Home Kolom PROGRAM B100, RUDAL ISTIMEWA BUAT EROPA BARAT

PROGRAM B100, RUDAL ISTIMEWA BUAT EROPA BARAT

66
0

PROGRAM B100, RUDAL ISTIMEWA BUAT EROPA BARAT

 

Memet Hakim.                                            Senior Agronomist, Konsultan.      B bb Dosen LB Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

 

 

Menjawab deklarasi perang dari negara2 Eropa Barat melalui EUDR pada Minyak Sawit, maka Indonesia harus menembakan ICBM kelas berat ke Eropa dengan menyiapkan Program B-100. Sebagai Menteri Pertahanan Prabowo memang jeli melihat perang dagang ini. Bio solar adalah program terbaik dari Kementerian Pertanian. Saat ini Indonesia dan Malaysia adalah memiliki produksi minyak sawit sebesar 60 % dari produksi dunia, yakni sekitar 50 juta ton dan Malaysia sebesar 20 juta ton, sehingga lebih dominan untuk mengatur dunia.

Ajakan perang negara Eropa Barat harus kita lawan, Indonesia sekarang merupakan negara pionir untuk menghasilkan Fame (Bio diesel) dan Bensa (Bensin Sawit). Selain itu Indonesia memiliki produk tambang yang sangat diperlukan oleh mereka antara lain Bauxit sebagai bahan utama Alumunium dan Nikel industri baja tahan karat, baterai, Pembuatan Koin, Pembuatan Pesawat Terbang dan Reaktor nuklir serta Batubara. Bahan tambang ini dapat digunakan juga sebagai senjata pada perang dagang ini.

Presiden terpilih Prabowo Subianto mempunyai target besar untuk mewujudkan bahan bakar ramah lingkungan biodesel (B100) di era kepemimpinannya. Jika B-100 direalisasikan kita membutuhkan minyak sawit setidaknya 92 juta ton/tahun, sedang saat ini (2024) baru 50 juta ton, jadi perlu tambahan 43 juta ton lagi termasuk kebutuhan untuk bensa. minyak goreng dan industri dalam negeri juga meningkat (lihat table dibawah ini).

Peningkatan produktivitas kelapa sawit ini tentu “sangat mungkin dilakukan”, teknologinya telah tersedia antara lain metoda Production Force Management yang memungkinkan kenaikan produktivitas antara 30-80%. Selain itu jika seluruh land bank yang tersedia di tanami, luas lahan sawit dapat bertambah menjadi 20 juta Ha, adanya Replanting pada Perkebunan rakyat (mengganti bibit asalan yasng sudah tua menjadi bibit unggul), perbaikan pola pemupukan, penemuan persilangan bibit unggul baru, dll tentu akan mendongkrak produksi Nasional Minyak kelapa sawit. Demikian juga Perkebunan kelapa sawit terlantar sebaiknya diberikan ke BUMN supaya ada manfaatnya bagi negara dan Masyarakat di sekitarnya.

Penambahan kebutuhan Dalam Negeri akibat adanya pertumbuhan penduduk dan pendapatan, penggunaan Bio Solar yang semakin haru semakin tinggi, penggunaan Bensa 2-3 tahun yad tentu memerlukan tambahan produksi juga. Kebutuhan untuk ekspor cukup dipertahankan disekitar 22-25 juta ton saja, itupun dalam bentuk olahan, tidak lagi dalam bentuk CPO. Dengan demikian harga minyak sawit dunia juga akan merangkak naik, karena kebutuhan minyak sawit dunia juga akan bertahap meningkat.

