Oleh : William Win Yang – Business Strategist – Best selling Business Author
Saya sebenarnya sudah gatal menulis artikel ini, sejak Indonesia ditetapkan 32%, namun saya tunggu dulu bandingan dengan negara-negara lain, yang mana, sangat menarik mengamati, bahwa musuh utama Amerika, yaitu China hanya mendapat 30%.
Ditengah kemarahan dan kekecewaan rakyat pada negara, tetiba datang lagi berita yang mengatakan bahwa Indonesia hanya mendapat 19%. Setelah kesepakatan luar biasa kata Trump. Yang isinya : Semua produk Amerika semua kena tarif 0%, membeli energi AS senilai 15 miliar dolar (Rp244 triliun), produk pertanian Amerika senilai 4,5 Miliar dolar, dan 50 jet Boeing, banyak di antaranya adalah Boeing 777, dan yang menarik adalah pernyataan terakhir dari Trump : “Kita (AS) memiliki akses penuh ke Indonesia, semua, seperti yang Anda tahu, Indonesia sangat kuat pada tembaga. Tapi kita memiliki akses penuh ke semuanya” dan kata-kata lainnya : “Seperti yang Anda tahu, Indonesia sangat kuat dalam hal tembaga. Tapi kami punya akses penuh ke semua itu. Kami tidak akan membayar tarif apapun. Jadi mereka memberikan kami akses ke Indonesia yang tidak pernah kami miliki sebelumnya. Mungkin itu merupakan bagian terpenting dalam kesepakatan,”
Apa maksud dari pernyataan terakhir ini? Well, saya memaknainya : Indonesia kemungkinan sudah melepaskan hilirisasi khusus untuk Amerika. Tembaga, kemudian Nikel (terutama), dapat di export langsung ke Amerika tanpa melalui proses di smelter lokal.
Lalu apa dampaknya bagi Indonesia :
1. Kewajiban import dari USA itu tampak sekali akan membebani keuangan Indonesia yang sedang morat-marit, kecuali jika Indonesia selama ini memang memenuhi kebutuhan barang-barang itu dari negara lain dan tinggal mengalihkannya saja. Tapi itupun menimbulkan masalah baru : yaitu kemungkinan pembalasan dari negara yang kita alihkan importnya ke Amerika.
2. Yang harus dipikirkan juga : apakah minyak dari USA memang lebih murah? Atau lebih mahal, demikian juga barang-barang lainnya.
3. Berikutnya, petani dan peternak Indonesia pasti akan babak belur karena bertarung langsung dengan importir USA
4. Lalu bagaimana dengan hilirisasi ? kata-kata terakhir dari Trump mengindikasikan berakhirnya hilirisasi. Yang artinya pertama akan langsung membuat marah investor dari China yang sudah patuh dan membangun Smelter di Indonesia. Kedua, menunjukan untuk sekian kalinya, bahwa Indonesia tidak bisa dipegang omongannya. Ketiga, untuk jangka pendek, kita mungkin akan mendapat pemasukan instan dari jual hasil tambang tanpa hilirisasi. Tapi Keempat, ini artinya proyek hilirisasi kita gagal, dan pembeli dari China mungkin akan memilih untuk berkolusi dengan pembeli dari USA (yang pastinya swasta), untuk membeli bahan tambang kita tanpa proses hilirisasi. dan Kelima : semua proyek turunan hilirisasi seperti baterai dan lain, lain akan beresiko berebutan bahan tambang dengan pembeli Amerika, yang efeknya meningkatkan resiko bisnis dari bisnis turunan ini, yang efeknya mungkin membuat bank-bank menahan pendanaannya untuk bisnis ini, yang efeknya, membuat bisnis ini tidak lagi menarik, dan para pemainnya mundur pelan-pelan, kecuali pemain yang didanai danantara mungkin.
5. Dan yes, kita akan bertahan sedikit lebih lama, karena pabrik-pabrik yang berbisnis dengan Amerika tidak akan mengalami pemecatan, namun setelah itu, kita mungkin akan memiliki tambahan hutang yang menumpuk yang harus di bayar kemudian hari. Seperti kita tahu, untuk bayar hutang yang jatuh tempo juni kemarin saja kita sudah cukup sempoyongan. Ditambah lagi akhir tahun katanya ada 500T lebih bunga hutang yang harus dibayarkan. Yang artinya, posisi kita makin rentan, dan jika Trump pada saat krisis nanti mengancam lagi dengan tarif atau apalah itu, apakah kita akan memerdekakan Papua dan Aceh ?
