Home Energy BBM MASIH SOAL BALONGAN DAN HOAX PETIR

MASIH SOAL BALONGAN DAN HOAX PETIR

0

Pekan ini heboh dengan dua peristiwa Bom di Makassar dan kebakaran di tangki T301 di area kilang Balongan Indramayu Jawa Barat. Saya ingin bahas Balongan saja biar soal yang katanya teroris yang lain sudah banyak.

Ledakan Tangki Balongan telah menimbulkan kerugian besar bagi Pertamina dan telah menimbulkan korban melukai 30 orang dan 932 warga mengungsi.

Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman menaksir kerugian sebagai berikut: Jika fasilitas 4 tangki BBM yang terbakar ludes, maka kerugian Pertamina ditafsir bisa mencapai sekitar Rp 1,25 triliun bukanlah mustahil, yaitu berdasarkan asumsi jumlah BBM yang terbakar ludes sekitar 600.000 barel hingga 800.000 barel didalam 4 tangki tersebut bisa bernilai sekitar USD 56 juta ditambah biaya pembangunan 4 tangki sekitar USD 20 juta dan biaya operasi pemulihan sekitar USD 2 juta, dan nilai itu belum dihitung akibat tindakan emergency shut down untuk mencegah penyebaran efek api (bukan normal shutdown seperti dikatakan pejabat-pejabat Pertamina itu keliru) ada kehilangan produksi BBM sebanyak sekitar 400.000 barel dari kilang Balongan selama 4 sd 5 hari kedepan kata Mulyono sebagai Direktur Infrastruktur Pertamina Holding ( 29/3/2021).

Melihat api yang membakar itu sampai dengan pagi ini 30 Maret juga belum padam total, maka potensi nilai kerugian itu bisa membengkak mencapai sekitar Rp.1,5 triliun. Perlu diketahui, dalam catur wulan ini saja, di kilang Balongan telah terjadi dua peristiwa besar sebelumnya, yaitu pada periode Desember 2020 dan awal 2021 telah terjadi shutdown di kilang akibat boiler blow up.

Terkesan kental, sebenarnya jika dibedah lebih dalam maka akan diperoleh informasi bahwasanya pihak manajemen agak kurang memperhatikan sistem kerja dan kualitas SDM di area luar, yakni area utilities, dan area ITP yang mengurusi instalasi pipa dan tangki serta jetty dan SBM, termasuk juga unit laboratorium agak diabaikan. Kelihatannya mereka hanya lebih fokus memperhatikan SDM di unit proses.

Ternyata pula, telah terjadi kasta dilikungan semua kilang Pertamina, kasta paling tinggi adalah orang yang mengendalikan unit proses, kasta kedua yang menangani unit utilities, kasta ketiga adalah yang menangani unit ITP, yakni instalasi pipa dan tangki serta Jetty dan SBM. Kasta yang paling rendah adalah yang keempat, yaitu yang menangani unit laboratorium di kilang.

Jika ini tidak segera dibenahi, maka persoalan yang sama atau lebih parah akan dapat terjadi lagi di kilang Balongan maupun kilang lain nya, khususnya di area diluar unit proses.

“Berdasarkan fakta yang beredar, telah terjadi kebocoran minyak diduga dari dari salah satu tangki, sehingga ada upaya pemindahan BBM secara gravity dari tangki yang bocor berisi penuh BBM ke tangki lainnya yang isinya belum penuh. Karena itu, dalam proses pemindahan BBM itu terdeteksi adanya ceceran minyak disekitar area tangki pada hari minggu 28/3/2021. Ini tercium oleh warga sekitar tangki yang telah mendatangi pihak sekuriti Pertamina Balongan pada Minggu malam,”jelasnya

Jika benar ada ceceran minyak, ada angin, soal pemantik kebakaran bisa saja bersumber dari mana saja, bisa dari petir, bisa juga dari orang yang merokok disekitar itu, bisa dari signal HP petugas ataupun dari gesekan electrik static disekitar lokasi bocoran minyak. Dan memang nyatanya soal Petir adalah Hoax.

Harusnya seorang Corporate Secretary (Corsec ) Subholding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional tidak buat rilis tergesa-gesa ini menyebarkan disemua media.

Corsec itu adalah Ifki Sukarya kalangan media tahu nama ini dan bukan asing lagi di media. Pernyataan ini menyusul karena telah terjadi insiden di Kilang Pertamina Balongan yang menyebabkan terjadinya kebakaran pada tangki T-301G pada tanggal 29 Maret 2021 mulai sekitar pukul 00.45 dini hari.

Petir itu adalah Hoax yang Ifki rilis. Keterlaluan memang menyalahkan Petir. Saat merilis itu ia pasti akan ada approval dari atasannya. Tapi apakah ini Petir memang Petir yang akan dijadikan alibi sebagai akibat alam?

