Home BUMN Perang Ukraina Cuci Gudang Sisa Senajata Perang Dingin

Perang Ukraina Cuci Gudang Sisa Senajata Perang Dingin

134
0
Salamuddin Daeng, Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)/IST

OLEH Salamuddin Daeng

1. Dunia sekarang tengah menuju kepada perang digital, robotik, drone, ini akan menjadi konvensional di masa mendatang. Perang model lama sudah tidak relevan di era FB, instagram, twitt, tiktok. Semua dipaksa diganti.

2. Perang Ukraina adalah usaha mempertahankan supremasi aktor perang dingin, mulai dari the Fed dengan petro dolar, korporasi raksasa energi fosil, industri turunannya, negara negara penyimpan senjata yang sudah mulai berkarat di gudang gudang. Mereka terdesak, kepunahan.

3. Fakta lihat, volume perdagangan minyak tidak mengalami peningkatan dalam satu dekade terakhir, artinya industri stagnan, ini membenarkan teori over production, sementara pada saat yang sama deman stagnan atau cenderung menurun membenarkan adanya underconsumption. Pertumbuhan ekonomi yang lebih banyak disebabkan oleh pertumbuhan semua juga tidak significant.

4. Fakta bahwa utang global telah mencapai 225 persen setara global GDP. Menempatkan posisi pemerintahan dan korporasi swasta dalam keadaan tidak akan sanggup membayar utang.. Sebagian besar utang malah dikontribusikan oleh aktor utama pemenang perang dunia ke dua, diluar Rusia.

5. Sebelum perang Ukraina meletus ada banyak perang dan konflik lain di kawasan yang juga sudah meletus, tapi sama sekali tidak significant menopang institusi, korporasi, keuangan aktor produk perang dingin.

6. Satu dari segelintir pembelian senjata tahun ini yang angkanya sangat besar adalah pembelian alutista oleh Indonesia ke Perancis, selain itu tak ada yang significant. Apalagi ditengah covid negara pengguna senjata benar benar kere. Hanya Indonesia yang nekar beli senjata dan alat perang mahal.

7. Satu satunya peluang bagi aktor warisan perang dingin adalah bahwa dunia sekarang menghendaki pengurasan habis habisan keuangan publik. Iki skenarionya. Jadi selama dua tahun lebih dikuras keuangannya oleh covid 19, maka negara yang nekad nekad seperti indonesia bisa melanjutkan dengan mega proyek belanja alutista dengan alasan ancaman perang. Tentu saja pake utang atau nge Bond.

8. Sementara coved terus berlanjut, Who telah mengeluarkan model analisis manfaat covid dengan teori expected negatif sustainability impact of corona virus, ini menganai peluang bomingnya industri farmasi karena masyarakat dunia sakit sekarat dan butuh farmasi, sehingga akan menjual apa saja harta bendanya. Who telah mendorong treaty yang memungkinkan konstitusi WHO bersifat legally binding bagi semua negara.

8. Perang yang paling keras adalah usaha bertahan atau survive petro dolar system the Fed, yang hendak menghalau cripto curency sebagai global exchange. Bagian lain para badar uang gelap, hasil penghinaan pajak, menyerang secara membabi buta digitalisasi, uang digital dan cripto yang dicap sebagai kejahatan. The Fed sudah menyatakan perang kepada cripto. Semua institusi multilateral telah selesai atas masalah ini dengan menetapkan dan memastikan menghentikan apapun bentuk dukungan kepada energi fosil. Ini memang benturan keras! (RED)

Previous articlePerintah SKK Migas untuk Metode Pemulihan Limbah B3 di Blok Rokan Jebak PHR?
Next articleSituasi Membuat Jokowi Sulit bertahan, Sampaikan Salam Buat Pak Presiden

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.