Home Kolom Perang Versus Transisi Energi

Perang Versus Transisi Energi

78
0

Perang Versus Transisi Energi

Oleh Salamuddin Daeng

JURUS pamungkas untuk melawan transisi energi adalah perang besar, serentak. Ya, sekelas Perang Dunia II  kira-kira. Mengapa? Karena transisi energi ini akan mengubur petrodolar yang uzur sehingga tidak dapat bangkit lagi.  Kapitalisme petrodolar memang tengah sekarat. Rezim keuangan global 1971 ini memang datang dari perang, di negeri negeri kaya minyak, dibentuk legitimasinya dengan konflik, dipertahankan dengan ancaman produksi minyak, harga minyak hingga krisis ekonomi.

Memang alasan untuk perang hanya akan ada jika ada gerombolan yang membabi buta menyerang bangsa lain tanpa alasan. Jika provokasi beberapa pihak berhasil, diharapkan harga minyak naik, diharapkan banyak negara panik, diharapkan harga harga naik, chaos terjadi, maka uang printing bermodal kertas dan tinta segera bisa dibuat besar-besaran. Uang dibuat di luar kaidah kaidah moneter dengan alasan mengatasi krisis.

Namun sekarang perang tidak dapat menghasilkan momentum apa-apa bagi keuntungan transaksi minyak. Ini dikarenakan konsumsi minyak tidak lagi pada level dapat menghasilkan ketergantungan dan menjadi alat membuat krisis. Harga minyak naik tidak membuat dunia panik. Akibatnya perang tidak bakal menemukan legitimasi untuk membuat uang bermodalkan kertas, tinta dan mesin printing.

Petrodolar tidak relevan lagi di era digitalisasi dan transparansi. Dunia tidak lagi dapat menerima uang hasil printing bermodal kertas dan tinta yang mereka buat. Sekarang dan ke depan, nilai akan ditentukan oleh masyarakat, oleh nitizen, dari bawah, buttom up, bukan oleh segelintir orang secara eksklusif.

 Sekarang dunia tengah bersiap mengantikan jangkar uang dari  jangkar minyak menjadi jangkar green energy, maka dolar akan digantikan dengan mata uang global baru yang ditransparansikan dengan digitalisasi. Nilainya datang dari bawah, secara inklusif. Dari mana semua ini akan dimulai? Dari pembentukan super power baru, yakni climate change super power.***

*) Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.