Ternyata alam tak mau jadi kambing hitam. Petir yang disalahkan itu lantas dibantah keras oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang secara resmi menyatakan tak ada petir saat ledakan Balongan. Urusan Petir ternyata Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membantah saat tangki minyak Pertamina di Kilang Balongan meledak pada Senin, 29 Maret 2021, tak ada petir yang menyambar. “Berdasarkan alat monitoring ‘lighting detector’ yang berlokasi di BMKG Jakarta dan Bandung dari pukul 00:00 WIB hingga pukul 02:00 WIB, bahwa tidak terdeteksi adanya aktivitas sambaran petir di wilayah kilang minyak Balongan, Indramayu,” ujar Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Rahmat Triyono seperti dikutip ANTARA pada Selasa (30/3/2021).

Kenapa Ifki Bikin Bohong dan Hoax….?

Seharus Ifki terkena Pasal UU ITE terkait dengan dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Dalam rilis Ifki jelas-jelas dia menyebarkan kalimat Petir dan banyak media mengutip. Ifki juga secara resmi menulis jabatan dan juga nomor HP memberikan tautan isi rilis soal ledakan balongan. Kalau dilihat Ifky menyebarkan berita bohong terkait Balongan itu. Petir itru karena BMKG membantahnya dan harus Ifky akan terkena dengan Pasal 14 ayat 1 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana selain juga UU ITE menyebarkan informasi bohong dan Hoax dan dapat menimbulkan rasa resah publik seolah Petir itu bahaya karena bukan saja menjadi cemooh di meia sosail ia banyak dikutip media yang mainstream. Dan sampai tulisan ini diturkan Ifky pun belum mengklarifkasi.

“Balongan dalam kasus ledakan adalah penyebab pengamanan kebocoran tangki terlambat dilakukan hingga menyebabkan kebakaran. Artinya – tangki bocor plus emergency shutdown-nya tidak berfungsi. Lengkaplah nunjukin betapa parah nya maintenance-nya di asset Pertamina milik nasional ini,” ujar salah satu pakar migas yang bersleoroh kepada saya.

Kasus Balongan Jangan Seperti ledakan Kilang Cilacap Thn 1984

Ditambahkan Yusri Usman bahwa publik berharap besar pada jajaran Polri, agar jangan terulang kembali seperti kasus terbakar dan meledaknya tangki Pertamina di Cilacap tahun 1984, saat itu dua orang terdakwa Ir Wisnu Broto Pranadi dan Ir Basran Bin Hadran yang didakwa dengan dakwaan berlapis, namun dibebaskan dari segala dakwaan oleh PN Cilacap sampai Mahkamah Agung.

Majelis Hakim PN sampai MA dapat menerima pleidoi Penasihat Hukum ke dua terdakwa yang disidang terpisah, Advokat kondang Augustinus Hutajulu SH, yang dengan analisa hukumnya menyimpulkan bahwa kebakaran dan meledaknya tanki yang telah menelan korban jiwa 19 orang tewas itu adalah suatu mysterious accident, yang tidak atau belum diketahui penyebabnya.

“Dengan tidak diketahuinya penyebab kebakaran maka tidak mungkin mencari siapa yang harus bertanggung jawab secara pidana”, simpul Augustinus Hutajulu waktu itu.

Majelis Hakim PN dan Mahkamah Agung dapat penerima argumentasi ini dan membebaskan ke dua terdakwa dari segala dakwaan alias bebas murni.

Atas putusan itu, tim JPU bukannya menyadari lemahnya alat bukti atau kemampuan membuktikan, malah hanya berkomentar di pers “Apa iya penyebabnya mahluk Jin ?”

Padahal, waktu itu penyidikan kasus itu melibatkan Polres Cilacap, Polda Jateng dan Mabes Polri bahkan Kopkamtib,” kata Direktur Eksekutif CERI tegas.

Pernyataan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati bahwa dipastikan yang terbakar bukan kilang, tapi tangki penyimpanan BBM dalam konferensi pers mengenai insiden tersebut secara virtual, Senin (29/3) dalam ledakan kasus Balongan dinilai aneh.

Kalau sekelas Direktur Utama Pertamina bicara bahwa yang terbakar itu bukan kilang, tapi tangki yang menyimpang BBM di area kilang. Kalau ngomong seperti itu. Aneh. Wong tangki itu bagian dari plant-nya. Bu Dirut Untuk nyimpan feedstock atau hasil produksi itu tak mungkin dari kapal langsung ke kilangnya tanpa disimpan dulu. Duh kenapa Bu Dirut bicaranya seperti ini bisa banyak diketawain orang-orang yang paham dunia migas nih.