Singkat cerita, deal ini sangat bagus bagi Amerika, dan sangat menyeramkan bagi kita. Kecuali kalau presiden kita yang dipuji-puji sebagai pemberani dan jenius oleh Trump itu memang punya rencana jenius lain untuk dalam sekejab memutar balikan semua ini (yang terus terang sangat saya ragukan)
Catatan : saat saya menulis artikel ini, BI baru saja menurunkan suku bunganya, yang artinya, ke masa depan, kita beresiko menghadapi inflasi yang lebih tinggi. What the hell happened? Apa yang salah? Bukankah kita sudah melakukan apa yang Trump mau? Bukankah kita langsung mengemis minta ampun sesaat setelah Trump mengumumkan tarif?
Kita juga menawarkan berbagai paket istimewa? Kenapa kita dikenakan 32%?
Untuk kemudian diturunkan jadi 19%, tapi setelah menyetujui kesepakatan yang tampak sekali menggadaikan masa depan bangsa ini? Yes, kesalahan terbesar kita mungkin pada menuruti apa kemauan Trump. Jadi apa yang Trump mau ? Make America Great Again? Maybe, tapi ada yang lebih penting dari menyelamatkan Amerika yang bobrok : yaitu memuliakan dirinya… mendeklarasikan kemenangan demi kemenangan… mendapat puji-pujian…. Dan tentu saja keuntungan pribadi yang banyak, seperti naik turunnya harga saham akibat kebijakan-kebijakan anehnya. Oh ya, tidak lupa menyebutkan : kekuasaan yang dipamerkan secara vulgar, seperti penindasan oleh ICE dan ancaman tarif 50% pada Brazil, dengan alasan Brazil akan menghukum seorang koruptor yang jadi temannya Trump.
Memberi pesan : “Kalau kamu mengabdi sama saya, kamu bisa kebal hukum” Tidak hanya pameran kekuasaan dan kemenangan, dia mau mengambil keuntungan sebesar-besarnya untuk pribadi dan komplotannya, dia juga mau seluruh dunia menjilat pantatnya dengan sangat hina (seperti yang dilakukan si anu itu…) Jadi, kita sedang menghadapi seorang egocentric bully… seorang yang egonya sangat tinggi dan gemar sekali menindas kaum yang lemah untuk mengukuhkan kehebatannya… dan seperti semua tukang bully yang egocentric, di dalamnya tersembunyi seorang penakut… dan itu tersirat dari surat balasannya yang mengatakan : “Jangan melakukan pembalasan… ini saya lakukan karena selama ini Amerika diperlakukan tidak adil, dan kamu ngambil keuntungan dari kami”. Ini adalah salah satu trik negosiasi yang membuat lawan bingung… membuat lawan mempertanyakan dirinya sendiri… ditambah kekuatan Amerika terhadap keuangan dunia dan sebagai customer terbesar di dunia, menyebabkan lawan negosiasi tidak hanya bingung, tapi juga takut.
Namun, dari kalimat yang senantiasa diulang-ulang ini, menunjukan, jauh di dalam hatinya, dia takut akan pembalasan dari orang yang dia zolimi. Karena siasat negosiasi Trump ini bagaikan pedang bermata dua, saat dia menyakiti orang lain, dia juga menyakiti dirinya sendiri, dan beresiko mengantarkan negaranya pada krisis. Maka itu, dia harus mengacaukan pertimbangan lawannya, dengan di satu sisi merampok dan menusuk dari belakang, sementara di sisi lain memuji-muji bahwa lawannya adalah orang baik dan hebat, sambil mengatakan, saya terpaksa memberlakukan tarif, karena Amerika sudah lama di zolimi (sejak kapan Amerika di zolimi? Yang ada dialah yang menzolimi seluruh dunia).
Menghadapi orang macam ini, jika kita lemah, dia akan berasumsi, bahwa dia bisa mengambil lebih banyak, dan selama ini menawarkan harga terlalu murah. Maka itu, tidak heran, mereka yang paling cepat menyerah adalah yang paling banyak ditindas.
Seperti yang dikatakan juru bicara China : “You give a bully an inch, he will ask for a mile” “Jika kamu kasih tukang bully satu inci saja, maka dia akan minta satu mil”
Faktor China
Saat orang-orang sedang bingung dengan tarif tinggi, puji-pujian palsu, dan ancaman dari Trump, China menjadi satu-satunya negara yang berani melawan. Dia satu-satunya negara yang berani menaikan tariff sesuai dengan jumlah yang dinaikan Amerika.
