Home Energy CERI: Dirjen Migas Tuduh Kelangkaan LPG Karena Pertamina Salah Pola Distribusi

CERI: Dirjen Migas Tuduh Kelangkaan LPG Karena Pertamina Salah Pola Distribusi

200
0

ENERGYWORLD.CO.ID   – Pernyataan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji yang telah mengatakan kepada awak media pada Senin (31/7/2023), bahwa salah satu penyebab kelangkaan LPG 3 kg subsidi karena ada masalah tata kelola distribusi, adalah pernyataan ngawur alias sesat dan tak paham akar masalahnya. Demikian ditegaskan Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman, Selasa (1/8) di Jakarta.

“Karena kelangkaan subsidi elpiji lebih disebabkan maraknya pengoplosan subsidi elpiji menjadi elpiji 12 kg oleh mafia elpiji atau akibat tingginya migrasi konsumen,” ungkap Yusri.

Penyebab utamanya, lanjut Yusri, adalah disparitas harga subsidi LPG 3 kg dengan LPG 12 kg sangat tinggi, yaitu Rp 10.000 per kg.

“Selisih harga itu lah cuan besar yang telah memicu suburnya praktek oplosan oleh mafia LPG yang sudah menjadi fakta yang terungkap di berbagai daerah yang telah dilihat oleh sejumlah media,” lanjut Yusri.

Sudah menjadi rahasia umum, kata Yusri, bahwa mafia LPG bisa leluasa melakukan praktek ilegal tersebut, karena adanya perlindungan oleh oknum penegak hukum juga.

“Jadi kalau kita mau serius memberantas mafia LPG, gampang banget, cukup Kapolri mau tegas dengan menginstruksikan seluruh Kapolda jika ada praktek oplosan LPG di suatu daerah, maka ancamannya Kapolres dicopot,” kata Yusri.

Menurut Yusri, jika Kapolri berani menerapkan kebijakan tersebut, ia memastikan tidak akan ada kelangkaan subsidi LPG di berbagai daerah lagi.

“Jadi kelangkaan itu bukan karena sistem alokasi agen 20% dan pangkalan 80%, karena sependek pengetahuan kami, bahwa BPK secara rutin mengaudit subsidi LPG dari pangkalan ke agen hingga SPPBE, subsidi LPG 3 kg di APBN 2023 sekitar Rp 117, 5 triliun” jelas Yusri.

Selain itu, sambung Yusri, Pertamina sudah sangat terencana dan terbiasa menyiapkan kebutuhan subsidi LPG setiap tahunnya sekitar 8 juta ton, termasuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhannya.

Lagipula, lanjut Yusri, Pertamina sudah sangat berpengalaman dalam mendistrubiskan BBM dan LPG di seluruh negeri, termasuk daerah 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terjauh) dengan harga yang sama.

“Karena kita adalah negara kepulauan dengan luas serta sebaran penduduk yang cukup besar, sehingga menjadikan pola distribusi LPG dan BBM Pertamina memang paling rumit di dunia,” ungkap Yusri.

Oleh sebab itu, lanjut Yusri, pernyataan Dirjen Migas soal penyebab kelangkaan itu sangat disesalkan, karena secara tidak langsung menyatakan itu sama saja dia lagi menunjuk dirinya sendiri tidak mampu membina Pertamina.

“Seharusnya Dirjen Migas berjuang untuk meningkatkan anggaran di APBN untuk membangun jarigan gas kota di seluruh Indonesia, agar bisa mengurangi impor LPG setiap tahun sebanyak 6,7 juta ton yang sudah membebani neraca keuangan negara,” pungkas Yusri. EDY/EWI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.