Tangki yang terbakar tengah digunakan untuk menyimpan BBM. Tangki tersebut bernama T.301 yang hingga saat ini masih terus diupayakan pemadamannya. Namun, Nicke tidak menyebut berapa tangki yang terbakar.

“Jadi yang terbakar bukan kilang, tapi tangki yang menyimpang BBM di area kilang. Jadi processing dan utility lain seperti jetty itu aman,” kata Nicke dalam konferensi pers mengenai insiden tersebut secara virtual, Senin (29/3).
Nicke Widyawati menjelaskan, untuk mencegah api menjalar ke tangki-tangki lain, pihaknya sudah menangani tanggul di sekitar tangki. Tim Pertamina juga sudah melakukan area pendinginan pada area sekitar.

Kata Nicke bahwa 10 mobil pemadam kebakaran dari Grup Pertamina, Pemda Cirebon, Pemda Indramayu. Dikerahkan semua,katanya.
Untuk pasokan BBM, dia memastikan tidak akan terlalu berdampak. Sebab, area kilang sudah diatur dengan mode siaga, bahkan saat situasi genting saat ini. Tim juga menggunakan tangki-tangki lama untuk tempat penyimpanan BBM sementara di sekitar area.

“Jadi tidak ada kendala signifikan terhadap pasokan BBM yang diproduksi di Kilang Balongan,” katanya.

Seperti diketahui pada Senin 29 Maret 2021, Jam 00.45 Am telah terjadi kebakaran besar yang menghanguskan 4 tangki besar penyimpanan hasil olahan berupa BBM milik Pertamina di kilang Balongan dan memakan korban luka-luka berat beberapa masyarakat sekitar.

Refinery Unit (RU) VI Balongan atau Kilang Balongan merupakan kilang keenam dari tujuh kilang Direktorat Pengolahan PT Pertamina (Persero). RU VI Balongan mulai beroperasi sejak tahun 1994. Kilang Balongan ini berlokasi di Indramayu (Jawa Barat) sekitar ±200 km arah timur Jakarta, dengan wilayah operasi di Balongan, Mundu dan Salam Darma.

Harusnya sebagai pemimpin nomor satu di Pertamina Nicke memahami dulu. Dan sebagai Pemimpin juga harusnya minta maaf lebih awal atas insiden ini dan langsung mengatakn bersalah. Jangan bisanya menangkis semua kecelakaan itu. Pertamina dengan kasus ini menajdi masalah serius dan ini juga nampaknya sudah lama ada di Pertamina soal keterbukaan yang serius.

Ini soal kilang minyak yang meledak dan lalu kebakar di balongan Indramayu Jawa Barat. Kita memang melihat ada dua yang beda di kasus yang hampir sama tragedinya maksudanya kasus di British Petroleum (BP) dan Pertamina, kisah ini layak dibandingkan yang bisa jadi kita melihat dari segi kemanusian, moral, rasa adab dan budaya malu serta tanggungjawab. Maka belajarlah pada BP.

Pada tahun 2010 BP mengalami kebocoran dari kecerobohan pengeboran minyak mentah di lepas pantai Teluk Meksiko, akibat kasus ini kehancuran lingkungan dan kerugian keuangan luar biasa bagi perusahaan.

Amerika Serikat menganggap ini tragedi pengeboran minyak Deepwater Horizon milik BP yang memakan korban 11 orang tragedi besar, bahkan Obama saat itu sebagai Presiden melakukan berbagai cara untuk memperbaiki kondisi lingkungan di kawasan yang berhadapan langsung dengan Teluk Meksiko.

Tragedi ini dapat ditanggulangi setelah 87 hari, 4,9 juta barel minyak mentah tumpah ke teluk Meksiko, mencemari ribuan mil pantai Amerika Serikat dengan kerugian ekonomi mencapai puluhan miliar dollar. Bangkai lumba-lumba masih banyak diselimuti minyak sering ditemukan di pantai-pantai yang tercemar. Hampir 120.000 orang menanti kompensasi akibat tragedi itu.

“Pemerintahan berjanji melakukan hal-hal yang dirasa perlu untuk melindungi dan memperbaiki kawasan pesisir teluk Meksiko,” kata Obama waktu itu.

Obama juga meminta pertanggungjawaban BP atas semua kerusakan dan kerugian yang telah diakibatkan tragedi Deepwater Horizon BP 20 April 2010 dan ini merupakan tumpahan minyak terbesar di lepas pantai dalam sejarah AS. Sumber minyak BP dari dasar laut 10.000 feet (3.000 m) di bawah permukaan.

