Home BANK INDONESIA PROGRAM B100, BUKANLAH MIMPI !!!

PROGRAM B100, BUKANLAH MIMPI !!!

86
0

PROGRAM B100, BUKANLAH MIMPI !!!

Oleh Dr Memet Hakim, Senior Agronomist, Konsultan Dosen LB Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Walau masih banyak dipermasalahkan, Presidenterpilih Prabowo Subianto mempunyai target besaruntuk mewujudkan bahan bakar ramah lingkunganbiodesel (B100), pernyataan ini memperkuatprogram unggulan Kementerian Pertanian yang agaktersendat, tentu niat baik ini perlu didukung. Ada masalah ekonomi, politik dan teknis di dalamnya, jika terwujud ini berarti RI dapat memenangkanperang dagang melawan Uni Eropa. Disamping itumeningkatkan devisa dan pendapatan petani dan Perusahaan kelapa sawit secara signifikan.

Jika B-100 direalisasikan kita membutuhkanminyak sawit setidaknya 92 juta ton/tahun, sedangsaat ini (2024) baru sekitar 50 juta ton, jadi perlutambahan 43 juta ton atau mungkin 50 ton lagi.termasuk kebutuhan untuk bensa (Biofuel). minyakgoreng dan industri dalam negeri juga meningkat(lihat tabel 1 dibawah ini). Memang masih ada yang ragu dan pesimis menghadapi program ini, tetapipenulis sebagai senior agronomis sangat optimisbahwa program B-100 dapat dilaksanakan, karenaada inovasi baru berupa Rekayasa Teknik Agronomiyang disebut Manajemen Akar dan Kanopi(Production Force Management) yang memungkinkan adanya peningkatan produksi antara30-80%.

Luas kebun kelapa sawit 2023 adalah16.833.985 ha, sehingga tahun 2024 diperkirakansudah diatas 17 juta ha. Dilain pihak masih terdapatland bank atau cadangan lahan berijin tetapi belumditanami kelapa sawit, begitu juga masih banyaklahan kosong milik rakyat yang minat tanam sawit, sehingga di perkirakan pada tahun 2030, luas lahankelapa sawit menjadi 20 juta ha.

Bibit asalan yang banyak ditanam di perkebunanrakyat, saat ini secara bertahap sedang dilaksanakanre-planting, sehingga diharapkan pada tahun 2027, semua bibit sudah bersasal dari bibit unggul (DxP).Potensi produksinya antara 30-40 ton tbs/ha/tahunatau 7.5-12 ton minyak sawit/ha, potensi produksi inidapat ditingkatkan sebanyak minimal 30% menjadi39-52 ton tbs/ha/tahun atau menjadi 9.75-15.6 ton minyak sawit/ha/tahun. Dilain pihak reratarealisasinya baru mencapai tbsnya 12.94 ton/ha/tahunatau dalam bentuk minyak sawit sebesar 2.8ton/ha/tahun, jadi gapnya sungguh sangat jauh. Artinya banyak peluang teknis dan non teknis untukmendekati potensinya. Peluang Non Teknis antaralain sarana jalan dan angkutan produksi.

Peluang untuk mendongkrak produksi kelapasawit sangat terbuka yakni.

1. Melakukan Replanting dengan menggunakan bbitunggul (Sedang dilaksanakan di Perkebuna Rakyat dengan bantuan dari BPDPKS))
2. Menanami seluruh land bank yang belumdiusahakan (belum dilaksanakan dan belum adaprogramnya)
3. Mengalihkan seluruh perkebunan terlantar akibat kePTPN yang telah terbukti dapat menghasilkanproduktivitasnya tertinggi, tetapi porsi luasannyamasih sangat rendah (3.5 %). Perlu keterlibatanMenteri BUMN dan Pihak Perbankan untukmerealisaikannya)
4. Menggunakan teknologi production force management yang berlandaskan Manajemen Akar dan Kanopi yang memungkinkan produksimeningkat sebesar 30-80%

Apabila ke-4 butir diatas dilaksanakan demikianproduktivitas minyak sawit Nasional akan meningkatpesat. Indonesia berada 1 langkah didepandibandingkan negara penghasil kelapa sawit, bahkannegara maju sekalipun karena memiliki 2 keunggulanteknologi yakni :

1. Rekayasa Teknik Agronomi berupa ManajemenAkar & Kanopi yang dapat meningkatkanproduktivitas antara 30%-80% dalam waktu 4-5 tahun, dengan biaya yang relatif rendah.
2. Rekayasa Teknik Biokimia sehingga dapatmengubah CPO menjadi Biodiesel dan Biofuel, secara efisien dan ekonomis.

Keduanya dapat dilakukan dalam skala Nasional, sehingga dapat menjadi senjata diplomasi dibidangperdagangan dan mencegah berbagai hambatandagang.

