Home Ekbiz Corporate Tanggul Tambang Batubara Berau Jebol dan Banjir Parah

Tanggul Tambang Batubara Berau Jebol dan Banjir Parah

0
sumber berau kaltim

Ratusan rumah di Kampung Bena Baru, Sambaliung, Berau terendam banjir. Selain karena luapan air Sungai Kelay. Banjir ini juga diperparah jebolnya tanggul tambang batu bara milik PT Putra Perkasa Abadi (PPA) site Rantaupanjang Utama Bhakti (RUB).

Bupati Berau, Sri Juniarsih mengaku sudah mendapat laporan soal jebolnya tanggul air tambang tersebut yang terjadi pada Minggu (16/5) sekira pukul 05.00 Wita. Areal tambang tersebut diketahui berjarak 300 meter dari Sungai Kelay.

Pihaknya mengungkapkan, akan menindaklanjuti persoalan itu untuk mencari solusi. Sebab dikhawatirkan akan berdampak terhadap masyarakat, terutama berkaitan dengan penggunaan air. “Kami khawatir tercampur yang dari tambang dengan sungai, apalagi kampung juga terendam banjir,” kata Sri, seperti dikutip laman Kaltim Today.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Mansur menerangkan, telah menerima informasi terkait jebolnya tanggul areal tambang PT PPA site RUB. Pihaknya pun akan melakukan identifikasi.

Mansur  belum bisa memberikan keterangan lebih detail, karena belum mengetahui peristiwa tersebut. “Nanti, dilihat dulu di lapangan seperti apa kondisinya,” katanya.

Ketika ditanya soal pengawasan lingkungan di areal PT PPA site RUB, Mansur menilai, sejauh ini biasa-biasa saja dan tidak ada masalah, dan kejadian merupakan hal di luar prediksi, atau kejadian alam. “Itu memang tidak bisa diprediksi, karena jebolnya itu diduga akibat banjir yang terjadi di wilayah hulu. Kalau pengelolaan lingkungannya, bagus-bagus saja. Makanya besok mau kami tinjau dulu,” pungkasnya.

Dampak dari jebolnya tanggul membuat akses jalan menuju Kampung Bena Baru, Kecamatan Sambaliung putus total.
Kepala Kampung Bena Baru, Leth. Dikatakannya, akses jalan diketahui putus total pada Minggu (16/5/2021) sekitar pukul 05.00 Wita. Aktivitas masyarakat menjadi terhambat, karena tidak bisa melintas. “Jalan ini merupakan akses darat satu-satunya yang dilalui masyarakat. Kalau putus seperti sekarang, berarti aktivitas lumpuh,” tuturnya.
(sumber kaltimtoday/ewindo-red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.