Tragedi Deepwater Horizon ini oleh keluarga korban sering diadakan peringatan untuk dikenang. Dalam tragedi Deepwater ada yang hebat dan soal moralitas yaitu Tony Hayward CEO BP saat ini mundur dan tahu diri. BP mengumumkan bahwa atas kesepakatan dengan dewan BP, Tony Hayward akan mengundurkan diri dari posisi CEO yang efektif 1 Oktober 2010. Hayward digantikan oleh Direktur Eksekutif Robert Dudley,” demikian pernyataan BP dilansir AFP saat itu, (27 Juli 2010).

Kenyataannya Tony Hayward dicopot alias diberhentikan dari jabatannya sebagai CEO akibat dari kecerobohan pengeboran minyak mentah di lepas pantai Teluk Meksiko karena bukan saja mengakibatkan kehancuran lingkungan namun kerugian keuangan luar biasa bagi perusahaan. Pada laporan keuangannya yang dirilis BP menyatakan kerugian perusahaan akibat dari kerusakan yang ditimbulkan di teluk Meksiko mencapai 16,9 miliar dolar AS pada kuartal kedua tahun 2010. Kerugian ini terjadi karena biaya yang telah diperkirakan dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan kebocoran di Teluk Meksiko mencapai senilai 32,2 miliar dolar AS.

Keputusan Hayward diganti disambut baik dan Hayward dikabarkan menerima gaji full tahun 2010 meskipun kepergiannya pada bulan Oktober. Gaji yang akan diterima oleh pria ini mencapai 1,045 juta poundsterling atau setara dengan 1,6 juta dolar AS.

Para analis menyatakan bahwa keputusan Tony Hayward saat itu merupakan langkah yang tepat sebab Hayward telah menjadi target yang mudah bagi pemangku kebijakan di AS dan penduduk Teluk Meksiko yang waktu itu BP telah mengalami penurunan nilai pasar sebesar 40% sejak peristiwa ledakan sumur eksplorasi tersebut, atau senilai lebih dari 100 miliar dolar. Setelah pengumuman pemberhentikan Tony Hayward, saham BP yang diperdagangkan di London dan AS mengalami sedikit peningkatan. Situs vibiznews.com BP juga telah mengabarkan akan menjual sebagian aset-nya untuk memperoleh dana senilai 30 miliar dolar AS dalam jangka waktu 18 bulan ke depan untuk ikut menutupi biaya yang harus dikeluarkan akibat kebocoran sumur minyak tersebut. BP juga merencanakan untuk memotong utang netto-nya sebanyak 10 – 15 miliar dolar AS dalam jangka waktu yang sama.

Tragedy 2016 Deepwater Horizon bahkan diangkat ke layar lebar sebagai bencana dahsyat di Tambang Minyak dalam sebuah film based on true story berjudul Deepwater Horizon, dalam film itu penonton diajak menyimak cerita yang diangkat dari kisah nyata ini melalui sudut pandang seorang Mike Williams, kepala teknisi ET di kapal pengebor film Deepwater Horizon, film ini menjadi ajang reuni bagi Wahlberg dan sang sutradara, Peter Berg, setelah pertemuan mereka dalam film Lone Survivor (2013).

Deepwater Horizon diangkat dari kisah nyata tentang bencana laut terbesar di dunia yang pernah terjadi di Meksiko. Dari informasi bahwa film ini menelan biaya cukup tinggi yaitu 2 trilyun rupiah, film insiden garapan Peter Berg secara awal membingungkan, makanya jika Anda ingin nonton harusnya punya refensi dari tragedi besar minyak bocor, secara film ini luar biasa dahsyat.

Meski Pertamina telah memastikan bahwa kejadian tersebut tidak akan mengganggu pasokan dan distribusi BBM, namun kami tetap prihatin dengan kerusakan yang terjadi pada industri hilir minyak bumi. Sebagai pengimpor minyak mentah, bensin dan gasoil terbesar di Asia Tenggara dengan volume tahunan hampir 1 juta barel per hari (bph), Indonesia mungkin harus mengimpor lebih banyak bahan bakar penyulingan sampai kilang Balongan melanjutkan produksi dengan kapasitas penuh 125.000 bpd.

Kalangan Migas yang belum mau disebutkan namanya mengatakan ini memalukan banget dan bikin kaget. Sekarang kebakaran gara-gara politik. “Tidak ada hubungannya dengan masalah maintenance, meski awalnya mereka bilang gara-gara petir, tapi disanggal oleh BMKG tidak ada petir pada saat kebakaran, kelihatan keliatan banget kualitas Pertamina. Sayang banget perusahaan sebesar itu yang harusnya bisa berkompetisi di level dunia malah begini,” ujar sumber tadi. (AME/EWINDO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.