Home Ekbiz Corporate Siapa Biang Kerok Kelangkaan Minyak Goreng?

Siapa Biang Kerok Kelangkaan Minyak Goreng?

800
0

ENERGYWORLD.CO.ID – Selama beberapa minggu belakangan ini minyak goreng langka dan kalaupun ada harganya berlipat ganda. Pertanyaannya : Ulah siapa ini? Penimbun? Jika demikian, kenapa baru sekarang? Apakah mereka berkonspirasi mengguncang pemerintahan? Lalu kenapa pemerintah terkesan tidak siap?

Well hal itu mungkin-mungkin saja, namun rasanya tidak sesederhana itu. Masalah yang terjadi hari ini adalah efek dari berbagai hal yang terjadi sebelumnya dan sebelumnya lagi dan baru meledak hari ini.

Yang konon, kisahnya adalah sebagai berikut :

1. Seperti kita tahu Uni Eropa memblock sawit Indonesia yang merupakan salah satu komoditi export unggulan Indonesia
2. Akibatnya harga sawit jatuh dan banyak bahan tidak laku yang menyebabkan pengusaha merugi, menjerit, dan memohon bantuan pemerintah, dengan dalih mereka memperkerjakan ribuan karyawan.
3. Pemerintahan Presiden Jokowi melakukan langkah penyelamatan segera dengan mengaktifkan program bio solar. Intinya adalah program ini menggunakan minyak kelapa sawit untuk sebagai campuran solar beroktan tinggi, yang sebagai gantinya, para pengusaha diminta berkomitmen sekian % hasil produksi mereka untuk dikontribusikan dalam program bio solar ini.
4. Sementara itu, lobby – lobby ke Uni Eropa dibawah komando Oppung Luhut terus berlangsung.

Sialnya… program bio solar sukses dan lobby oppung Luhut juga sukses, yang artinya :

1. Pengusaha yang terikat kontrak bio solar tetap harus supply bio solar
2. Sementara pasar Eropa mulai terbuka kembali, yang artinya kesempatan menjual ke Eropa yang margin keuntungannya lebih tinggi mulai terbuka kembali

Hasilnya? Minyak goreng yang tadinya jatah dalam negri tersedot ke export dan akibatnya adalah kekosongan stok dalam negri, apa yang terjadi jika stok kurang? Mereka yang beruntung mendapatkan stok akan menaikan harganya. Dan itu suatu yang normal. Yang akhirnya terjadilah seperti saat artikel ini saya tulis. Yaitu minyak goreng dalam negri langka dan kalaupun ada, harganya tinggi sekali.

Peristiwa ini diperburuk dengan :

1. Kondisi pandemi yang belum usai dan menyebakan pemerintah harus terus mensubsidi ini itu di segala bidang
2. Momen menjelang puasa yang mana biasanya harga-harga memang akan naik
3. Perang Russia – Ukraina yang sedikit banyak mengganggu hubungan Indonesia dengan Ukraina dan Russia (Untuk Ukraina, apa yang biasa kita import dan export kesana murni terhambat. Sedangkan untuk Russia yang dimusuhi negara-negara barat, akan menyulitkan posisi Indonesia jika ingin tetap berdagang dengan mereka. Apalagi Russia yang ditendang dari SWIFT, hingga transfer pembayaran menjadi terhambat. Perlu lobby khusus yang tidak mudah jika Indonesia ingin tetap berbisnis dengan Russia)
4. Dan tentu saja mereka-mereka yang selalu mencari celah untuk mewakili rakyat menjerit atas penderitaan mereka.

Pelajaran?

Melihat peta situasi yang diatas, saya tidak mau menyalahkan pemerintah. Saya yakin pemerintah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan kesejahteraan pada rakyatnya ditengah resource yang sangat terbatas. Namun ada beberapa pelajaran yang bisa diambil disini :

1. Jika terjadi hal seperti diatas lagi, dan pengusaha menjerit minta di tolong, ingatlah resiko kejadian seperti hari ini
2. Kedua jikapun terpaksa menolong, tolong karena ini adalah kebutuhan strategis nasional, pastikan para pengusaha yang ditolong itu diwajibkan menanda tangani kontrak untuk terlebih dahulu memenuhi kebutuhan strategis dalam negri, sebelum menerima export. Dengan demikian pada saat mereka berebutan jatah kuota pemerintah seperti kasus bio solar yang lalu itu, mereka sadar bahwa ada resiko dimasa depan mereka tidak boleh export lagi sampai mereka memenuhi kewajiban pemenuhan kuota strategis dalam negri. Akhirnya mereka tidak akan sembrono mengambil kontrak banyak-banyak sampai sikut kanan kiri, tapi benar-benar berusaha bertahan dengan resources mereka yang ada, dan hanya minta kuota negara jika memang terpaksa.

Solusi ?

Keadaan sudah begini mau menjerit atau gimanapun sudah telat. Yang penting adalah kita bersatu bersama untuk menyelesaikan masalah di depan mata. Jadi apa solusinya?

