Home BUMN Kenapa dengan GOTO

Kenapa dengan GOTO

2308
0
Saya dikirimi dan di-tag berita tentang GOTO yang menanam duit Rp352,5 miliar di Reksa Dana TRIM Kas 2 yang dikelola PT Trimegah Asset Management, perusahaannya Garibaldi (Boy) Thohir, kakak Menteri BUMN Erick Thohir.
Saya lihat “Tempo” dan “Bisnis Indonesia” versi daring yang memuatnya pada akhir pekan lalu (Sabtu, 23 Juli 2022). Berita itu tidak ada narasumber orang, hanya mengutip Laporan Keuangan GOTO Q1 2022 disertai sedikit background. Kok, tumben berita seperti itu bisa tembus redaksi. Saya pikir, melihat penataan angle dan judul, berita ini hendak ‘memancing’ polemik lanjutan tentang masalah afiliasi dan benturan kepentingan Menteri BUMN dan kakaknya itu, yang biasanya saya santap.
Sebelumnya, pada 19 Juli 2022, terbit hasil riset Morgan Stanley yang mengatakan GOTO overvalued dan underweight. Kemahalan dan diprediksi bakal turun. Riset yang ditulis oleh kontributor Mark Goodridge dan Da Wei Lee itu memberikan target harga GOTO Rp230 (base case), Rp485 (bull case), dan Rp140 (bear case).
Tren GOTO memang turun dan ditutup Rp300 pada Jumat pekan lalu.
Total lembar saham GOTO sebanyak 1,184 triliun lembar dan yang beredar di pasar saat ini 50,87 miliar lembar saja. Data KSEI per 30 Juni 2022 menunjukkan investor lokal menguasai 92,85% (47,24 miliar lembar) dan asing hanya 7,15% (3,63 miliar lembar). Dari yang digenggam investor lokal itu, 16,43 miliar lembar dipegang investor Asuransi (34,8%), Reksa Dana (31,41%), Korporat (23,5%), dan Ritel/Individu (8,69%). Selama kurun April-Juni 2022, Asuransi setidaknya sudah jualan 2,14 miliar lembar dan Ritel 2,73 miliar lembar. Yang beli terbanyak adalah Reksa Dana 4,96 miliar lembar.
Siapa yang cuan dari trading bisa Anda analisis sendiri. Tapi tentu yang paling cuan adalah investor awal GOTO. Umur perusahaan baru 7 tahun, modal hanya Rp800-an miliar tapi disuntik Rp6,4 triliun oleh Telkom sebelum IPO; lantas raup Rp17 triliun dari IPO, padahal akumulasi rugi Rp85 triliun.
Tapi saya tidak urusi dagang saham. Yang saya permasalahkan selama ini adalah peristiwa dan perbuatan yang tempus-nya pada November 2020 dan Mei 2021 ketika BUMN Telkom melalui Telkomsel memberikan duit Rp6,4 triliun ke GOTO. Itu saya duga kuat berpotensi melanggar aturan hukum yang berhulu pada afiliasi dan benturan kepentingan akibat posisi Menteri BUMN dan kakaknya, yang bertindak sebagai pengurus dan pemegang saham GOTO.
Jika sekarang kita ribut mengenai duit GOTO yang diparkir di Reksa Dana TRIM, itu soal lain.
Bukankah dengan sunyi-senyapnya penegakan hukum hingga saat ini terhadap Menteri BUMN dan kakaknya seperti saya sebut di atas itu menunjukkan bahwa Negara ini memang memberikan keistimewaan tersendiri bagi orang seperti kakak Menteri BUMN itu untuk menjadi kaya dan lebih kaya lagi?
Bukankah dengan demikian BUMN telah menjalankan fungsi bukan untuk memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat (UU 19/2003 tentang BUMN) melainkan justru terutama membantu golongan konglomerat.
Kekayaan Boy Thohir saat ini US$2,6 miliar setara Rp38,7 triliun. Peringkat 17 Forbes. Kekayaannya jauh di atas anggaran satu tahun KPK, Kejaksaan Agung, dan Mahkamah Agung! Ia pemilik setidaknya 7 emiten pertambangan, e-commerce, hingga pembiayaan. Bahkan baru-baru ini ia mengakuisisi sebagian saham PALM yang bergerak di kelapa sawit.
Dalam kasus GOTO, ia kakak Menteri BUMN, pemilik GOTO, pengendali penjamin emisi saat IPO, pengendali perusahaan pengelola Reksa Dana, bahkan duit GOTO yang di TRIM Kas 2 itu juga dipakai untuk membeli surat utang PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), di mana dia juga yang jadi komisaris sekaligus pemegang 8% sahamnya. Berdasarkan Prospektus, hanya 7% dana penerbitan obligasi itu yang dipakai modal kerja, sebagian besarnya untuk bayar utang dan akuisisi saham lain lagi.
Di era Jokowi, Boy Thohir tak terbendung. Uang dapat, jabatan dapat, tanahnya pun dipakai negara. Ia menjadi Ketua Kadin Indonesia Komite Tiongkok, Ketua Konsorsium Kawasan Industri Hijau Kaltara (di mana tanahnya menjadi tempat kawasan industri berdiri), hingga Dewan Penyantun Masyarakat Ekonomi Syariah.
Jika PKB (Partai Kawan Boy) didaftarkan di Kemenkumham untuk ikut pemilu, bisa jadi ia meraup banyak suara. Ia bisa pakai strategi menjanjikan saham untuk menarik suara pemilih.
Tapi, lagi-lagi, kita tak permasalahkan ‘kesuksesan’ bisnis dan jumlah kekayaan seseorang. Yang jadi perkara penting, mengapa hukum tidak berlaku sama bagi setiap warga negara? Mengapa Rp6,4 triliun ‘begitu mudahnya’ diberikan kepada konglomerasi tertentu yang terbukti di kemudian hari dipakainya untuk berbisnis demi kepentingan pribadi dan segelintir orang?
Saya berani berspekulasi untuk menyatakan duit Rp6,4 triliun Telkomsel di GOTO akan lenyap tanpa bekas di masa depan, selenyap duit Rp1,5 triliun Telkom di saham Tiphone dahulu. Berita-berita indah yang kerap ditabur di media massa tentang potensi, sinergi, ekosistem GOTO tidak menjamin duit dan keuntungan akan kembali kepada Telkom sebanyak investasi yang sudah ditanam. Ketika tiba umur investasi para venture capital itu habis, Telkom akan gigit jari.
Namun, terlepas dari kasus GOTO, perlu diingat bahwa penipu ulung bukanlah mereka yang pekerjaannya menipu setiap hari. Jika demikian, namanya penipu amatir. Penipu ulung adalah mereka yang dari 1.000 kali perbuatannya, 999 kali dilakukan tanpa tipuan dan hanya satu kali tipuan dibuat, tapi sangat fatal dampak-akibatnya bagi banyak orang.
Salam.

Agustinus Edy Kristianto

Previous articleMengenai Cara Berhutang Pemerintah Bisa Belajar Pada Dirut PLN
Next articleUOB Luncurkan Sustainability-Linked Trade yang Pertama di Indonesia Bersama Chandra Asri Petrochemical

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.