Arifin Tasrif, Menteri ESDM agak pesimis untukmewujudkan program B100 (Kompas.com, 16.05.2024), karena produktivitas minyak sawit Nasional masih sangat rendah, “Itu kan terkait peningkatan-peningkatan itu juga kitalihat balance daripada ketersediaan material dan kemudianpasar,” ungkap Arifin (Liputan6.com, 16 Mei 2024). Lebihpesimis lagi komentar Ketua Asosiasi Petani Kelapa SawitIndonesia (APKASINDO), lebih pesimis lagi, bahwakebijakan tersebut dapat membuat Indonesia “defisit minyaksawit” (CPO). Dengan B50 kita sudah minus 1,2 juta ton CPO. “Artinya kita enggak ada ekspor. Kalau enggak ada ekspor kitaenggak dapat devisa (Detik.com, 27 Mei 2024).  Memang rasa pesimis mereka semua benar jika tidak ada upaya untukmendongkrak produksi secara signifikan.

Tabel 1 : Peluang Peningkatan Produksi Minyak SawitNasional Dalam Tahapan B-100,

              Jika Manajemen Akar dilaksanakan Serentak.

URAIAN

2024

2025

2026

2027

2028

2029

2,030

2030-2024

Luas lahan kelapa Sawit Nasional

17

17

18

18

19

19

20

3

Produksi Nasional Minyak Sawit

50

53

58

64

70

83

92

42

Intensifikasi (Dengan metoda PFM)*

50

53

58

64

70

77

85

35

Ekstensifikasi (Land Bank)**

0

0

0

0

0

6

8

8

Kebutuhan Dalam Negeri

25

29

34

40

48

59

68

43

 Bio Solar (B35à B100)

12

14

17

21

26

31

34

22

 Bensa

0

1

1

2

3

6

9

9

 Minyak Goreng

11

12

13

15

16

18

19

8

 Bahan Industri

2

2

3

3

3

4

5

3

Ekspor Minyak Sawit

25

24

23

23

22

24

24

-1

Keterangan : *) Dengan bantuan metoda Production Force Management (Manajemen Akar &Kanopi)

    **) Menanami semua land bank yang tersisa dalambentuk Ijin Lokasi atau pun HGU

Dilain pihak Kementerian Pertanian telah melangkahlebih jauh dengan melakukan uji coba  biodiesel 100% (B100) untuk mobil dan traktor sejak 2019. Amran Sulaeman dan jajarannya sudah berpikir lebih maju dalam hal ini, produsentraktor (mitra Kementan) diminta untuk menyesuaikanmesinnya untuk biofuel,” Menurutnya, penggunaan 1 literB100 bisa menjalankan kendaraan hingga 13,1 kilometer, jauhlebih tinggi daripada solar yang 1 liter hanya cukup untuk 9,6 kilometer (Katadata.co.id, 15 April 2019).

Kualitas Bio-Solar ternyata lebih baik dari diesel oil darifosil, FAME adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dariminyak nabati (CPO) melalui proses transesterifikasi. MinyakFAME memiliki nilai angka setana sebesar 56 yang lebihbesar dari minyak diesel fosil yakni angka setananya 48.Sedang Bensa (Biofuel) memiliki Research Octane Number, RON sebesar 105-112 dapat dicampur dengan nafta dariminyak fosil yang memiliki nilai oktan rendah yaitu sekitar70–80, sehingga diperoleh bilangan Oktannya 93 atau 95.

Tabel 2. Kualitas Bio Solar B-35 & B-100

URAIAN

Solar Fosil

FAME CPO

Bio Solar

B-35

B-100

Bilangan Setana

48

56

51

56

Kandungan Belerang

1500

10

979

10

Viskositas (mm2/s-suhu 20°C)

5

8

6

8

Tabel 3. Kualitas Bensa (Biofuel) untuk mencapai RON 93 & 95

URAIAN

Minyak Fosil

Bensa

Bensa

Bensa-50

B-55

Bilangan RON, Octane

75

112

            93.13

          95.35

Melihat perhitungan produksi Nasional diatas, ternyataproduksi Nasional CPO sebagai bahan baku Bio diesel dan Biofuel dapat dipenuhi, sampai 92 juta ton, bahkan 100 jutaton di tahun 2030-2032. Tinggal bagaimana upaya seluruhstake holder terutama Pemerintah sebagai pengendali dapatberkerja sama untuk mewujudkannya. Ini merupakanpekerjaan rumah bagi Direktorat Jendral Perkebunan, GAPKIdan Asosiasi Petani Kelapa sawit. Untuk pengusaha dan petaniprogram ini sangat menguntungkan, karena dengan adanyakenaikan produktivitas sebanyak sebesar 60-65 % saja, labanya akan meninkat sebesar 100 %, menarik bukan ?

Saat ini devisa yang dihemat dari pengurangan imporminyak fosil saja sekitar Rp 577.3 trilyun (43.8 juta KL) setiaptahunnya, jika ditambah dengan Devisa dari minyak sawitsekitar Rp 600 trilliun jadi sudah diatas 1,177 trilyun. Apabilaprogram B100 dan Bensa di jalankan secara bertahap, makapenghematan devisa tentu jauh lebih besar lagi sampai tahun2030 bahkan dapat mencapai diatas Rp 2.000 trilyun/tahun. Saatnya petani dan pengusaha membantu pemerintah gunamencapai program sebaik ini.

Bandung, 18 Juni 2024

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.