Home Ekbiz Corporate ESG SYMPOSIUM 2023 INDONESIA Targetkan Percepatan Transisi Energi di Indonesia dengan Kolaborasi...

ESG SYMPOSIUM 2023 INDONESIA Targetkan Percepatan Transisi Energi di Indonesia dengan Kolaborasi Lintas Sektor 

57
0
ENERGYWORLD – SCG, salah satu perusahaan terkemuka ASEAN dengan tiga unit bisnis; Cement-Building Material (Semen), Packaging (Kemasan), dan Chemicals (Kimia), untuk pertama kalinya menggelar ESG SYMPOSIUM 2023 di Indonesia pada 2 November 2023. Upaya untuk mencapai Net Zero menjadi salah satu pembahasan dalam acara ini, dengan membeberkan berbagai bentuk kebijakan, inisiasi, serta pandangan dari para pakar tentang pendekatan terbaik untuk pelaksanaannya di Indonesia. Nationally Prepared Contribution (NDC) Indonesia menyatakan target pengurangan emisi CO2 sebesar 32% atau 358 juta ton CO2 dengan usaha sendiri, dan sebesar 41% atau sebesar 446 juta ton CO2 dengan bantuan dunia internasional pada tahun 2030.

Keterangan tertulis ESG Rabu (15/11/2023), Executive Vice President SCG, Thammasak Sethaudom, menjelaskan, “SCG memahami bahwa mencapai Net Zero Emission harus dilaksanakan dengan memanfaatkan berbagai informasi, pengetahuan, serta pengalaman yang dapat membantu seluruh pemangku kepentingan , baik dari pemerintah maupun swasta, agar mampu menciptakan sinergi inisiasi yang dilakukan. Oleh karena itu, ESG SYMPOSIUM diharapkan dapat menjadi ajang diskusi yang begitu bermanfaat untuk tujuan tersebut.” 

Di antara berbagai bentuk inisiasi Net Zero, mitigasi melalui energi terbarukan menonjol sebagai kontributor terbesar, yang sudah mengurangi sebanyak 51,29 juta ton CO2e di Indonesia. Kemudian diusulkan efisiensi energi dengan penurunan sebesar 31,87 juta ton CO2e, penggunaan bahan bakar rendah (15,55 juta ton CO2e), penggunaan teknologi bersih (13,33 juta ton CO2e), dan aktivitas lainnya (15,63 juta CO2e) .

Oleh karena itu, sektor energi memiliki target untuk mengurangi konsumsi energi melalui penerapan Peraturan Pemerintah baru No. 33/2023, yang harus dilakukan oleh penyedia energi, pengguna sumber energi, dan pengguna energi untuk menurunkan ambang batas konsumsi energi. Implementasi PP ini juga membuat batasan konsumsi energi menjadi lebih spesifik, yaitu 6.000 TOE. 4000 TOE untuk sektor industri dan transportasi, serta 500 TOE untuk gedung dan bangunan. Dengan ini, sektor industri dapat menghemat sebanyak 5,28 juta TOE (Rp20,8 triliun) pada tahun 2030 dan 9,34 juta TOE (Rp35,3 triliun) di berbagai sektor lainnya. 

Perkembangan dan Tantangan Transisi Energi Lintas Sektor 

Pada tahun 2022, ada sekitar 242 perusahaan yang telah melaporkan bauran energi mereka di Indonesia. Dari 242 perusahaan ini, total penggunaan energi adalah 852,126 GWh, dengan penghematan energi mencapai 20,461 GWh atau setara dengan pengurangan emisi sebesar 11,7 juta Ton CO2 eq. 

