Home AMDAL WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN PAKAR SAWIT INDONESIA DR.IR. MEMET HAKIM MM: INI CARA...

WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN PAKAR SAWIT INDONESIA DR.IR. MEMET HAKIM MM: INI CARA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS MINYAK SAWIT UNTUK B100

53
0

WAWANCARA EKSKLUSIF DENGAN DR.IR. MEMET HAKIM MM,

PAKAR SAWIT INDONESIA

CARA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS MINYAK SAWIT

Indonesia akan mampu membuat biodiesel B100. Saat ini menjadi polemik yang terus bergulir. Memang akan menjadi PR besar jika biodiesel B100 dijalankan, selain soal mahal. Biodiesel ini yang merupakan bahan bakar nabati untuk aplikasi mesin/motor diesel berupa ester metil asam lemak.

Namun  biodiesel B100 akan jadi harapan baru  Bahan Bakar di Indonesia, karena  “Kemampuan Biodiesel B100 dinilai efisien karena satu liter B100 bisa menempuh perjalanan hingga 13,4 km, sementara satu liter solar hanya mampu sekitar 9 km, Nah berikut  adalah wawancara khusus sekaligus eksklusif dengan pakar Sawit Indonesia dari PT ETCAS,  DR.IR. Memet Hakim MM, dengan Aendra Medita, Wartawan EnergyWorld.co.id selamat menyimak:

Dr Memet Hakim, Pakar Sawit

Aendra Medita (AM):

Ada program B-100 sekarang menjadi viral kembali setelah Menhan Prabowo bulan Mei 2024 ingin agar B-100 dapat diwujudkan, apakah ini mungkinkah?

DR.IR. MEMET HAKIM MM (MH) :

Mungkin, dan program Bio diesel sudah lama dilaksanakan, dimulai dari B5, B10, B20, B30 sekarang B35. Maksudnya Solar (Minyak fosil) yang mempunyai bilangan oktan 45-48 dicampur dengan Bio solar ( Fatty acid methyl ester) dari CPO sebanyak 5%, 10%, 20 %, 30% dan 35 %. Pak Menteri Pertanian Amran Sulaiman 5 tahun yang lalu bahkan telah melakukan uji coba pada sejumlah traktor pertanian dan mobil. Hasilnya: lebih irit dan tidak ada masalah teknis.

Masalahnya jika B35 saja CPO yang digunakan sebanyak 12 juta ton, maka jika B100 dibutuhkan 34 juta ton, artinya ada tambahan sebesar 22 juta ton. Nah ini yang menjadi tantangan, karena produksinya tidak cukup. Belum lagi ada kebutuhan lain seperti untuk Bensa seperti Bio Avtur (2,5-3,0 juta ton/tahun), Pertalite (RON 90) 23 juta ton/tahun, Pertamax (RON 92) 6 juta ton dll. Jadi untuk konsumsi energi biofuel saja diperkirakan campuran Bensa sekitar 15-18 juta ton CPO.

Untuk konsumsi dalam negeri yang industri juga meningkat dengan adanya tambahan penduduk RRC, wisatawan dan pertambahan penduduk lokal, nah ini diperkirakan diperlukan tambahan 11 juta ton, sehingga total tambahan CPO yang dibutuhkan 5 tahun ke depan menjadi 51 juta ton. Perhitungan ini dengan catatan volume ekspor tetap dipertahankan pada label setara 25 juta ton turunan CPO. Produksi CPO Nasional yang saat ini baru 48 juta ton yang seharusnya dipacu menjadi 99 juta ton.

(AM)

Berapa sebenarnya potensi produktivitas CPO?

MH :

Kalau potensi menurut produsen Benih kelapa sawit DxP adalah 40 ton tbs atau 9 ton CPO, ditambah minyak Inti Sawit 1 ton jadi minyak sawit sebanyak 10 ton (40 ton TBS/ha) . Bila menggunakan teknologi PFM, potensi ini dapat meningkat menjadi > 13 ton minyak sawit/ha/tahun. Realisasinya 2024 ditargetkan 2,9 ton/ha/tahun , artinya masih sangat rendah. Rendahnya produktivitas minyak sawit merugikan semua pihak, pemilik, karyawan, dan negara.

(AM) :

Bagaimana cara meningkatkan produksi minyak Sawit Nasional?

(MH):

Begini secara Teknis :

Meningkatkan Produktivitas Tanaman

Meningkatkan “berat brondolan” dan “jumlah brondolan”, sehingga berat TBS semakin tinggi.

Tingkatkan “Jumlah Tandan/Pohon” yang dapat dipanen

Peliharaan “Akar” dan “Kanopi”.

Lalu kendalikan udara  pada area tanaman yang tumbuh subur dan tambahkan udara pada saat kering.

Soal Tanah kosong berijin (tanah bank) yang banyak tersedia di wilayah perkebunan dan pinjam Kebun-kebun  yang terlantar atau alihkan kepemilikannya ke PTPN, agar lebih produktif

Melanjutkan program penanaman kembali

Kalau Non Teknis :

Kita perlu Pemeriksaan Jaringan Jalan Produksi

Berikan insentif yang menarik bagi karyawan

Memberikan kemudahan pembelian pupuk subsidi bagi petani, Meningkatkan Kapasitas Manajerial Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit.

