juga berita besar. Diperbincangkan, diperdebatkan dan dipertanyakan seperti yang salah pastilah negara yang tidak sejalan dengan gagasan Shell. As if, Shell can do no wrong.
Sekarang, mundurnya Shell dari Masela dikaitkan dengan keputusan memindahkan FLNG gagasan Shell menjadi LNG di darat, tentu menjadi berita luar biasa besar. Seluruh dunia. Diperbincangkan, diperdebatkan dan dipertanyakan seperti yang salah dan yang perlu disesali pastilah negara yang tidak sejalan dengan gagasan Shell sampai-sampai Shell mundur dari negara tersebut. As if, Shell can do anything wrong, at all.
Sebelum Shell mengusung FLNG di blok Masela, Inpex sendiri sejak awal memang sudah merencanakan pengembangan blok Masela dengan konsep FLNG (LNG Laut), awalnya dengan kapasitas 2.5 juta ton/tahun kemudian dinaikkan menjadi 4.5 juta ton/tahun seiring dengan diketemukannya cadangan gas tambahan. Tahun 2011 setelah Shell masuk, rancang bangun FLNG dinaikkan lagi menjadi 7.5 juta ton/tahun, 2 kali lebih besar dari kapasitas FLNG Prelude, Australia yang hanya 3.6 juta ton/tahun. Padahal waktu itu Prelude FLNG baru mulai konstruksi tahun 2012 di galangan kapal Korea. Sama sekali belum ada rekam jejak keberhasilan konstruksi proyek, apalagi operasi.
Lompatan rancang bangun lebih dari 200% dari FLNG Prelude yang belum terbukti sukses tersebut, mulai menuai banyak pertanyaan dan kontroversi. 7.5 juta ton/tahun LNG itu kurang lebih sama dengan 4 unit kilang LNG di Arun, 3 unit kilang LNG di Bontang dan 2 unit kilang LNG di Tangguh, Papua. Kenapa tidak dibangun didarat saja? Yang sudah terbukti sukses dilakukan di Indonesia, dengan keterlibatan pihak Indonesia yang lumayan besar, dengan peluang pengembangan industri hilir petrokimia yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini, dengan peluang pengembangan wilayah dan masyarakat Maluku sekitar kilang LNG darat.

Proyek FLNG Prelude Australia sendiri sebagai proyek FLNG pertama dan terbesar di dunia, juga menuai banyak kontroversi. Dipuji banyak orang karena keberanian Shell melakukan terobosan teknologi, namun juga sangat dipertanyakan apakah FLNG Prelude ini sebuah proyek yang dianggap berhasil seperti tujuannya semula atau malah dianggap kegagalan total eksperimen teknologi FLNG Shell.

Shell menjuluki proyek FLNG Prelude ini sebagai Game Changer karena diharapkan dapat merubah bahkan memutarbalikkan pola pikir pengembangan bisnis LNG. Dapat dibangun lebih cepat dari LNG darat karena tidak memerlukan penyiapan lahan, efisien dengan tenaga kerja produktifitas tinggi terpusat di satu galangan kapal kelas dunia, dengan biaya yang lebih murah, dan kelak dapat dipindahkan dan dimanfaatkan ke tempat lain tanpa ada lagi investasi tambahan.

Namun, nyatanya pelaksanaan proyek FLNG Prelude tidak seindah harapan semula.
Konstruksi proyek FLNG Prelude dimulai Oktober 2012 di galangan kapal Samsung, Korea dan kemudian mulai berproduksi Juni 2018. Hampir 6 tahun dari mulai konstruksi sampai produksi LNG perdana. Ini lebih lambat 2 tahun dari penyelesaian proyek LNG darat yang rata-rata 4 tahun. Pengapalan perdana akhirnya berhasil dilakukan pada Juni 2019. 1 tahun setelah produksi LNG perdana, kilang LNG darat umumnya dapat melakukan pengapalan perdana dalam waktu 4 – 6 bulan sejak mulai produksi.

Dan biayanya membengkak dari awalnya analis sekitar 10 – 12 Milyar dolar Amerika, menjadi 17 – 19 Milyar dolar Amerika. Walaupun Shell sendiri tidak pernah mengumumkan biaya proyek FLNG Prelude.

Setelah pengapalan perdana di bulan Juni 2019 tersebut, FLNG Prelude berhenti berproduksi sejak Februari 2020 sampai sekarang (Agustus 2020). Artinya setelah 1 tahun operasi, hanya berhasil mengirim 1 kapal LNG saja. Diberitakan hal itu disebabkan oleh beberapa masalah sistem keselamatan dan sistim ketenagalistrikan. Shell belum menyatakan kapan FLNG Prelude ini akan direncanakan kembali berproduksi walaupun pihak berwenang Australia mengatakan bahwa secara teknis operasi dan administrasi FLNG Prelude telah memenuhi semua ketentuan dan diijinkan untuk kembali beroperasi kapan saja.

Catatan perjalanan pengembangan dan rekam jejak proyek FLNG Prelude itu penting bagi evaluasi pengambilan keputusan pemindahan LNG terapung (FLNG) Masela menjadi LNG darat. Terutama karena kapasitas rancangan FLNG Masela waktu itu 7.5 juta ton/tahun LNG atau lebih dari 200% kapasitas FLNG Prelude.

