Home Energy Nikel Smelter Nikel di Morowali yang Meledak, Digarap Perusahaan Raksasa China

Smelter Nikel di Morowali yang Meledak, Digarap Perusahaan Raksasa China

164
0

ENERGYWORLD – Smeltel nikel milik PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di Morowali, Sulawesi Tengah tengah menjadi perbincangan setelah terjadi kejadian ledakan dan kebakaran yang memakan puluhan korban. Oleh karena itu, PT ITSS disebut merupakan salah satu investasi smelter dari China di Morowali. 

Berdasarkan pernyataan  PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kebakaran unit smelter PT ITSS yang terjadi pada Minggu (24/12/2023) pukul 05.30 WITA itu diduga disebabkan adanya cairan mudah terbakar yang berada di bawah tungku yang sedang diperbaiki. Kondisi tersebut memicu ledakan dan merembat penghematan oksigen yang ada di wilayah sekitar. 

Dikutip dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kepemilikan PT ITSS dikendalikan oleh Bintang Delapan Mineral sebesar 20% dan Shanghai Decent Investment atau induk dari Tsingshan Holding Group memiliki 80% saham. 

Adapun, raksasa baja dan nikel asal China telah berinvestasi di Indonesia sejak 2009 dan fokus mengembangkan industri olahan nikel. PT ITSS saat ini berlokasi di Kawasan Industri Indonesia Morowali Industrial Park atau PT IMIP sebagai pengelola kawasan.

Sementara itu, induk usahanya, yakni Tsingshan Holding Group telah berdiri sejak 1980-an yang fokus memproduksi dan peleburan baja tahan karat. Perusahaan multinasional ini telah melebarkan sayapnya di Indonesia, Singapura, Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. 

Di Kawasan Industri Morowali, Tsingshan dan Bintang Delapan Group menanamkan modal sekitar US$6 miliar. Melalui investasi tersebut, Indonesia disebut menjadi salah satu produsen baja tahan karat yang diperhitungkan di pasar global. 

Tak hanya di kawasan industri Morowali, Tsingshan juga berminat berinvestasi di kawasan industri lain, seperti di Weda Bay dan Tanah Kuning. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebelumnya menyatakan perusahaan asal China Tsingshan Holding Group melirik peluang investasi di kawasan industri Tanah Kuning, Kalimantan Utara.

Tsingshan berencana membangun kompleks feronikel terintegrasi di kawasan tersebut dengan nilai investasi mencapai US$28 miliar.

Perusahaan ini ingin menggarap kompleks pemurnian logam terintegrasi dengan membangun pabrik feronikel berkapasitas 1,5 juta ton,  ferrochrome 1,2 juta ton,  stainless steel 1, 2 juta ton, mangan 0,5 juta ton,  ferrosilicate  0,2 juta ton, baja karbon 10 juta ton, dan alumina 1 juta ton, serta membangun pembangkit pembangkit listrik tenaga air  sebesar 7.200 megawatt.

Sementara itu, Tsingshan juga menjadi salah satu dari tiga perusahaan patungan asal China yang berinvestasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah. Adapun, tiga investor itu, yakni, Tsingshan, Huayou, dan Zhenshi. 

Kawasan industri Weda Bay disebut menelan total investasi mencapai US$10 miliar, yang merupakan realisasi dari perjanjian antara Eramet group (Prancis) dan Tsingshan bersama dengan partner lokal, yaitu PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk. bisnis.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.