Home Ekbiz Corporate PRIHATIN: Rencana Kenaikan Tarif Listrik, Efisiensi PLN dan Penghematan APBN

PRIHATIN: Rencana Kenaikan Tarif Listrik, Efisiensi PLN dan Penghematan APBN

244
0
Ilustrasi

INI 13 POIN SOAL AKAN NAIKNYA LISTRIK

Oleh  Salamuddin Daeng

1. Kenaikan tarif listrik bukan kebijakan yang tepat bagi Indonesia. Ada faktor utama yang menyebabkan yakni rendahnya konsumsi listrik nasional akibat perlambatan ekonomi, kemandekan dalam pertumbuhan Industri dan dorongan pada elektrifikasi di banyak aspek kehidupan ekonomi kurang berjalan.

2. Perlu dijelaskan bahwa di belahan dunia lain dorongan ke arah elektrifikasi mesin mesin industri, transformasi dan juga alat rumah tangga menjadi fokus utama saat ini. Tujuannya adalah mencapai target penurunan emisi dalam kerangka agenda menghadapi climate change. Namun agenda ini di Indonesia kurang di dukung kalangan industri dan pemerintah serta bank Indonesia dan OJK.

3.. Perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi mengakibat konsumsi listrik rendah. Perlambatan terjadi dalam konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang terbesar pertumbuhan, investasi yang mandek dalam industri serta aktifitas perdagangan yang menurun. Penurunan terjadi terutama pada masa pandemi covid 19 dan belum pulih sampai saat ini.

4. Urusan utama PLN sekarang adalah bagaimana menjual listrik sebanyak banyaknya. Untuk mengimbangi produksi yang besar.. Sehingga secara teori tidak mungkin menaikkan tarif disaat konsumsi menurun. Berdasarkan teori permintaan dan penawaran maka itu akan membuat penjualan listrik PLN akan semakin merosot. Sementara data saat ini sebanyak 50 persen dari kapasitas listrik PLN tidak dapat dijual. PLN menyebutnya sebagai kelebihan kapasitas atau over supply.

5. Kelebihan kapasitas produksi listrik PLN ini disebabkan oleh berbagai mega proyek ketenagakistrikan mulai dari program 10 ribu megawatt, 35 ribu megawatt, yang kurang mempertimbangkan perlanbatan ekonomi dalam satu dekade terakhir. Ini adalah masalah yang sangat sulit yang hanya bisa diatasi dengan mematikan pembangkit yang sebagian besar ada di Jawa Bali. Masalah kelebihan produksi harus menjadi fokus perhatian PLN saat ini.

6. Pangkal inefesiensi di PLN adalah produksi yang besar, biaya yang besar sementara penjualan mengecil. Untuk meningkatkan efisiensi di PLN secara teori harus menekan biaya dan meningkatkan penjualan agar pendapatan meningkat. Dikarenakan meningkatkan pendapatan dengan menaikkan tarif hampir tidak mungkin karena konsumsi yang menurun. Maka yang paling mungkin adalah mengurangi biaya.

7. Biaya biaya dalam operasional PLN itu datang dari 3 sumber utama yang paling besar yakni ; pembelian energi primer batubara dan gas, pembelian a listrik swasta dan biaya bunga atas utang utang PLN yang besar. Untuk mengurangi biaya maka PLN harus mengurangi penggunaan energi primer batubara dan gas. Mengurangi pembelian listrik swasta dan melakukan renegosiasi utang. Ketiganya mesti dilakukan secara bersama sama.

8. Biaya pembelian energi primer yang besar dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan energi yang sekarang, meminta penurunan harga, meningkatkan bauran energi dari sumber ramah lingkungan dan murah. Langkah mengurangi penggunaan energi primer yang sekarang dapat juga dilakukan dengan mematikan pembangkit yang tidak efisien. Membangun terobosan sumber energi ramah lingkungan yang murah agar sejalan dengan agenda climate change.

9. Biaya pembelian listrik swasta dapat dikurangi dengan mengubah sistem take or pay digantikan dengan sistem take and pay. Pemberlakuan sistem take or pay yang perlu diakhiri adalah dari pembangkit fosil batubara, pembangkit di Jawa Bali yang sudah over supply. Sebaliknya untuk pembangkit ramah lingkungan yang efisien dan berada di luar pulau jawa masih tetap dapat diberlakukan take or pay.

10. Mengenai rencana penghematan subsidi terhadap listrik, maka itu menjadi domain pemerintah. Subsidi listrik di Indonesia relatif kecil dibandingkan dengan negara lainnya dikaitkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Langkah ini tampak akan ditempuh dengan menaikkan tarif listrik golongan paling bawah. Sementara keadaan masyarakat di lapisan terbawa itu tidak mungkin dapat menerima kenaikan tarif ditengah pendapatan mereka yang merosot

11. Kenaikan tarif pada golongan atas terutama industri akan mengakibatkan industri nasional akan ketinggalan jauh dengan negara dan kawasan lainnya yang akan mengakibatkan kekahan dalam perdagangan internasional. Mengingat harga listrik Indonesia lebih tinggi dari saingan dagang utama yakni India dan China. Ini akan membuat neraca perdagangan akan semakin terpuruk dan melemah mengalami tekanan barang barang industri impor.

12. Tugas utama pemerintah sekarang adalah memperbaiki pertumbuhan ekonomi, memulihkan dan meningkatkan konsumsi, menggerakkan industrialisasi yang luas, kesemua itu butuh dukungan harga listrik yang terjangkau, lebih murah. Bukan sebaliknya dengan menaikkan tarif barang publik.

13. Pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana cara mencari sumber pendapatan negara baik pajak maupun non pajak yang selama 10 tahun terakhir pendapatan negara terhadap PDB menurun. Penurunan terbesar datang dari penurunan PNBP sumber daya alam. Ini yang harus dijawab pemerintah agar kondisi fiskal kembali normal. Sehingga sisa subsidi listrik yang sekarang tidak perlu menjadi beban yang dipandang significant. (RED)

Previous articleDua Saksi Akui Lahan Mereka Tercemar Limbah B3 TTM Chevron Pacific Indonesia dan Tak Kunjung Dipulihkan Sesuai Aturan
Next articleKebijakan Membangkrutkan Negara Tentu Ada Harganya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.