Dan semakin Amerika menaikan tarifnya terhadap China, China melakukan hal yang sama. Dia tidak bicara, tidak mengancam, hanya bertindak. Alhasil, setelah sekian lama, Trump sendiri yang mendekati China untuk negosiasi Seketika, dunia seperti tersadarkan… merekapun seperti mencium bau darah, dan mulai berani melawan Trump, hingga Trump mengambil langkah extreme : menunda tarif untuk seluruh Dunia, kecuali China… ini memberi pesan, bahwa musuhnya hanya China… jadi silahkan seluruh dunia, kembali menjilat Amerika, atau menghadapi hukuman seperti China.
Namun China tetap diam… Lalu apa yang dilakukan Trump? Dia terus mengoceh menebar ancaman, dan mendeklarasikan kemenangannya terhadap China… Sambil memuji-muji bahwa Xi Jinping adalah orang hebat, dan…. Dia menunjukan kelemahannya, dengan mengatakan bahwa dia terbuka negosiasi dengan China, dan menunggu telepon dari Xi…. Lalu apa yang China lakukan?
Diam… mereka bahkan membatalkan pesana terhadap Boeing, yang membuat Trump ngamuk-ngamuk…. Lagi-lagi China diam… Dan harapan agar dunia mengisolasi China pun tidak berjalan lancar… negara-negara tetap berbisnis dengan China…. Trump kemudian mengumumkan, bahwa sudah ada pembicaraan negosiasi dengan China… tapi dengan nada menghina, China membantahnya… ini seperti melemparkan kotoran ke wajah seorang egocentric bully seperti Trump… namun kali ini reaksi Trump berbeda… dia tidak marah, malah berkelit, bahwa dia memang bicara dengan orang China.
Suatu pernyataan lucu yang menjadi bahan tertawaan seluruh dunia, sekaligus menunjukan sosok di pengecut di balik kegarangan dirinya menindas kaum lemah. Lalu datanglah pukulan paling mematikan dari China : blokir export rare earth. Trump kembali marah-marah dan menebar ancaman, namun China tetap diam… dan akhirnya, Trump terdesak sendiri, dan terpaksa mengubah strategy nya dari menunggu orang datang padanya, menjadi pro aktif mengejar China.
Dan Chinapun mulai pasang harga : Kami terbuka untuk negosiasi, asal setara. Dan itu dimulai dengan Amerika menghentikan lebih dulu tarifnya yang tidak masuk akal itu” Surprisingly, Trump mengabulkannya, dan pembicaraanpun dimulai di Swiss… tempat netral yang dipilih China. Sinyal pada dunia, bahwa Amerika tidak sekuat yang dicitrakan oleh Trump. Dan sekarang… terbukti : setelah menjilat dan negosiasi macam-macam, kita tetap dapat tarif 32%, plus ancaman : jangan coba-coba balas. (yang boleh di coba adalah ngemis-ngemis dan gadaikan masa depan negara demi tarif 19%) Kenapa China bisa begitu? Dari informasi yang saya dapat dari kawan-kawan di China, mereka sudah pernah mengalami tarif yang mengejutkan di periode pemerintahan pertama Trump.
Saat itu, mereka panik dan langsung negosiasi. Maka itu, saat Trump menunjukan tanda-tanda kemenangan, mereka tahu akan menghadapi hal yang sama. Maka itu, mereka menyiapkan Crisis Mode, dengan asumsi 4 tahun harus bisa bertahan tanpa Amerika. Dan itu terdiri dari : 1. Ketahanan supply bahan baku dan makanan selain dari Amerika 2. Ketahanan market : mencari market alternatif selain Amerika 3. Ketahanan diplomatik : mencegah isolasi oleh Amerika, baik dengan investasi, ataupun supply barang-barang yang hanya bisa diproduksi di China, atau ancaman tarif balasan, atau program-program lainnya Yang dilanjutkan dengan Recovery Mode :
1. Memperkuat BRICS
2. Mempercepat dedolarisasi dengan mata uang BRICS Untuk memahami Crisis mode dan Recovery mode lebih dalam, silahkan baca buku :
The Dragon Slayer Trading Strategy Dan China memiliki keunggulan internal yang tidak dimiliki Amerika :
1. China memiliki ketahanan terhadap guncangan politik yang jauh lebih kuat dari Amerika. Rakyatnya tidak gampang berdemo, dan lebih suka bekerja mencari uang
2. Yes, China sedang dalam masalah ekonomi yang sangat pelik, namun dia beruntung, karena rakyatnya tidak menyalahkan pemerintah atas masalah ini, tapi menyalahkan Amerika. Dan ini membuat rakyat China lebih bersatu dalam menghadapi perang dagang ini.
