Home Lingkungan Hidup Digagas Gen-Z dan Milenial, Krisis Iklim Layak Jadi Agenda Politik Utama?

Digagas Gen-Z dan Milenial, Krisis Iklim Layak Jadi Agenda Politik Utama?

52
0
ilustrasi Photo: Pexels | Ron Lach
ilustrasi Photo: Pexels | Ron Lach

ENERGYWORLD.CO.ID – Menjelang momentum 92 tahun Sumpah Pemuda dan COP26 Glasgow, Indikator Politik Indonesia dan Yayasan Indonesia Cerah (CERAH)melakukan survei yang menyasar responden anak muda berusia 17-35 tahun. Sampel berasal dari seluruh provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional dan mewakili lebih dari 80 juta penduduk pada Pemilu 2024.

Secara umum, survei ini menunjukan bahwa anak muda di Indonesia menaruh perhatian serius pada krisis iklim. Responden beranggapan bahwa fenomena perubahan iklim semakin mengkhawatirkan, memicu dampak lebih luas, dan pemerintahlah yang paling bertanggung jawab untuk mengatasi persoalan tersebut. Yang juga menarik, partai politik dianggap belum memberi perhatian dan belum menjadikan krisis iklim sebagai prioritas dalam agenda politik.

“Survei ini adalah survei pemuda paling masif yang pernah ada di Indonesia,” ujar Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia.

“Gen Z dan milenial merupakan proporsi terbesar dari populasi Indonesia. Proses peremajaan sedang terjadi di Indonesia. Sangat penting memotret pendapat dan memetakan isu perubahan iklim dan politik anak muda. Jika politisi dapat menyerap aspirasi anak muda, maka demokrasi Indonesia akan membaik,” tambah Burhan.

”Harapan kami, hasil survei ini dapat membuka mata para politisi dan pengambil kebijakan dan menjadi bukti bahwa krisis iklim perlu menjadi agenda politik utama di Indonesia sebagaimana krisis iklim menjadi isu politik di berbagai negara besar di dunia,” harap Adhityani Putri, Direktur Eksekutif CERAH.

Kesadaran dan Dorongan Beraksi

Berdasarkan survei ini juga terungkap bahwa mayoritas atau 82% responden
anak muda di Indonesia mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden
menyebutkan, korupsi merupakan isu pertama yang paling mereka khawatirkan dan
diikuti dengan kekhawatiran akan kerusakan lingkungan sebanyak 82% responden.
Isu polusi udara dan perubahan iklim tercakup dalam delapan besar isu yang paling
dikhawatirkan anak muda.

Menurut mayoritas responden anak-anak muda ini, perubahan iklim merupakan masalah serius yang dampaknya terhadap Indonesia hingga komunitas dan individu telah mereka rasakan saat ini. Sebagaimana tergambar dalam sejumlah peristiwa yang terjadi sekarang dibanding lima tahun lalu. Sebanyak 63% responden setuju bahwa cuaca yang lebih panas pada musim kemarau merupakan peristiwa yang paling dirasakan, diikuti perubahan cuaca mendadak 60%, dan 35% hujan serta banjir yang lebih sering terjadi.

Hasil survei juga mengungkapkan sejumlah faktor yang menjadi penyebab perubahan iklim di Indonesia, yaitu penggundulan hutan (deforestasi) sebagai faktor terbesar, sumber emisi gas rumah kaca seperti gas buang sektor transportasi dan PLTU batu bara serta pertambangan termasuk dalam 10 besar penyebab perubahan iklim.

Dampak dari perubahan iklim yang telah dirasakan tersebut, menurut 53% responden, telah mendatangkan kerugian bagi warga Indonesia. Karena itulah, mayoritas responden menyatakan, semua pihak harus ambil bagian dalam mengurangi dampak perubahan iklim, dan menitikberatkan peran pemerintah untuk mendorong upaya mengatasi persoalan ini.

Pemerintah disebut harus berinvestasi mengembangkan sumber energi terbarukan seperti angin dan surya karena lebih bersih ketimbang batu bara. Mayoritas responden juga setuju bahwa untuk mengatasi perubahan iklim, emisi dari industri dan perusahaan yang memproduksi bahan bakar fosil harus dikurangi.