AM: 

Siapa saja yang diuntungkan dengan program B-100 dan Bensa ini?

MH :

Dengan semakin banyaknya Produktivitas, semua pihak terkait akan menikmati keuntungan ada Pemilik & Petani : Pendapatannya pasti akan meningkat, lalu  Karyawan : Bonus akan bertambah dengan baik dan yang penting Negara: ada pajak produk minyak sawit semakin besar (PPN, PPh, BK, PE)

AM: 

Bagaimana cara menggerakan para pengusaha dan petani agar mau meningkatkan produktivitas?

MH:

Jika pemerintah mau, sebenarnya tidaklah sulit misalnya Mengeluarkan permen tentang perangsang produktivitas untuk Perusahaan Besar dan Petani lokal (non Asing) yang isinya antara lain : Proporsi TBS Sawit < 12 ton TBS/ha, dikenakan PBB 200 %.

Protas TBS Sawit 12-18 ton TBS/ha, dikenakan PBB 150 %, Protasi TBS Sawit 18-25 tonTBS/ha, dikenakan PBB 100 %, Protas TBS Sawit 25-30 ton TBS/ha, dikenakan PBB 50 %, Protas TBS Sawit > 30 ton TBS, dikenakan PBB 0%. Dengan cara ini semua pemilik kebun akan berlomba mencari jalan dan tidak akan dikenakan pajak. Angka diatas adalah angka rerata Kebun HGU atau SHM bagi petani.

Lalu soal regulasi harus ada dan harus mengeluarkan aturan Royalti bagi perusahaan Asing : Selama ini Perusahaan Asing berkembang sangat cepat, tetapi BUMN berkembang sangat lambat, padahal produktivitasnya lebih baik di BUMN. Oleh karena itu kepada Perusahaan asing perlu ada pembagian Dividen Khusus dari Laba Bersih kepada pemerintah, sebagaimana dijelaskan dalam UUD 45 pasal 33.

Ada Perpres/Permen tentang Royalti untuk Perusahaan Asing

Protas Minyak Sawit < 3 ton/ha , dikenakan PPN 15 % + Royalti 40 %. Protas Minyak Sawit 3-4 ton/ha, dikenakan PPN 10 % + Royalti 30 %. Protas Minyak Sawit 4-5 ton/Ha, dikenakan PPN 5 % + Royalti 20 %. Protas Minyak Sawit >5 ton/ha, dikenakan PPN 0 % + Royalti 10 %.

Nah dengan demikian seluruh Perusahaan asing juga akan berlomba meningkatkan produktivitas untuk menghindari pajak dan besarnya Royalti serta mempertahankan labanya agar tidak berkurang walau dikenai Royalti. Royalti dihitung dari Laba Usaha setiap tahunnya (Hasil RUPS). Minyak sawit dihitung dari rata-rata produksi PKS dibagi luas lahan yang ditanami.

Lalu ada juga soal Areal Bank Tanah yang telah keluar izin dan jelas kepemilikannya harus dikenakan pajak khusus karena merugikan negara akibat tidak produktif. Lahan kosong dikenakan pajak yang lebih tinggi dibandingkan lahan produktif.

Setiap tanah kosong dikenakan pajak berupa PBB sebesar 300 % dari PBB yang berlaku, tanah yang telah ditanami tetapi belum menghasilkan dikenakan Pajak PBB 200 %. Semua itu diharapkan dengan demikian seluruh lahan yang telah diberikan oleh pemerintah baik oleh Camat, Bupati, Gubernur maupun Pusat semuanya menjadi lahan produktif dan produktivitasnya tinggi.

AM :

Apa hambatan terbesar dalam upaya Peningkatan Produktivitas Minyak Sawit?

MH:

Belum adanya kemauan politik yang sungguh-sungguh dan konsisten dari pemerintah, padahal potensinya sangat besar yakni lahan tambahan masih banyak tersedia, teknologi tersedia, benih unggul tersedia.

AM :

Sekarang apa untungnya jika Program B100 & Bio Fuel terlaksana

MH:

Untungnya dalam arti “non finansial” adalah RI tidak dapat didikte lagi di bidang perdagangan oleh negara lain terutama Uni Eropa dan Amerika. RI akan semakin disegani di kancah dunia. Untung lagi di bidang “finansial”, seluruh pemangku kepentingan kelapa sawit akan mendapatkan keuntungan jauh lebih besar dari yang diterima seperti sekarang sesuai porsinya masing-masing.

AM :

Jika ada pihak Perkebunan Besar atau Perkebunan Besar memerlukan bantuan teknis untuk meningkatkan produksi minyak sawit, berapa biayanya?

MH

Biayanya sama sekali tidak besar, tidak sebanding dengan keuntungan tambahan yang akan diperoleh. Pembayaran hanya jika ada tenaga yang ditempatkan di lapangan saja dan bagi hasil ( Profit Sharing ) 10% dari “selisih peningkatan produktivitas”. Tetapi untuk menjaga agar produktivitas tetap tinggi, perlu ada bonus tambahan bagi jajaran manajerial di perusahaan atau kelompok tani tersebut.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.