Maluku & Papua: Bukti Ekonomi Tumbuh Kencang Tak Bikin Rakyat Makmur

    28
    0

    Maluku & Papua: Bukti Ekonomi Tumbuh Kencang Tak Bikin Rakyat Makmur

    ENERGYWORLD.CO.ID – Kencangnya  laju pertumbuhan ekonomi di Maluku dan Papua pada triwulan I-2024 membuat daya beli masyarakat di dua daerah itu kuat, tercermin dari tingkat konsumsi masyarakatnya yang masih rendah.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), wilayah Maluku dan Papua mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi pada kuartal I-2024 sebesar 12,15%. Pertumbuhannya jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11%.

    Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Bank Mandiri Dendi Ramdani mengatakan, dengan laju pertumbuhan ekonomi itu, sayangnya tingkat konsumsi masyarakatnya rendah. Menandakan pertumbuhan ekonomi tinggi di daerah itu tidak langsung membuat rakyatnya makmur.

    Bahkan, ia mengatakan tingkat konsumsi di Maluku dan Papua jauh lebih rendah dari tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara nasional yang tercatat sebesar 4,91% pada kuartal-I 2024. Padahal, produk domestik regional brutonya (PDRB) tumbuh pesat dua digit.

    “Konsumsi di kedua provinsi itu masih relatif rendah. Untuk Maluku Utara misalnya lebih detail itu tumbuhnya 4,12% padahal pertumbuhan PDRB nya 11,8%. Di Papua tumbuhnya 17,49% tapi pertumbuhan konsumsinya 4,3%” kata Dendi saat konferensi pers, CNBC-Indonesia, Senin (14/5/2024).

    Dendi menilai fenomena ini juga membuktikan pertumbuhan ekonomi yang didorong sektor pertambangan dan pengolahannya tidak mempunyai efek signifikan dalam mendukung roda perekonomian masyarakat di sekitarnya. Alih-alih rakyat sejahtera, konsumsinya saja masih rendah.

    “Karena di Maluku Utara terdapat pertambangan dan pengolahan nikel. Di Papua juga sama pertambangan, di Freeport, dan ini adalah sumber pertumbuhan yang men-drive sehingga kedua provinsi itu tumbuh tinggi,” ucap Dendi.

    Oleh karena itu, fakta ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, agar laju pertumbuhan ekonomi yang kencang tidak hanya sekedar menjadi angka belaka, melainkan benar-benar mampu memperbaiki kondisi ekonomi dan memakamkan rakyatnya.

    “Saya pikir ini adalah karakteristik sektor pertambangan yang tidak terlalu mempunyai keterkaitan yang erat dengan sektor ekonomi lokal,” tegas Dendi.

    “Ini tantangan ke depan, bagaimana sektor pertambangan tersebut bisa berdampak langsung dan juga melibatkan perekonomian masyarakat di daerah tersebut, sehingga berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat secara umum, termasuk di dalamnya adalah konsumsi dan mendrive daya beli,” ungkapnya.

    Sebelumnya, Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi Maluku dan Papua pada kuartal I-2024 yang tumbuh tinggi mencapai 12,15% ditopang terutama oleh aktivitas pertambangan dan sejenisnya.

    “Pertumbuhan ekonomi di pulau Maluku dan Papua yang mencapai double digit didorong oleh aktivitas ekonomi di provinsi Papua, dengan sumber pertumbuhan yang didorong oleh lapangan usaha pertambangan dan jenis,” kata Amalia saat konferensi pers di kantornya, Jakara, Senin (6/5/2024 ). ).

    Sedangkan urutan kedua adalah pertumbuhan di Sulawesi sebesar 6,35% turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 6,99%. Pertumbuhan di Sulawesi terutama ditopang pertumbuhan di Sulawesi Tengah karena adanya industri pengolahan, pertambangan dan pengumpulan, serta konstruksi.

    Pertumbuhan ekonomi wilayah atau spasial tertinggi ketiga adalah Kalimantan sebesar 6,17% dari sebelumnya 5,82%. Disumbang oleh pertumbuhan tertinggi di wilayah Kalimantan Timur dengan adanya aktivitas pertambangan dan spesifik, konstruksi, serta perdagangan.

    Adapun pertumbuhan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada kuartal I-2024 sebesar 5,07% naik dari sebelumnya 4,75%. Ditopang oleh aktivitas ekonomi di Bali seperti penyediaan akomodasi dan makan-minum, jasa keuangan dan asuransi, serta administrasi pemerintahan.

    Di wilayah Jawa, pertumbuhan ekonominya pada kuartal I-2024 sebesar 4,84% dari sebelumnya 4,96%. Ditopang oleh pertumbuhan ekonomi di wilayah DKI Jakarta melalui aktivitas sektor industri informasi dan komunikasi, perdagangan, dan konstruksi.

    Terakhir adalah wilayah Sumatera dengan pertumbuhan sebesar 4,24% dari sebelumnya 4,79%. Didorong oleh pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara melalui aktivitas perdagangan, pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta konstruksi.

    Pertumbuhan Ekonomi di Daerah Hanya Dinikmati oleh Pemilik Modal.

    Menurut Anthony Budiawan,
    Managing Director PEPS (Studi Ekonomi Politik dan Kebijakan), bukti, bahwa pertumbuhan ekonomi di daerah hanya dinikmati oleh pemilik modal.

    “Bukti, bahwa daerah kembali dilayani oleh ‘VOC baru’, kerja sama antara ‘VOC lokal’ dan ‘VOC asing’, difasilitasi oleh para penguasa pusat,” kara Anthony Budiawan, Rabu (16/5).

    Dan juga bukti, bahwa kekayaan alam milik daerah dieksploitasi (baca: dirampas) secara terang-terangan, dengan menggunakan undang-undang yang menindas rakyat daerah, serta melanggar konstitusi pasal 33 ayat (3), yang berbunyi:

    Bumi dan udara dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan *dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat*_

    ‘Menjajah’ bangsa Indonesia memang sangat nikmat. Sudah terjajah, rakyatnya malah berterima kasih kepada penjajah. Tidak heran VOC bisa menjajah Indonesia dalam waktu yang sangat lama. 350 tahun.

    Bantuan sosial dianggap rejeki dan kemurahan hati penjajah, sehingga penjajah perlu diundang kembali untuk terus menjajah.

    Selamat menikmati penjajahan ‘VOC baru’. EDI

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.