Home Digtal PARA PENIKMAT NIKEL ILEGAL Orang Kuat Tambang Ilegal

PARA PENIKMAT NIKEL ILEGAL Orang Kuat Tambang Ilegal

43
0
PARA PENIKMAT NIKEL ILEGAL Orang Kuat Tambang Ilegal

Investigasi Tempo mengungkap pengerukan nikel dengan melawan hukum yang dilakukan orang dekat Presiden dan Kepala Polisi.

ENERGYWORLD.CO.ID – SUDAH banyak orang mengingatkan: sumber daya alam adalah anugerah yang mudah diubah menjadi musibah.

Kekayaan alam yang dikelola dengan ngawur, apalagi melanggar hukum, akan sedikit menguntungkan orang dan menjadi malapetaka bagi banyak orang.

Eksploitasi tambang nikel di Sulawesi Tenggara adalah salah satu contoh.

Nikel menjadi primadona seiring naiknya kebutuhan energi untuk kendaraan listrik.

Sebagai negara penghasil nikel terbesar—potensi kandungan 11,7 miliar ton dengan 4,5 miliar nikel yang dapat segera ditambang—Indonesia seharusnya mendapat manfaat lebih besar dari devisa yang berputar.

Nikel sebagai komponen ekspor nonmigas Indonesia memang telah menyokong neraca perdagangan positif dalam dua tahun terakhir yang menahan jatuhnya nilai rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat.

Sejak Mei 2020, tercatat 29 kali nilai ekspor kita surplus US$ 4-7 miliar per bulan.

Dari ekspor sepanjang tahun 2022 bernilai US$ 291,88 miliar atau Rp 4.524 triliun, ekspor nonmigas menyumbang US$ 235,61 miliar.

Minyak sawit, batu bara, dan nikel merupakan penyumbang produk ekspor terbesar Indonesia. Sebanyak 23 persen produk ekspor itu berlayar ke Cina, negara yang tidak memiliki legalitas asal-usul komoditas.

Seharusnya angka-angka luar biasa itu diingat dalam nilai cadangan devisa kita.

Faktanya, nilai cadangan devisa turun US$ 7,7 miliar pada tahun 2022 dibandingkan dengan tahun 2021.

Lalu siapa yang menikmati berkah komoditas sumber daya alam akibat naiknya permintaan global jika hal itu tidak terlihat dalam neraca keuangan?

Temuan majalah TEMPO di Blok Mandiodo, satu blok nikel di Konawe Utara, memberi penjelasan awal.

Di sini terdapat puluhan perusahaan yang melakukan penambangan nikel ilegal. Mereka mencuci nikel tak sah dengan memakai dokumen asli tapi palsu lalu menjualnya untuk pembuatan pembuatan di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

Umumnya peleburan nikel di sini merupakan perusahaan grup-grup besar pengusaha Tiongkok.

Dengan menempatkan pejabat daerah dan pusat sebagai komisaris, praktik ilegal mereka melenggang tanpa hambatan.

Di Mandiodo, perusahaan penambang pembohong yang dimiliki oleh politisi dan keluarga pejabat bahkan mendapat perlindungan dari sejumlah jenderal polisi.

Sejatinya izin usaha pertambangan Blok Mandiodo seluas 3.400 hektar dimiliki badan usaha milik negara PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Sebelumnya, lahan ini menjadi perlawanan perusahaan penambang nikel. Berkat proses hukum di Mahkamah Agung, Antam memperoleh hak konsesi blok nikel seluas total 16.000 hektar ini.

Namun, alih-alih menambang agar hasilnya disetor ke negara, Antam malah meminta perusahaan lain mengeruknya.

Penerima hak istimewa menambang nikel di area konsesi Antam adalah PT Lawu Agung Mining. Perusahaan ini dimiliki Windu Aji Sutanto, pengusaha yang memimpin tim lawan pemenangan Joko Widodo pada Pemilihan Umum 2019.

Windu juga mengklaim dekat dengan Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo. PT Lawu Agung menunjuk sebelas perusahaan lain untuk mengeruk 7,8 juta ton nikel selama tiga tahun.

Perusahaan-perusahaan di bawah PT Lawu juga menambang di luar wilayah pertambangan Antam.

Aktivitas ilegal bertingkat-tingkat ini tak terjamah hukum karena dilakukan melalui jual-beli dokumen dan memberikan “uang koordinasi” kepada aparat penegak hukum. **

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.