“Ini adalah survei bersejarah di Indonesia. Hari ini di Indonesia, isu-isu lingkungan, sustainable development, dan climate change belum menjadi isu populis untuk para politisi saat pemilu dan pilkada. Kemungkinannya dua, yaitu politisi tidak paham isu atau tidak paham bagaimana menjangkau pemilih pemula dan muda untuk memilih isu dan selanjutnya mengkomunikasikan isu tersebut. Jadi lebih banyak menjadikannya sebagai gimmick. Padahal anak muda suka yang substansial dan isu climate change seksi di mata anak muda,” ujar Wali Kota Bogor sekaligus politisi PAN Bima Arya Sugiarto yang hadir pada acara peluncuran temuan survei.

Prioritas Politik

Tak hanya menyatakan kekhawatiran dan mendesak pemerintah mengambil tindakan, responden juga rela membayar biaya tambahan per bulan untuk mengatasi krisis iklim. Sebanyak 43% anak muda rela merogoh kocek maksimal Rp 30 ribu per bulan untuk mitigasi perubahan iklim di Indonesia. Menariknya, jumlah ini setara dengan nilai pajak karbon bagi 1 ton karbon apabila menilik UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan yang baru-baru ini disahkan oleh DPR beberapa waktu yang lalu.

Sebanyak 78% responden anak muda menyatakan, mereka berpartisipasi pada Pemilu 2019 dan sebanyak 84% menyatakan akan ikut dalam Pemilu 2024. Sebagaimana diketahui, terdapat 42 juta Pemilih Muda Milenial pada Pemilu 2019. Jumlah ini berpotensi meningkat dua kali lipat dengan hadirnya pemilih pemula Gen Z tahun 2024. Mayoritas responden berpendapat, partai politik belum punya perhatian serius soal perubahan iklim dan belum menjadikannya sebagai agenda politik (hampir semua partai hanya meraih nilai di bawah 5%).

“Survei ini adalah bekal dan data yang dapat kami bawa sebagai politisi milenial untuk memperjuangkan isu krisis iklim di partai. Realitanya, sedikit sulit untuk memperjuangkan isu ini di lapangan. Tetapi banyak partai yang membicarakannya. Berbicara dengan mayoritas DPR sekarang yang usianya di atas milenial banyak yang belum melihat ini sebagai hot issue,” tambah Rahayu Saraswati, politisi Partai Gerindra yang juga hadir dalam peluncuran.

Putra Nababan, anggota DPR Komisi X dan Politisi PDI Perjuangan pada acara
peluncuran temuan survei ini mengapresiasi. “Survei ini sesuai dengan ekspektasi saya bahwa Gen Z dan Milenial mengerti tentang isu ini. Kesadaran itu belum merata baik di DPR, pemerintahan, partai politik , media dan masyarakat. Ini calling kita sebagai anak bangsa untuk bergerak.”

Survei dilakukan secara tatap muka dengan metode stratified multistage random sampling. Jumlah sampel yang mencapai sebanyak 4.020 responden terdiri atas 3.216 responden usia 17-26 tahun dan 804 responden usia 27-35 tahun. Teknik sampling disusun sedemikian rupa agar dapat mewakili seluruh penduduk Indonesia dengan rentang usia 17-35.

Responden ini terdiri atas dua ukuran sampel. Ukuran sampel pertama sebanyak 3.216 responden di usia 17-26 tahun memiliki toleransi kesalahan (margin of error-MoE) sekitar ±1,8% pada tingkat kepercayaan 95%. Sementara ukuran sampel kedua sebanyak 804 responden usia 27-35 tahun memiliki toleransi kesalahan (MoE) sekitar ±3,5% pada tingkat kepercayaan 95%. Secara agregatif total sampel 4.020 responden usia 17-35 tahun memiliki toleransi kesalahan (MoE) sekitar ±2,7% pada tingkat kepercayaan 95%. |WAW-EWINDO

Previous articleLahan Tercemar TTM Chevron Jadi Tandus dan Tak Bisa Ditanami Lagi
Next articleMitsubishi Power Mulai Operasikan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Gas GTCC 500 MW di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.