Home Energy BBM PERTAMINA: Proyek Janggal, Digitalisasi Gagal, Pajak,  dan Katanya Cetak Laba Rp 14...

PERTAMINA: Proyek Janggal, Digitalisasi Gagal, Pajak,  dan Katanya Cetak Laba Rp 14 T (BAGIAN – 4 Habis)

Wow... Katanya Cetak Laba Rp 14 T dari mana saja. Bukannya itu untung yang masih unaudited?

0
istimewa
ilsutrasi

ENERGYWORLDINDONESIA (ENERGYWORLD.CO.ID) – Wow… dong! Pertamina cetak laba Rp14 Triliun. Ada yang bangga ada juga yang bilang ini masih unaudited. Kenapa bangga ya iyalah cetak laba Rp 14 T bagi Pertamina prestasi loh sedang perusahaan dunia seperti BP aja rudi Rp 80 T,bahkan Exxon rugi sampai ratusan T, Chevron pun membukukan kerugian US$ 11 juta pada kuartal keempat 2020, membuat total kerugian selama 12 bulan sepanjang 2020 mencapai US$ 5,54 miliar, dibandingkan pencapaian laba sebesar US$ 2,92 miliar pada 2019.

Sebenarya dengan harga Crude Oil yang terjun bebas, serta produk turunannya, sedang harga jual tetap mestinya untungnnya pertamina itu #LEBIH_BESAR dari 14 T loh.  

Bukankah selama 2020 pertamina mengurangi #BelanjaModal & Explorasi ? Menumpuk pembelian Crude oil murah, bahkan ditempatkan di VLCC² ?

British Petroleum (BP), ExxonMobil, Chevron adalah worldwide oil and gas producer yang belanja modalnya bisa puluhan bahkan ratusan kali lebih besar dari Pertamina. Kerugian akibat anjloknya harga barang produksi ke titik nadir yang pernah ada, juga akan jauh melampaui itu.

UNTUNG DI DPR BELUM AUDIT

Pada 9 Februari 2021 lalu di depan Komisi VII DPR RI, Pertamina  (Persero) memamerkan kondisi keuangan yang mengalami keuntungan alias laba. Ini hebat. Pengumuman untung di DPR RI oleh Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini mengatakan, laba tersebut kemungkinan bisa bertambah karena kini masih dalam proses audit. Semoga saja!

“Hingga Desember 2020, laba unaudited US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Semoga ada tambahan karena audit belum selesai” ungkap Emma dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi VII DPR RI, Selasa (09/02/2021).

Dia mengatakan, capaian positif dari kinerja keuangan Pertamina pada 2020 ini dikarenakan sejumlah strategi yang dilakukan perseroan, antara lain:

  1. Efisiensi biaya usaha atau operasional.

Efisiensi operasional ini menurutnya berkontribusi terbesar dari keuntungan Pertamina di 2020.

  1. Prioritas alokasi belanja modal (capital expenditure/ capex)

Dia mengatakan, dari rencana belanja modal US$ 6,4 miliar ditekan menjadi US$ 4,7 miliar. Hal ini dikarenakan adanya prioritas ulang dari alokasi belanja modal pada 2020.

  1. Kenaikan volume penjualan BBM pada kuartal keempat

Dia mengatakan, meningkatnya penjualan BBM pada kuartal keempat 2020 bisa menahan laju penurunan penjualan BBM sepanjang 2020.

  1. Pengakuan marketing fee (penjualan minyak mentah dan LNG)

Ini merupakan hasil dari koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

  1. Strategi Time to Buy

Untuk mengoptimalkan harga minyak mentah (crude) ketika masih rendah, maka saatnya untuk membeli minyak (time to buy).

  1. Impairment aset hulu

“Ini masih proses audit oleh KAP dan BPK, belum selesai,” ujarnya. Belum selesai hmmm harusnya selesaikan dulu dan umumkan. Tapi ya sudahlah…

Dia pun menyebutkan dari sisi kinerja hulu migas, Pertamina mengalami penurunan produksi minyak dan gas bumi sebesar 3% menjadi 863 ribu barel setara minyak per hari (boepd) dari Revisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2020 sebesar 894 ribu boepd atau turun 4,2% dari realisasi 2019 yang mencapai 901 ribu boepd.

Sementara produksi minyak dan gas bumi terangkut (lifting) turun menjadi 704 ribu barel setara minyak per hari (boepd) dari 730 ribu boedp pada Revisi RKAP 2020 atau turun 4% dibandingkan lifting migas pada 2019 yang sebesar 734 ribu boepd.

Adapun harga minyak rata-rata (ICP) pada 2020 mencapai US$ 40 per barel, sesuai dengan Revisi RKAP 2020, namun lebih rendah dari 2019 yang mencapai US$ 62 per barel.

Sementara asumsi kurs rata-rata mencapai Rp 14.572 per US$, menguat 3% dari asumsi di Revisi RKAP sebesar Rp 15.000 per US$, dan melemah dari 2019 yang sebesar Rp 14.146 per US$.

Tapi apa ini benar atau tidak? Kita lihatnya serba salah, karena ada yang bilang bahkan lebih ekstrem ngibul

Pengakuan Emma diperkuat Dirut Pertamina bahkan mengatakan “Dan yang tidak kalah pentingnya adalah walaupun terkena triple shocks karena Covid-19 di tahun 2020, Pertamina berhasil membukukan keuntungan di atas US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun, di saat perusahaan-perusahaan migas dunia mengalami kerugian besar,” tutur Nicke dengan bangganya seperti dilansir  CNBC Indonesia, Kamis (04/02/2021).

Sumber kami lagi-lagi yang ahli migas itu mengatakan,ada juga yang bilang kebangetan harga jual bensin tetap walau harga minyaknya turun. Dan lagi pula tidak disebutkan untungnya dimana? Selain disebut diatas kan semua masih belum audit. 

“Feeling saya sih di engineer saja,” kata sumber kami tadi.

Dikatakan sumber kami bahwa yang seperti ini hendaknya tak perlu diumumkan soal begitu, kan masih unaudited hehehe benar juga ya…

Jadi apakah ini sebuah drama saja untuk menutup sejumlah hal yang sedang Pertamina alami dari mulai Proyek Janggal, Digitalisasi Gagal, Pajak PGN, dan Cetak Laba Rp 14 T di roketkan?

Marilah kita tunggu hasil audit yang nyata dan sebenarnya. Jangan sekadar meninabobokan informasi dengan banyak puja-puji yang belum tentu jelas karena toh kenyataannya BBM kita yang jelas-jelas untuk rakyat tak pernah turun meski minyak dunia turun Dan jika untung yang bagus karena sederhana Pertamina tak pernah turunkan harga. Dan rakyat tetap harus beli dengan harga tinggi.

Tabik…!!!

(TAMAT)

*)AENDRA MEDITA KARTADIPURA, Wartawan Senior (Pemimpin Redaksi ENERGYWORLD.CO.ID)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.