Home Energy IEF: Arab Saudi Bisa Menjadi Pemimpin Dalam Teknologi Transisi Energi

IEF: Arab Saudi Bisa Menjadi Pemimpin Dalam Teknologi Transisi Energi

130
0

ENERGYWORLD.CO.ID – International Energy Forum (IEF) dalam laporannya, dengan rekam jejak yang terbukti dalam teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon, Arab Saudi berpotensi menjadi pemimpin di sektor ini, menurut sebuah studi baru.

Dalam laporan terbarunya, IEF mengatakan Kerajaan Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara harus bekerja sama untuk menerapkan solusi CCUS yang akan memastikan transisi energi yang lancar, dikutip dari arabnews.

“Menyadari pentingnya peran CCUS dalam mengurangi emisi dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, terdapat peningkatan minat di seluruh wilayah untuk mengembangkan CCUS lebih lanjut dengan langkah-langkah yang mendukung,” kata IEF.

Ia menambahkan: “Hal ini memberikan peluang bagi kawasan MENA untuk menjadi pemimpin dalam penerapan solusi CCUS dan menetapkan standar untuk menskalakan CCUS secara global.”

Arab Saudi memimpin perjalanan transisi energi

Dalam laporan terbarunya, IEF juga menyoroti beberapa langkah yang diambil oleh Kerajaan tersebut untuk memajukan pengembangan teknologi CCUS, yang mencakup peluncuran Pasar Karbon Sukarela, sebuah alat penting dalam memberi insentif pada kegiatan pengurangan emisi.

Menurut IEF, pembentukan VCM, sebuah inisiatif bersama antara Dana Investasi Publik Arab Saudi dan bursa saham Kerajaan, akan membantu negara tersebut mencapai target net-zero.

“Pembuatan VCM sejalan dengan upaya PIF yang lebih luas untuk mendorong investasi dan inovasi dalam teknologi ramah lingkungan termasuk CCUS untuk memerangi perubahan iklim dan mendukung tujuan nasional Arab Saudi untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060,” kata IEF.

Lembaga pemikir energi tersebut menambahkan bahwa Arab Saudi akan segera muncul sebagai pemimpin global untuk CCUS pada tahun 2027 dengan dibukanya pusat penangkapan karbon terbesar di dunia di pantai timur Kerajaan di Jubail.

Proyek ini merupakan inisiatif bersama Saudi Aramco dan Kementerian Energi Kerajaan dan akan memiliki kapasitas penyimpanan hingga 9 juta ton karbon dioksida per tahun pada tahun 2027.


Upaya ini merupakan bagian dari upaya Arab Saudi yang lebih luas untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengatasi tantangan perubahan iklim,” kata IEF.

Laporan tersebut juga memuji Kerajaan Arab Saudi karena mengambil langkah signifikan menuju kelestarian lingkungan dengan meluncurkan Mekanisme Pengkreditan dan Pengimbangan Gas Rumah Kaca.

Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan insentif kepada entitas di Arab Saudi agar secara aktif terlibat dalam aktivitas pengurangan dan pembuangan gas rumah kaca yang melampaui undang-undang dan peraturan nasional.

Mekanisme pengkreditan dan penyeimbangan GRK berfungsi dengan memberikan penghargaan kepada entitas atas aktivitas mereka yang berhasil mengurangi emisi melebihi standar peraturan lingkungan hidup dan praktik terbaik.

“Dengan pendekatan kebijakan dan peraturan yang tepat, CCUS akan memainkan peran penting dalam transisi menuju masa depan rendah karbon sekaligus menciptakan peluang ekonomi dan mengurangi dampak lingkungan di kawasan MENA dan sekitarnya,” kata IEF.

Rekomendasi IEF untuk memperkuat CCUS di kawasan MENA

Dalam laporannya, IEF juga menyampaikan berbagai rekomendasi yang dapat memperkuat pertumbuhan CCUS di kawasan MENA.

Forum tersebut menyatakan bahwa penerapan praktik ini harus mencapai setidaknya 5,6 gigaton CO2 pada tahun 2050 secara global dari 40 juta ton saat ini untuk memenuhi Perjanjian Paris tahun 2015 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

Perjanjian Paris adalah perjanjian internasional mengenai perubahan iklim yang memaksa negara-negara yang menandatanganinya untuk berupaya membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.
<span;>Menurut lembaga pemikir energi tersebut, mengembangkan kerangka peraturan untuk penerapan CCUS sangat penting untuk mengurangi emisi GRK, yang akan membantu memajukan ambisi iklim kawasan dan memastikan bahwa hal tersebut menetapkan atau membantu menciptakan standar internasional.

“Wilayah MENA dapat secara kolaboratif mengembangkan kerangka regional yang komprehensif untuk penerapan CCUS. Kerangka kerja ini dapat mencakup pedoman untuk proyek-proyek CCUS, memastikan konsistensi dan kejelasan dalam prosedur peraturan di seluruh negara,” kata IEF.

Laporan tersebut mencatat bahwa pemerintah di kawasan MENA dapat merancang insentif keuangan yang kuat untuk menarik investasi pada proyek CCUS.

Insentif ini dapat mencakup kredit pajak, hibah, atau mekanisme pasar karbon yang menciptakan lingkungan ekonomi yang menguntungkan bagi dunia usaha untuk mengadopsi teknologi CCUS.

IEF lebih lanjut menyatakan bahwa penetapan lanskap kebijakan yang jelas dan stabil akan mendorong keterlibatan sektor swasta yang lebih besar dan dapat memacu inovasi dalam upaya pengurangan emisi. EDY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.