Home BUMN Kompor Listrik dan Oversupply Listrik

Kompor Listrik dan Oversupply Listrik

146
0
Ilustrasi

Oleh: Rita Rossie*

Kebutuhan akan listrik saat ini sepertinya sama dengan kebutuhan rakyat terhadap sembako, berarti pemerintah harus hati-hati pada saat mengeluarkan regulasi tentang TDL.
Betapa senengnya saya saat ada yang berjanji tidak akan menaikkan tarif listrik, berarti gak harus sering-sering beli token.
Rakyat tidak perlu seorang presiden yang turun langsung melihat meteran listrik,. Biarlah itu menjadi petugas lapangan, yang lebih penting pemerintah mampu melakukan kendali atas itu, baik harga maupun supply-nya. Lagi pula dengan sistem token, gak perlu diperiksa juga rasanya rakyat gak mungkin nunggak,. Tapi kenapa PLN bisa rugi ya?
Mari kita kutif sebuah tulisan dari Ahmad Daryoko Koordinator INVEST, dengan judul “PLN di HLN ke-76, ANTARA ADA dan TIADA” jalurdua.com, tertanggal 25 Oktober 2021.
(Tulisan lain bisa dilihat juga jakartasatu.com dengan judul “MENYAMBUT HLN ke-76, SEBUAH ANTISIPASI”).
Pada 22 Juli 2020 Serikat Pekerja Gabungan PLN sebenarnya sudah melakukan protes lewat Seminar , karena mulai awal 2020 pembangkit PLN di Jawa-Bali hanya beroperasi sekitar 10% dari yang dibutuhkan. Sedang yang 70% sudah dikuasai Shenhua dkk (yang berkolaborasi dng JK, Luhut BP, Dahlan Iskan dan Erick Tohir).
Begitu juga jaringan ritail PLN sudah dijual oleh Dahlan Iskan (saat ybs DIRUT PLN dan Meneg BUMN antara 2010-2014) dalam bentuk curah/bulk/”Whole sale market” ke Tommy Winata dan Taipan 9 Naga yang lain spt SCBD dll. Sedang yang recehan dalam bentuk TOKEN ke mereka juga dan perusahaan2 Dahlan Iskan. Sehingga PLN di Jawa-Bali hanya menjadi “penjaga tower” Transmisi dan Distribusi saja.
Namun yang anehnya, menyisir berita lain, di harlah ke-76, PLN juga bagi2 beasiswa puluhan milyaran rupiah.
Mudah-mudahan cerita rugi di tahun berikutnya bukan karena ini ya, tapi karena menahan laju kenaikan BBM dan TDL seperti dikatakan Erick Tohir.
Bicara Oversupply, dan kaitannya dengan konversi dari kompor gas ke kompor listrik,.
Saya jadi berfikir, ini cara cerdik atau licik sih?
Rakyat belum lagi pulih karena dampak pandemi, terus dihajar dengan kenaikan BBM, terus lagi nanti harus berpindah ke sesuatu yang memang terlihat lebih canggih dan praktis, tapi dengan TDL yang membubung tinggi apa iya jadi solusi?
Buat para pemasok swasta mungkin, karena mereka ogah rugi,.
Lha bagi kami? Rakyat jelata.. makin terjepit yang ada.
Saya jadi penasaran apa pendapat Dahlan Iskan saat ini,. Happy? Atau really happy?..
Cah ah..
MWT,230922
*) Penulis adalah aktivis perempuan, tinggal di Bandung.
Previous articleCERI: Pertamina Harus Jawab Keluhan dan Keraguan Publik Terhadap Kualitas BBM Pertalite
Next articleCERI: Publik Tak Mudah Percaya Penjelasan Pertamina Soal Kualitas BBM Pertalite, Terkesan Hanya Membela Diri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.