“52.8% dari penggunaan energi tersebut berasal dari batu bara, khususnya dalam industri kertas, semen, dan baja, karena panas yang dihasilkan sangat stabil sehingga membantu proses pembakaran bahan-bahan. Adapun bahan bakar ini memang termasuk yang paling murah dan penggantinya hingga saat ini adalah energi biomassa,” jelas Gigih Adi Utomo, Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dalam ESG SYMPOSIUM 2023 Indonesia. (2/11) 

Kemudian untuk sektor alat-alat elektronik, penggunaan energi listrik diatur dalam Standar Kinerja Energi Minimum (SKEM), yang dimaksudkan untuk membatasi jumlah konsumsi energi maksimum pada produk-produk seperti AC, rice cooker, kipas angin, kulkas, lampu LED , dan TV. Hal ini dapat mengurangi penggunaan listrik sebesar 787 MW dan menghemat energi sebesar 3.8 TWh pada tahun 2030. 

Sedangkan untuk transportasi, penggunaan energi terbesar dalam subsektor transportasi darat. Misalnya saja truk dengan teknologi mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine/ICE) masih mendominasi pengguna bahan bakar minyak, yang menjadi sumber utama polusi udara.  

Mempercepat Transisi Energi 

Transisi energi dapat dilakukan dengan beberapa langkah strategi, seperti mengadopsi energi alternatif seperti biomassa untuk menggantikan batu bara dalam kegiatan produksi, mengubah jenis kendaraan operasional bisnis menjadi kendaraan berbahan bakar listrik, dan mengganti atau menggunakan peralatan listrik sesuai dengan Standar Kinerja Energi Minimum pada gedung-gedung operasional perusahaan. 

“Selain upaya di atas, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat transisi energi adalah dengan mengimplementasikan penjualan karbon. Melalui sistem perdagangan karbon, pemerintah dapat memantau jumlah karbon yang dihasilkan dan pengendalian emisi gas yang dilepaskan ke atmosfer bumi dapat dilakukan dengan lebih efektif,” jelas Gigih Adi Utomo.

Dino Patti Djalal, Pendiri Foreign Policy Community Indonesia (FPCI), menambahkan bahwa langkah-langkah transisi energi yang sejalan dengan penerapan prinsip ESG harus dilakukan oleh seluruh perusahaan dan bisnis di Indonesia, yang tidak hanya mampu mengurangi emisi namun bisa menghemat penggunaan energi dan biaya energi kedepannya. 

Di sisi lain, keterlibatan anak muda sebagai agen penggerak juga menjadi poin penting. Rauf Usman, Chairman Society of Renewable Energy, menjelaskan bahwa diperlukan kebijakan yang dapat menyasar anak muda, untuk mendukung berbagai inisiasi transisi energi yang dapat dilakukan oleh generasi muda kedepannya. 

Peran yang telah diambil oleh SCG 

“Sebagai perusahaan yang berorientasi pada masa depan, SCG berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan dalam operasional kami. Langkah menuju Net Zero diwujudkan melalui inisiasi teknologi daur ulang, yang sejalan dengan kerangka ESG 4 Plus — prinsip bisnis SCG yang dipersonalisasi dari kerangka ESG global, yang melibatkan Net Zero 2050, Go Green, Reduce Inequality, Embrace Collaboration, serta Keadilan dan Transparansi. Kami juga percaya kerja sama dengan pemerintah dan sektor lainnya adalah kekuatan utama untuk membawa perubahan positif,” ujar Thammasak Sethaudom. 

Di Indonesia, SCG telah mengimplementasikan berbagai inisiasi transisi energi. Pertama, PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi menggunakan teknologi Bahan Bakar Alternatif dan Bahan Baku Alternatif (AF/AR) untuk menghasilkan energi dan bahan baku alternatif dari limbah industri dan bekerja sama dengan berbagai pelaku industri di Sukabumi untuk mendapatkan limbahnya. Kedua, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FajarPaper), anak perusahaan SCG di lini Packaging, menggunakan Sistem Pengolahan Anaerobik (Anaerobic Treatment System) untuk mengolah limbah udara dan menghasilkan biogas sebagai bahan bakar alternatif. 

Selain inisiasi kedua tersebut, PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi juga sedang mengembangkan teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) pertama di Sukabumi, yang juga bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk mengolah sampah kota menjadi energi alternatif pengganti bahan bakar fosil. EDY/EWINDO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.