Home BUMN 7 BUMN BAKAL DIBUBARKAN, PLN DALAM TAHAP RESTRUKTURISASI ?

7 BUMN BAKAL DIBUBARKAN, PLN DALAM TAHAP RESTRUKTURISASI ?

0
Ahmad Daryoko Koordinator INVEST.

Oleh Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST.

Pembubaran 7 BUMN (CNBC Indonesia, 3 Mei 2021) merupakan langkah awal dari perampingan 144 BUMN yang nantinya hanya akan tersisa sekitar 30 BUMN saja.

Pembubaran BUMN adalah sekaligus penghentian operasionalnya (misal Merpati Nusantara).

Namun untuk PLN nantinya, pembubaran BUMN listrik tersebut hanya pembubaran perusahaannya. Sedang operasional kelistrikan di Jawa-Bali akan berpindah tangan ke Kartel Listrik Swasta spt Shen Hua, Huadian, Chengda, Shinomach, CNEEC, Chinadatang, Marubeni, Mitsubishi, GE dll (dibagian pembangkit). Sedang dibagian ritail (penjualan) akan ditangani oleh Perusahaan2 Tommy Winata, James Riady dan taipan 9 Naga yang lain. (Perusahaan2 swasta tsb bersatu dalam sebuah Kartel Listrik Swasta atau Kartel Liswas ).

Kartel Liswas diatas bekerja sama dng Luhut Binsar Panjaitan, Erick T, JK, Dahlan Iskan ( yg merupakan pejabat/mantan yang mengatur pelaksanaan privatisasi/penjualan/swastanisasi PLN sekaligus merangkap sbg “pemain”).

Sedang kelistrikan di luar Jawa-Bali saat PLN dibubarkan nanti akan diserahkan kpd Pemda Propinsi masing2 ( Konsep “The Power Sector Restructuring Program”, IFIs 1998, yang saat ini di oper ke China).

Pembubaran PLN sekaligus penyerahan sepenuhnya operasional listrik ke Kartel Liswas akan dimulai saat Pemerintah tdk lagi memberikan subsidi listrik ke rakyat. Dan setelah PLN bubar, rakyat harus berurusan langsung dng perusahaan listrik swasta (Kartel Liswas).

Tarip listrik sangat tergantung kpd Kartel tsb (sesuai mekanisme pasar bebas) yg tergantung situasi “supply and demand” yang setiap saat bisa berubah rubah. Bahkan sesuai pengalaman “empirik” yg disampaikan oleh Prof. David Hall (dari Green Which University, UK) saat bersaksi di Sidang MK tahun 2003 mengatakan bahwa di Kamerun tahun 2001 terjadi revolusi sosial krn terjadinya lonjakan tarip listrik atau “over pricing” sampai 10 – 15 kali lipat . Hal ini terjadi karena saat “peak load” atau beban puncak antara jam 17.00 – 23.00 Kartel Liswas “memainkan” tarip yang mau tidak mau hrs diikuti oleh konsumen karena tdk ada pilihan lain !

CATATAN :

Rencana pembubaran PLN lewat “modus” privatisasi/penjualan/swastanisasi sebenarnya sdh dimulai awal 2000 an (bersamaan dng penjualan Indosat ke Singapura). Namun saat itu ditentang secara massive oleh SP PLN dng berbagai cara. Mulai dng demo, seminar, talk show, rally , siaran pers dll. Dan baru pada era Dahlan Iskan sbg Dirut PLN (mungkin lebih berpengalaman) privatisasi/penjualan akhirnya berjalan lebih lancar lagi. Dimulai dng penjualan ritail PLN ke Tommy Winata dkk dan mendatangkan pembangkit IPP dari China. Terlebih setelah masuknya JK, Luhut BP, Erick ke jajaran Pemerintah. Maka mulai 2020 kemarin Jawa-Bali sudah berlangsung mekanisme pasar bebas kelistrikan (dlm Sidang MK di istilahkan sbg MBMS). Shg tahun 2020 kemarin subsidi listrik membengkak menjadi Rp 200,8 triliun (Repelita Online 8 Nopember 2020) atau membengkak 400 % saat dikelola PLN (periksa Laporan Statistik sebelum 2020).

KESIMPULAN :

Saat inipun semua operasional listrik Jawa – Bali sdh dibawah Kartel Liswas. Kalau ada instalasi PLN spt jaringan transmisi, distribusi serta pembangkit , posisinya sdh dibawah koordinasi Kartel Liswas atau disewa mereka !

Artinya PLN hanya di pinjam nama serta lambangnya.

Setelah PLN ikut dibubarkan nantinya, maka tarip listrik tdk bisa dikendalikan Negara lagi (DPR dan ESDM). Semuanya mengikuti mekanisme pasar bebas dan suka suka Kartel Liswas. Karena monopoli sdh berpindah tangan dari PLN ke Kartel Liswas !

Inilah hakekat perubahan itu !

MAGELANG, 5 MEI 2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.