3. China adalah negara penabung, yang mana saat ekonomi rusak, mereka konon mampu bertahan 1 tahun tanpa pekerjaan Dan juga keunggulan eksternal
1. China menjadi lebih populer dan tampak seperti the Good Guy. Thanks to USA yang senantiasa menyalah gunakan Golok Pembunuh Naganya (Baca Dragon Slayer Strategy)
2. China memiliki barang yang diinginkan seluruh konsumen dunia, dan tidak ada pabriknya di manapun di dunia Demikianlah : saat semua kaget dan kelimpungan, China siap. Rakyat dunia mengaggumi China sebagai satu-satunya yang berani berdiri dihadapan tirani Amerika. China bahkan menjadi inspirasi negara-negara lain untuk melawan. Seperti yang dikatakan Napoleon Bonaparte : “Seorang pemimpin berhak untuk kalah Tapi tidak berhak untuk terkejut” Bagaimana dengan kita? Ya ya yaaaa… saya mendengar anda mengatakan bahwa kita beda sama China… China punya barang-barang yang dibutuhkan dunia… China memiliki belt and road… China lebih kaya dari kita…. China memonopoli rare earth…. Dan lain sebagainya…. Heyyy, jangan sebut hanya China dong… sebut juga Eropa yang secara terang-terangan menyatakan akan melawan dengan melakukan dedolarisasi, dengan menjadikan Euro sebagai mata uang utama dunia. Yaaa kita kan bedaaaa…. (katanya)….. kita ini utangnya banyak…. Banyak export tergantung ke Amerika, yang mana kalau di blok akan banyak pengangguran…. Padahal di Indonesia sudah banyak sekali pengangguran karena penutupan pabrik-pabrik secara beruntun… bahkan banyak sarjana yang menganggur… bahkan tidak sedikit lulusan S2 yang menjadi penarik ojek online… belom lagi banyak korupsinya… banyak kontraktor ga di bayar….
Belom lagi rakyatnya ga nasionalis karena #kaburajadulu…. Belom lagi pejabatnya menindas rakyat… belom lagi hutang negara jatuh tempo 570 T akhir tahun ini…. Lagipula, memang defisit neraca kita ke Amerika cukup jomplang kok (loh kok malah menyalahkan diri sendiri… dasar tolol. Yang benar itu, mengatakan : kita bukan penjahat. Kita kerja keras. Semua memenuhi kebutuhan kamu yang dibayar dalam dolar yang bisa kamu cetak semaunya.) Dan sebagainya… dan sebagainya… Tapi bukan berarti kita tidak bisa melawan….
Ingat prinsip Dragon Slayer Strategy :
1. Kita dikendalikan oleh orang lain karena kita melekat pada dia
2. Tapi saat kita melekat pada dia, dia juga melekat pada kita Jika kita gali lebih dalam…. Ada kemelekatan lain diluar sekedar urusan dagang… tapi kemelekatan pada pengaruh…. Jika kita mengancam pengaruh mereka di negara terbesar Asia Tenggara ini, kemungkinan besar mereka akan mulai datang ke meja perundingan… dan pengaruh itu ada di : Social media, sistem pembayaran Visa & Mastercard. Beginilah yang saya katakan jika saya jadi Presiden :
1. Mengakui kekeliruan : “Pada waktu kami di kenakan tarif 32%, kami panik… kami segera bernegosiasi… kami cabut semua halangan import… kami siapkan paket-paket terbaik bagi Amerika… kami mengirim tim terbaik kami… kami menerima dan bertebal muka, walau setelah kami melakukan itu, Trump dengan bangga mengatakan seluruh dunia menjilat pantatnya karena takut pada tarifnya… kami telan penghinaan itu… dan kini… setelah 3 bulan berlalu… setelah semua penghinaan itu, tarif kami masih 32%, ditambah pesan agar jangan mencoba membalas (akan lebih dramatis kalau sambil menujukan surat dari Trump)… sungguh betapa hinanya kami ini… setelah merendahkan diri, bukannya diampuni malah diinjak… sementara China, yang dikatakan musuh utama mereka hanya kena 30%… dan ini membuat saya ingat kata-kata yang saya baca di social media resmi kementrian luar negri China : if you give a bully an inch, he will ask a mile… dan kini saya tambahkan : after I give that bully a mile… he ask for 100 mile”
