Home Energy Nikel Ekspor Ilegal Bijih Nikel Kadar 0,5 Persen Mencuat, ESDM: Kita Kaji Sesuai...

Ekspor Ilegal Bijih Nikel Kadar 0,5 Persen Mencuat, ESDM: Kita Kaji Sesuai Aturan

140
0

ENERGYWORLD.CO.ID – Dugaan kasus ilegal nikel dengan kadar 0,5 persen yang diduga milik PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) di Kabupaten Kotabaru yang diekspor ke China mulai mencuat.

Pasalnya dalam pemberitaan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan adanya dugaan ekspor bijih nikel ilegal sebesar 5 juta ton ke China.

Dikutip dari NIKEL.CO.ID, diduga hal ini terjadi sejak 2021 hingga 2022, padahal dari awal Januari 2020 pemerintah telah memberlakukan larangan ekspor ore nikel.

Dugaan ekspor ilegal bijih nikel tersebut berasal dari Bea Cukai China yang berasal dari tambang di Sulawesi atau Maluku Utara.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menyikapi hal itu, dia mengatakan, Kementerian ESDM bekerja sesuai aturan yang berlaku sehingga akan melakukan tindakan yang sesuai aturan.

“Kita mengikuti seluruh regulasi yang ada. Jadi prinsipnya, ESDM itu satu, menyusun regulasi untuk implementasi. Kemudian kita melaksanakan regulasi tersebut termasuk mengawasi. Jadi kita bergerak disitu saja,” kata Dadan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (29/9/2023).

Menurutnya, langkah Kementerian ESDM terhadap kasus tersebut harus melalui kajian yang intensif dan sesuai aturan.

“Kalau itu dianggap nanti dari sisi kajian kita itu melanggar tentunya sanksinya kita ikuti saja yang sudah ada didalam Undang-Undang kita,” ujarnya.

PT SILO merupakan perusahaan yang memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) besi secara sah. Dalam laporan pengiriman besi PT SILO ke China ditemukan total sebanyak 84 kali pengiriman.

Dari kode ekspor besi PT SILO dengan kategori HS (Harmonized System) dengan code 2601 di Indonesia, dikirim ke China dengan nikel yang menempel.

Sehingga kode HS merupakan kategori besi bukan nikel yang berkode 2604. Sehingga ada perhitungan berbeda dalam kerugian negara yang awalnya diduga sebesar Rp 14 triliun ternyata Rp 41 miliar.

Hal inilah yang menjadi pertanyaan publik yang seharusnya mampu memfilter mineral besi dan nikel. Mengapa nikel bisa tercampur dalam mineral logam besi saat diekspor ke China. EDY/EWI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.