Home BUMN INDIKASI GUNAKAN EPC SYSTEM, PROYEK KA CEPAT JKT-BDG TERANCAM “MANGKRAK”.

INDIKASI GUNAKAN EPC SYSTEM, PROYEK KA CEPAT JKT-BDG TERANCAM “MANGKRAK”.

23
0

Oleh : Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST.

Membaca Majalah Tempo Edisi tgl 8 -14 Nopember 2021 hal 8, berjudul “Terjerembab Kereta Cepat” , yg semula direncanakan akan memakan biaya AS$ 6,07 miliar atau Rp 87,6 triliun akhirnya membengkak menjadi AS$ 8 miliar itupun akhirnya dibiayai dng APBN. Sedangkan schedulle proyek yang aslinya Januari 2016 – Akhir 2019 , akhirnya molor ke akhir 2022 , serta bbrp catatan Tempo terkait “carut marut” nya proyek KA tsb, dimana :

1. Perencanaan tidak akurat dari awal.
2. Terjadinya perubahan trace/lintasan.
3. Akurasi data perencanaan dan assumsi pembiayaan yang amburadul.
4. Pengabaian tuntutan DPR yang minta agar Perencanaan di audit dahulu oleh BPK.

Itulah “list” permasalahan proyek yang muncul di Laporan Majalah Tempo edisi diatas.

Maka menurut pengamatan INVEST (Indonesia Valuation for Energy and Infrastructure), itu semua karena pelaksanaan Proyek dilakukan melalui EPC ( Engineering , Procurement, Construction) System. Yaitu suatu Proyek yang seluruh paket (baik Feasibility Study , pra design, amdal, detail engineering design (DED), Procurement, maupun pelaksanaan fisiknya, semuanya dilakukan dalam satu paket dengan menunjuk satu Main Contractor yaitu Konsursium KCIC (Kereta Cepat Indonesia China) yg didalamnya ada Kontraktor KA China dan PT KAI (dan BUMN Wijaya Karya, PTP dll).

Kecenderungan ini dapat dilihat mengingat Project Schedulle yang sangat pendek antara Januari 2016 – akhir 2019, dimana saat itu Perencanaan Proyek KA Cepat tsb belum ada sama sekali. Atau semua itu merupakan proyek “dadakan”, atau ibaratnya Jkw saat itu bermimpi bikin proyek dan paginya memanggil para Menteri dibidangnya untuk merealisasikan mimpinya itu. Dan dengan memanggil para ahli transportasi, dibuatlah “conceptual design” atau design “coret coretan ” diatas selembar kertas yang menggambarkan “trace” KA itu dari Jakarta-Bandung !

I. PERENCANAAN TDK AKURAT DARI AWAL.

Pelaksanaan proyek pada umumnya pasti dilakukan melalui “sequence” yang benar yaitu diawali gagasan, pra FS, pra design, FS, design, AMDAL, procurement dan pelaksanaan proyek, yang semuanya dilakukan oleh komunitas yg berbeda beda, mulai konsultan perencana, konsultan AMDAL, tahap procuremen/pengadaan/lelang , penunjukan Kontraktor Pelaksana. Dimana untuk proyek besar spt proyek KA Cepat ini paling tidak untuk tahapan Gagasan/Perencanaan sampai Lelang/Penunjukan Kontraktor Pelaksana akan memakan waktu sekitar tiga tahun. Sedangkan proyek KA Cepat ini semuanya (dari gagasan sampai selesainya fisik proyek) direncanakan hanya memakan waktu 3 (tiga tahun). Meskipun akhirnya menjadi lima tahun (sampai akhir 2022).

II. TERJADINYA PERUBAHAN TRACE / LINTASAN.

Karena tdk adanya FS dan Investigasi sebelumnya, dan biasanya hanya mengandalkan peta topografi, maka saat pelaksanaan terbentur dng kondisi batuan maupun tropogafi yg diluar dugaan. Dan terpaksa dilakukan penggesaeran trace.

III. AKURASI DATA PERENCANAAN DAN PEMBIAYAAN YG AMBRADUL.

Sebagaimana dijelaskan pada angka Romawi I.

IV. PENGABAIAN TUNTUTAN DPR AGAR PERENCANAAN DI AUDIT DULU OLEH BPK.

Bila DPR RI menuntut spt itu, berarti mereka tdk paham EPC System. Apa nya yg mau di audit kalau perencanaan baru dibikin secara paralel dng pelaksanaan konstruksi ?

KESIMPULAN.

KA Cepat Jakarta – Bandung ini sesuai informasi yg beredar adalah jenis Maglev ( Magnetic Levated ) yaitu KA tanpa roda ( bergerak dng lempeng baja yg melayang sekian mm diatas rel baja juga). KA ini bisa mencapai kecepatan 350 km/jam.

Sehingga memerlukan konstruksi yg berat dan akurat. Terutama pada konstruksi jembatan yg berada di sekitar Leuwi Jurig (sekitar Purwakarta – Cirata ) dng panjang sekitar 100 m dan dalam 50 m, diperlukan konstruksi baja dng perhitungan effek “buckling” yang akurat untuk menahan dampak kecepatan yang tinggi.

Intinya, sangat gegabah bila pelaksanaan Konstruksi menggunakan EPC System hanya karena pertimbangan instant demi mengejar “prestige” !

Resiko yang sangat mungkin adalah “mangkrak” nya proyek tsb !

JAKARTA, 8 NOPEMBER 2021.

Previous articleDirut PHR Lebih Baik Fokus Tingkatan Produksi dan Bereskan Limbah B3 TTM Blok Rokan daripada Sibuk Pencitraan
Next articleWaduh….! Selama Transisi Operator Blok Rokan Dari Chevron Ke PHR Melorot Produksi 47 Ribu Barel Perhari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.