Melihat sekilas, mudah sekali kita tebak bahwa sumber masalahnya adalah proyek bio solar. Tinggal kita anulir atau tunda dulu proyek itu masalah selesi kan? Eiiits tidak semudah itu. Karena :

1. Proyek sudah jalan, sudah ada pihak yang berinvestasi besar disana dan sudah menerima kontrak yang diperolehnya dengan adil. Menghilangkan proyek ini mendadak tidak adil bagi dia dan pemerintah akan terlihat serampangan dan tidak bisa dipercaya
2. Secara teknis mungkinkah ada dampak luar biasa yang negatif jika proyek ini dihentikan mendadak?
3. Bio solar adalah produk undang-undang, harus diselesaikan secara undang-undang juga, karena pelaksana dibawah hanya tahu mentaati peraturan dan tidak boleh sembarangan kreatif ngubah-ubah juklak yang sudah berlaku. (perihal ini bisa kita ambil pelajaran saat pemerintah bilang di awal covid, bahwa semua cicilan diliburkan, tapi di bawah tagihan terus berjalan, dan aset-aset tetap di sita, karena pemerintah hanya beri statement tanpa diikuti juklak pelaksanaan yang valid).
4. Belum lagi kelompok-kelompok yang siap berteriak, menjerit, menyindir, atau menuduh pemerintah tidak kompeten dan gagal, karena menutup proyek bio solar.
5. Dan lain sebagainya yang mungkin saya tidak terpikir.

So what?

Pertama, Pemerintah harus ditenangkan dan diyakinkan, bahwa dengan berakhirnya bio solar tidak akan membawa kekacauan yang memusingkan dikemudian hari. Minimal diyakinkan bahwa rakyat akan menerimanya dengan rasa syukur dan maklum. Maka itu :

1. Pertama mohon pada semua elemen masyarakat untuk mengesampingkan ego menjerit-jerit dan kegirangan atas kegagalan pemerintah dan memilih penurunan harga. Pemerintah pun, sebaiknya berani menantang balik ini, jika terus di cecar nantinya.
2. Kedua semua elemen melakukan permohonan untuk meninjau kembali atau mengurangi, atau menunda proyek bio solar. Dan berjanji tidak akan merongrong dalam prosesnya, selama dilakukan dengan benar.

Dengan demikian, pemerintah akan tenang dan fokus pada solusi bukan energynya terbagi untuk menangkis isu, fitnah, dan kritik.

Kedua, kita sadar ini mungkin adalah proyek skala besar yang menyangkut kepentingan banyak sekali pihak. Mungkin sudah seperti benang kusut di dalamnya yang harus diuraikan. Maka itu mari kita belajar pada “The Great Reset” di “Davos” :

1. The Great Reset adalah proyek besar yang mana salah satu agendanya adalah menghapuskan seluruh utang di dunia, dan mulai dari nol lagi.
2. Pertanyaannya : bagaimana nasib pemberi hutang? Apakah mereka menerima? Apalagi uang yang digunakan untuk memberi hutang itu adalah uang yang dihimpun dari masyarakat. Jika great reset dijalankan, apakah tabungan masyarakat yang sudah dihutangkan ke orang itu jadi nol juga? bagaimana nasib mereka? Dan banyak pertanyaan lainnya.
3. Maka itu diadakanlah meeting di Davos. Dimana semua pemangku kepentingan strategis hadir, yang mana pertama semuanya dipastikan untuk menyadari, bahwa masalah ekonomi dunia ini sekarang adalah terlalu banyak hutang. Dan jika demikian terus ekonomi dunia akan membawa kehancuran bagi kita semua. Maka itulah perlu great reset
4. Setelah semua sadar akan hal itu barulah mereka diajak duduk bersama dan cari solusi bersama.

Bagaimana dengan kita ?

1. Kita bisa meniru Davos meeting, dengan mengundang semua pemangku kepentingan yang terkait proyek bio solar, dan menyepakati bersama, bahwa bio solar ini adalah masalah dan harus dianulir atau minimal dikurangi porsinya segera
2. Dari titik ini pembicaraan bisa dimulai
3. Namun karena keadaannya darurat dan perlu solusi cepat, maka pemerintah harus juga menggunakan kekuatannya untuk memaksa mereka-mereka yang tidak tahu diri, serakah, dan cenderung mementingkan diri sendiri, bahkan setelah hak mereka di kembalikan.

Akhir kata, solusi ini mungkin tidak bisa memberikan hasil instan, dan kita bangsa pecandu gorengan ini harus tunggu beberapa bulan lagi sampai kondisi stabil. Namun demikian, daripada berdiam diri bukankah ini solusi yang terbaik, dan di masa depan mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk kasus-kasus lainnya.

William Win Yang
Business Strategist
KABID Digitalisasi KADIN Indonesia

Previous article“ADA APA DENGAN HOLDINGISASI PLN ?”
Next articleSolidaritas Jurnalis Demo Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Riau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.