Home BUMN Bagaimana Presiden Jokowi Membuat Pertamina Berjaya?

Bagaimana Presiden Jokowi Membuat Pertamina Berjaya?

594
0
Gedung Kantor Pusat Pertamina Jakarta

Empat tahun Pertamina merosot, kelanjutan dari sewindu menuju kebangkrutan permanen

Oleh Salamuddin Daeng

Sejarahan perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan tak lepas dari sejarah perjuangan mewujudkan kedaulatan negara atas migas. Demikian pula halnya sejarah Pertamina mengambil bagian paling penting dalam perjuangan mewujudkan Negara Republik Indonesia yang berdaulat Adil dan Makmur.

Pertamina dibangun sebagai strategi dalam mewujudkan kedaulatan negara atas minyak dan gas (migas). Segenap daya upaya dilakukan agar kekayaan migas dikuasai oleh negara melalui Pertamina. Dengan demikian maka Pertamina dapat menjadi tulang pungung bagi perekonomian negara dan sebagai perpanjangan tangan negara dalam memenuhi kebutuhan hidup rakyat yang paling dasar yakni energi minyak dan gas.

Namun apa yang terjadi dalam sewindu? Ternyata Pertamina tengah menuju kepunahan. Perlahan namun tampak jelas jalan yang dilaluinya menuju jurang keruntuhan. Mengapa dibilang demikian? Pertamina adalah perusahaan besar, pernah menjadi yang terbesar dari seluruh perusahaan di Asia diluar perusahaan Jepang pada tahun 1970 an. Pertamina telah mengembangkan bisnisnya hingga menjadi mercusuar dunia. Diperhitungkan sebagai perusahaan raksasa yang berkantor di London, New York dan Tokyo. Di masa yang lalu itu dunia mengenal Pertamina.

Satu dekade terakhir, Pertamina menurun tangga dengan cepat menuju jurang. Kasat mata terlihat bagaimana revenue atau pendapatan perusahaan minyak terbesar di Tanah air ini merosot hampir separuh. Tahun 2012 perusahaan ini masih sanggup memperoleh pendapatan 70,3 miliar dolar atau setara dengan 1020 triliun rupiah (pada kurs 14.500 per dolar). Pertamina satu satunya perusahaan BUMN non bank berpemdapatan di atas 1000 triliun rupiah.

Namun perjalanan nasib Pertamina dalam sewindu bagaikan menghadapi musim pancaroba yang panjang. Tahun 2020 Pertamina tenggelam dalam mimpi buruk. Pendapatan perusahaan hanya tersisa 41,5 miliar dolar atau hanya 610 triliun rupiah. Dulu berpendapat ribuan triliun sekarang hanya ratusan triliun. Bagaimana bisa?

Pasti masyarakat akan bingung. Jumlah kendaraan tambah banyak, jumlah mesin mesin tambah banyak. Jumlah kendaraan bermotor tambah banyak, tapi pendapatan pertamina berkurang separuh hanya dalam sewindu. Bagaimana ceritanya? Padahal jika sekarang Pertamina menjual 71 miliar liter BBM maka dari BBM saja bisa memperoleh pendapatan 500 triliun rupiah. Belum dihitung jual minyak mentah, belum dihitung jual oli, belum dihitung jual limbah hasil kilang, belum dihitung hasil jual gas, dll. Jadi bagaimana Pertamina sekarang hanya berpendapat 600 triliun rupiah.

Lebih parah lagi empat tahun terakhir, ini lebih buruk dari mimpi buruk. Keuntungan Pertamina turun dari 5,7 miliar dolar (tahun 2018) menjadi hanya 2,2 miliar dolar (tahun 2020). Padahal Dirut baru wanita paling berpengaruh memegang kendali Pertamina. Namun konon tahun 2021 Pertamina hanya berharap keuntungan satu miliar dolar menurut Komisaris Utama Pertamina. Empat tahun dengan kejatuhan paling parah yakni 82 persen dari posisi tahun 2018. Benar benar sesuatu yang rumit.

Seandainya big data milik Opung LBP diminta menganalisis ratusan variabel penyebab turunnya pendapatan Pertamina, maka big data akan error, karena tak menukan kesesuaian antara data dan fakta. Semua data yang dikalkulasi ternyata tidak sejalan dan seirama dengan fakta yang ada. Big data Opung LBP bisa error.***

Previous article“PLINTIRISASI” PTS MK DALAM SEMINAR :”HOLDINGISASI VS PSO PLN”
Next articlePEMERINTAHAN KAPITALIS, SAMPAI KAPAN?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.