Home Biogas Penelitian & Pengembangan (R&D) Bersama MHI dan ITB Untuk Pembangkit Listrik Berbahan...

Penelitian & Pengembangan (R&D) Bersama MHI dan ITB Untuk Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Amonia Menggunakan Turbin Gas di Indonesia

201
0
[Foto dari kiri ke kanan] Junichiro Masada (Anggota Senior dan Senior General Manager, Energy Transition Division/MHI), Prof. I Gede Wenten (Wakil Rektor/ITB) dan Dr. Yuli Setyo Indartono (Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)/ITB) saat penandatanganan perjanjian Penelitian & Pengembangan (R&D) Bersama untuk Pembangkit Listrik Tenaga Amonia Menggunakan Turbin Gas di Indonesia | IST
[Foto dari kiri ke kanan] Junichiro Masada (Anggota Senior dan Senior General Manager, Energy Transition Division/MHI), Prof. I Gede Wenten (Wakil Rektor/ITB) dan Dr. Yuli Setyo Indartono (Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)/ITB) saat penandatanganan perjanjian Penelitian & Pengembangan (R&D) Bersama untuk Pembangkit Listrik Tenaga Amonia Menggunakan Turbin Gas di Indonesia | IST

ENERGYWORLD.CO.ID – TOKYO, 13 Oktober 2022, Mitsubishi Heavy Industries, Ltd. (MHI) telah menandatangani perjanjian dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) Indonesia untuk melakukan penelitian dan pengembangan bersama pembangkit listrik berbahan bakar amonia dengan turbin gas. MHI dan ITB sudah beberapa kali melakukan penelitian bersama terkait berbagai solusi energi bersih untuk membantu Indonesia mencapai dekarbonisasi. Sebagai bagian dari inisiatif yang sedang berlangsung tersebut, penelitian baru ini akan menerapkan keahlian ITB dalam bidang teknik reaksi kimia dalam rangka mengoptimalkan pembangkitan listrik menggunakan bahan bakar amonia. Setelah pengujian demonstrasi dengan turbin gas H-25 MHI, kedua mitra R&D ini akan mengupayakan aplikasi komersial pembangkit listrik berbahan bakar amonia di Indonesia.

Pada tahun 2020, MHI dan ITB menandatangani nota kesepahaman (MOU) untuk melakukan penelitian bersama terkait solusi energi bersih generasi berikutnya dan analisis big data yang berkenaan dengan pembangkit listrik. Pada Februari 2022, kedua mitra menyetujui perpanjangan MOU selama lima tahun, melanjutkan kolaborasi untuk mengembangkan teknologi yang akan mempercepat dekarbonisasi di Indonesia. Kini, berdasarkan MOU yang sama, akan dilaksanakan penelitian dan pengembangan bersama terhadap pembangkit listrik berbahan bakar amonia menggunakan fasilitas di ITB, dengan tiga tujuan utama: untuk menggalakkan pengembangan teknologi antara Jepang dan Indonesia; untuk mendorong pertukaran teknologi dan personel dengan pendidik dan anggota tim peneliti ITB; dan untuk memajukan penerapan energi bersih di Indonesia.

Upacara penandatanganan perjanjian baru dilaksanakan di Tokyo pada 26 September saat berlangsungnya Asia Green Growth Partnership Ministerial Meeting (AGGPM) ke-2, yang diselenggarakan di bawah naungan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI). Wakil Rektor ITB, Prof. I Gede Wenten menyampaikan pemikirannya tentang kerja sama baru tersebut: “Transisi energi berperan penting dalam mengurangi emisi gas rumah kaca global, dan dalam jangka panjang akan berdampak pada pengurangan pemanasan global atau perubahan iklim. Kolaborasi penelitian antara ITB dengan MHI ini berfokus pada penggunaan NH3 pada pembangkit listrik, adopsi yang lebih luas akan membantu mengurangi penggunaan batu bara. Dalam jangka panjang, produksi NH3 diharapkan lebih banyak mengandung NH3 ramah lingkungan yang menggunakan energi terbarukan. Saya berharap R&D bersama ini akan berdampak positif terhadap upaya melakukan transisi energi yang berkelanjutan.”

Junichiro Masada, Anggota Senior dan Senior General Manager Divisi Transisi Energi MHI, mengungkapkan harapan positifnya terhadap proyek ini: “Dengan menggabungkan kemampuan teknologi MHI yang ekstensif dalam pembangkit listrik dengan keahlian ITB yang sangat terspesialisasi dan pengetahuan yang kuat tentang kondisi di Indonesia, saya yakin bahwa kolaborasi ini akan menghasilkan penelitian yang benar-benar inovatif dalam teknologi energi bersih. Kerja sama kami dengan ITB tentunya akan melahirkan ide-ide baru dan mendorong transisi energi di Indonesia.”

Berdasarkan MOU 2020 yang menargetkan dekarbonisasi sektor energi Indonesia yang disepakati antara MHI dan ITB, sebuah lembaga yang telah banyak menelurkan individu-individu terkemuka dalam bidang pemerintahan, akademik dan keuangan Indonesia, telah dilakukan studi kelayakan bersama tidak hanya terhadap sumber energi baru seperti hidrogen dan amonia, namun juga terhadap sistem kontrol kualitas udara (AQCS) dan solusi jaringan mikro. Untuk melatih para insinyur yang akan berkontribusi bagi masa depan Indonesia, MHI dan ITB juga telah mengadakan pembelajaran bersama dengan topik mulai dari analisis big data hingga energi biomassa, sistem siklus gabungan gasifikasi batubara terpadu (IGCC), penggunaan hidrogen, dan pengembangan AQCS.

Nota kesepahaman yang baru ditandatangani tersebut berlangsung di tengah upaya Indonesia dalam meningkatkan dekarbonisasi sektor energinya. Hal ini dinyatakan dalam komitmen, yang diumumkan secara resmi, untuk mencapai 23% penggunaan energi terbarukan pada tahun 2025 dan mengurangi emisi gas rumah kaca nasional sebesar 29% pada tahun 2030. Ke depannya, MHI, dengan dukungan dari merek solusi dayanya, Mitsubishi Power, akan berupaya memberikan kontribusi lebih lanjut untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia, serta stabilisasi pasokan listrik dan perlindungan lingkungannya. | WAW-EWI

Previous articleHumanika Demo Satgas BLBI
Next articleSafrudin Bento Diduga Pelaku Tambang Ilegal Di Riau Kebal Hukumkah ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.