2. Serang balik : “…maka itu, hari ini kami disadarkan : bahwa tidak ada gunanya bernegosiasi dengan teroris… tidak ada gunanya merendah… yang benar adalah melawan… maka itu, ijinkan saya menyampaikan bahwa : mulai saat ini, semua barang Amerika akan kita kenakan tarif 300%, dan semua tambang yang terafiliasi dengan Amerika, atau memiliki pemilik saham yang terafiliasi dengan Amerika akan dikenakan tarif export senilai 300%, kecuali dia melepaskan tambang itu ke non Amerika (kita juga bisa pecah-pecah mereka)… kemudian, dalam 1 tahun kedepan, Indonesia akan melarang Facebook, Instagram, Whatsapp, AWS, dan Chat GPT… yang sebenarnya kami sudah tahu sejak lama, adalah alat mata-mata bagi Amerika… bagi rakyat Indonesia, segera tinggalkan platform-platform itu, dan beralih ke alternatifnya dalam waktu yang ditentukan… syukur-syukur, kalau alternatif itu adalah karya anak bangsa….
Dan untuk mencegah penyalah gunaan, kami akan melarang penggunaan VPN dalam 3 bulan kedepan… Dan terakhir, dalam 1 tahun, visa dan mastercard dilarang melakukan transaksi dalam negri, dan hanya boleh untuk transaksi antar negara, dan sebagai gantinya kami akan mengalihkan ke GPN…. Demikian dari saya, terima kasih” Jika ini sungguh dilakukan, selain Presiden kita akan tampak gagah sebagai pengusung The Mandate of Heaven, maka Amerika akan kehilangan sesuatu yang lebih mahal dari sekedar defisit neraca perdagangan… yaitu pengaruh mereka di negara terbesar di Asia Tenggara ini…. Nah sekarang kita seimbang, dan siap bernegosiasi (ingat umumkan dulu untuk buat kegaduhan)…
Catatan : Siasat ini bisa berjalan jika :
1. Negara lain bersatu melawan Amerika, jadi kita harus perkuat diplomasi, agar tidak ada saling mengkhianati. Minimal jangan sampai di isolasi oleh Amerika.
2. siasat ini hanya bisa dilaksanakan jika pimpinan kita tidak melekat pada Amerika… misalnya : tidak ada uang yang disimpan di Amerika, atau lebih buruk : tidak ada uang haram hasil korupsi yang disimpan di Amerika… dan jajaran dibawahnya cukup loyal untuk membelanya dari kepentingan Amerika…
3. Bersiap adanya operasi CIA skala besar di Indonesia
4. Dan yang paling utama adalah : memiliki kemampuan untuk melakukan Crisis Mode, minmal siap bertahan 1 tahun tanpa Amerika. Entah dengan mengalihkan pekerja dengan pekerjaan padat karya seperti pembangunan IKN atau makan bergizi gratis, atau apalah Apakah kamu bisa, wahai Presiden? Lalu apakah siasat ini pasti berhasil? Entahlah… mungkin akan dapat tantangan yang lebih berat dari yang seharusnya… karena salah satu kunci kemenangan suatu siasat adalah The Element of Surprise alias faktor kejutan… dan dengan saya menuliskannya di sini, kita kehilangan faktor kejut itu… namun, kalaupun tidak bisa menggunakan siasat yang saya sampaikan disini, karena misalnya ternyata presiden atau mentri-mentri kuncinya memiliki skandal korupsi yang rahasianya dipegang CIA, atau mungkin karena kekuatan diplomasi Amerika yang berhasil mengisolasi kita, atau memang kondisi kita begitu bobroknya, hingga tidak punya tenaga untuk melawan sama sekali (dengan kata lain tidak mampu melakukan crisis mode), maka biarlah artikel ini memberikan inspirasi untuk memikirkan langkah strategis berikutnya, bukan menyerah dan memohon-mohon seperti korban bully yang sedang dipukuli… dan semoga dengan artikel ini, kita bisa diam-diam mempersiapkan crisis mode untuk serangan berikutnya.
Diinti sarikan dari buku : The Mandate of Heaven