Tentu ada resiko teknis atas lompatan jauh kapasitas FLNG Masela. Merancang suatu proyek baru dengan kapasitas 200% dari fasilitas yang sudah berjalan baik saja bukan hal yang lazim dilakukan didunia industri migas. Apalagi 200% dari kapasitas fasilitas yang belum terbukti berjalan baik. Nyatanya FLNG Prelude malah banyak meleset dari sasaran rancang bangun awal.

Industri migas umumnya melakukan pengembangan kapasitas rancang bangun secara bertahap, 20 – 30% lebih tinggi dari kapasitas sebelumnya. Industri LNG darat juga begitu, pengembangan kapasitasnya dilakukan secara bertahap dengan hati-hati.
Namun, peran perusahaan sekelas Shell dalam mega proyek sebesar LNG Masela tentu tidak dapat diabaikan begitu saja. Suatu proyek atau bisnis yang ditinggalkan Shell tentu kemudian menimbulkan pertanyaan apakah bisnis atau proyek tersebut masih dapat terus berjalan tanpa kehadiran dan dukungan Shell.

Untuk itu marilah kita lihat faktor-faktor yang menentukan sukses tidaknya suatu pengembangan proyek LNG dan bagaimana Shell berperan dalam masing-masing faktor tersebut. Apakah proyek kilang LNG darat Masela akan tetap berjalan lancar atau menjadi terkendala dengan mundurnya Shell.
Dari sisi rancang bangun teknis, pelaksanaan pembangunan dan konstruksi proyek (EPC), serta pengoperasian fasilitas kilang LNG darat, ketergantungan proyek LNG darat pada Shell tidak begitu besar. Pihak Indonesia sudah membuktikan berhasil dengan baik dalam melakukan rancang bangun dan mengelola pembangunan kilang LNG darat di Arun, Bontang, Tangguh 1/ 2, dan Donggi- Senoro hampir seluruhnya dilakukan dengan tenaga ahli dan pekerja Indonesia.

Dari sisi usaha mendapatkan pasar/pembeli LNG, justru peran Inpex yang akan sangat berarti dan penting. Inpex, yang mirip seperti Pertamina nya negara Jepang tentu tidak terlalu sulit untuk mendapatkan pasar Jepang. Ditambah ada kebutuhan besar dalam negeri Indonesia. Perlu dicatat bahwa semua proyek LNG saat ini sampai 5 tahun kedepan menghadapi masa-masa sulit, banjir pasokan LNG murah dari Amerika Serikat dan Kanada, dibukanya kembali moratorium perluasan kilang LNG Qatar yang juga dapat menghasilkan LNG dengan harga yang sangat bersaing, pasokan baru dari negara-negara Afrika Timur serta tentunya ancaman adanya resesi ekonomi dunia karena wabah Covid-19.

Peran Shell paling besar dalam proyek kilang LNG darat adalah dari sisi pendanaan proyek, penjaminan dan akses ke penyandang dana. Walaupun suatu proyek LNG bisa didanai 70% dari pinjaman, namun pemilik proyek masih wajib setor 30% dana tunai untuk proyek.

Untuk proyek LNG darat Masela, 30% itu artinya sekitar 7 Milyar dolar Amerika untuk masa proyek 4 tahunan. Itu besar sekali. Untuk perusahaan yang punya saham 35% seperti Shell, dana tunai yang harus disediakan sekitar 600 juta dolar tiap tahun selama 4 tahun. Hanya untuk 1 proyek saja..! Untuk sekelas Shell, Inpex dan perusahaan migas global lainnya tentu tidak menjadi masalah. Pengganti Shell tentu harus mampu menyediakan dana tunai proyek sebesar ini.
Adalah wajar saja kalau Shell mundur dari Masela karena kecewa gagasan LNG lautnya tidak diterima Pemerintah Indonesia. Padahal LNG darat Masela masih merupakan proyek yang menguntungkan, kalau tidak tentunya tidak akan diajukan rencana pengembangannya oleh Inpex dan kemudian disetujui SKKMigas.
Tapi mungkin kita bisa sedikit kepo dan berandai-andai. Misalnya saja Shell tetap di Masela dan meneruskan ikut proyek LNG darat, kemudian 5 tahun dari sekarang proyek LNG darat Masela selesai, mulai berproduksi dan beroperasi dengan lancar. Sebaliknya, proyek LNG terapung Prelude masih terkendala atau malah jadi mangkrak seperti sekarang. Waduh.. mungkin lebih baik bagi Shell untuk saat ini Mundur Alon-Alon seperti lagunya Didi Kempot, daripada malu besar dibelakang hari sama kita-kita ini.
Dengan rekam jejak FLNG Prelude yang kurang moncer tersebut, jangan-jangan Shell sendiri sudah menyesali keputusan membangun FLNG Prelude tersebut.
Kepergian perusahaan sekelas Shell dari proyek LNG darat Masela pasti ada konsekuensinya, paling tidak dari segi pendanaan proyek, penjaminan dan akses ke penyandang dana. Tapi itu bukan akhir segalanya, bukan berarti kiamat untuk LNG darat Masela.

Tanpa Shell kita memang perlu lebih waspada, lebih hati-hati (prudent) dan lebih kerja keras. Bukankah kita sudah berpengalaman membangun 4 kilang LNG darat di Indonesia, semua sukses, lancar, tepat waktu, beberapa malah lebih cepat, dan tepat biaya, tidak ada yang membengkak biayanya.
Dengan segudang pengalaman membangun kilang LNG darat itu, masak baru ditinggal Shell saja membuat kita jadi keringat dingin..? Lah, bangsa macam apa itu..?

Jakarta, 15 Agustus 2020 – YPS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.