Tabel 1 : Prediksi Produksi Minyak Sawit Nasional dan Tahapan B-100

URAIAN202420252026202720282029  2,030  2030-2024
Luas lahan kelapa Sawit Nasional171718181919203
Produksi Nasional Minyak Sawit5053586470839242
Intensifikasi (Dengan metoda PFM)*5053586470778535
Ekstensifikasi (Land Bank)**00000688
Kebutuhan Dalam Negeri 2529344048596843
  Bio Solar (B35à B100)1214172126313422
  Bensa01123699
  Minyak Goreng111213151618198
  Bahan Industri22333453
Ekspor Minyak Sawit25242323222424-1

Keterangan : *) Dengan bantuan metoda Production Force Management

**) Menanami semua land bank yang tersisa dalam bentuk Ijin Lokasi atau pun HGU

 

 

Ada nada pesimistik dari  Menteri ESDM terhadap program ini(Kompas.com, 16.05.2024)  Arifin Tasrif buka suara soal komitmen Presiden Terpilih Prabowo Subianto mewujudkan bahan bakar B100 atau biodiesel 100 persen. Tahun depan, Indonesia baru akan meningkatkan campuran itu mencapai 40 persen atau B40. Mudah-mudahan tahun depan bisa ke B40. Kita sudah siap dengan B40, sudah tes segala macam,” jelasnya. Sementara untuk meningkat menjadi B100, lanjut dia, juga harus dilihat dari ketersediaan bahan baku maupun potensi pasarnya. “Itu kan terkait peningkatan-peningkatan itu juga kita lihat balance daripada ketersediaan material dan kemudian pasar,” ungkap Arifin (Liputan6.com, 16 Mei 2024).

Lebih parah lagi komentar Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), lebih pesimis lagi, bahwa kebijakan tersebut dapat membuat Indonesia “defisit minyak sawit” (CPO). Dengan B50 kita sudah minus 1,2 juta ton CPO. “Artinya kita enggak ada ekspor. Kalau enggak ada ekspor kita enggak dapat devisa (Detik.com, 27 Mei 2024)

Padahal Kementerian Pertanian melakukan uji coba  biodiesel 100% (B100) untuk mobil dan tractor sejak 2019. Amran Sulaeman sudah berpikir lebih maju, produsen traktor (mitra Kementan) diminta untuk menyesuaikan mesinnya untuk biofuel,” Menurutnya, penggunaan 1 liter B100 bisa menjalankan kendaraan hingga 13,1 kilometer, jauh lebih tinggi daripada solar yang 1 liter hanya cukup untuk 9,6 kilometer (.Katadata.co.id, 15 April 2019).

Ternyata kualitas Bio-Solar ternyata lebih baik dari Solar diesel fosil, FAME adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari minyak nabati (CPO) melalui proses transesterifikasi.. FAME tidak bersifat toksik dan merupakan bahan bakar yang biodegradable. Minyak FAME memiliki nilai “angka setana sebesar 56” yang lebih besar dari minyak diesel. sedangkan untuk “angka setana minyak diesel adalah 48”.

Tabel 2. Spesifikasi Utama Kualitas Bahan Bio Solar B-35 & B-100

URAIANSOLAR FOSILFAME CPOBIO SOLAR
B-35B-100
Bilangan Setana48565156
Kandungan Belerang15001097910
Viskositas (mm2/s-suhu 20°C)5868

 

Jadi tidak usah ada kekuatiran akan kekurangan bahan baku jika ingin melakukan program B100, karena produksi minyak Sawit Nasional dapat mencapai 92 juta ton, bahkan 100 juta ton di tahun 2030-2032, tinggal bagaimana upaya seluruh stake holder dapat berkerja sama untuk mewujudkannya. Ini merupakan pekerjaan rumah bagi Direktorat Jendral Perkebunan dan GAPKI.

Penghematan Devisa dari impor solar sebesar Berdasarkan data Aprobi, pengurangan impor solar pada 2023 Rp 173,2 triliun (13,15 juta KL) tahun 2023, akan bertambah menjadi Rp 577.3 trilyun (43.8 juta KL) pada tahun 2030, jika B-100 terlaksana.

 

 

Bandung, 14 Juni 2024

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.