India Punya 25 PLTN, Indonesia dan PLTN Mulai pada tahun 2030 atau 2032
ENERGYWORLD.CO.ID – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah sumber listrik terbesar kelima di India setelah batu bara, hidro , surya dan angin. Pada April 2025, India memiliki 25 reaktor nuklir yang beroperasi di 8 pembangkit listrik tenaga nuklir, dengan total kapasitas terpasang sebesar 8.880 MW.
Tenaga nuklir menghasilkan total 57 TWh pada tahun fiskal 2024-25, menyumbang sekitar 3% dari total pembangkit listrik di India. .Reaktor lagi sedang dibangun dengan kapasitas pembangkitan gabungan sebesar 8.700 MW.
Pada bulan Oktober 2010, India menyusun rencana untuk mencapai kapasitas energi nuklir sebesar 63 GW pada tahun 2032. [Namun, setelah bencana nuklir Fukushima 2011 , terdapat banyak protes anti-nuklir di lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir yang diusulkan. [Terdapat protes besar-besaran terhadap Proyek Tenaga Nuklir Jaitapur di Maharashtra dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kudankulam di Tamil Nadu, dan pembangkit listrik tenaga nuklir besar yang diusulkan di dekat Haripur ditolak izinnya oleh Pemerintah Benggala Barat . Sebuah Litigasi Kepentingan Publik (PIL) juga telah diajukan terhadap program nuklir sipil pemerintah di Mahkamah Agung.
India telah membuat kemajuan dalam bidang bahan bakar berbasis thorium, dengan merancang dan mengembangkan prototipe reaktor atom menggunakan thorium dan uranium pengayaan rendah, yang merupakan bagian penting dari program energi nuklir India tiga tahap
PLTN digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi India yang terus meningkat, serta untuk mengurangi emisi karbon.
India memiliki rencana yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas energi nuklir mereka, dengan target mencapai 100 GW pada tahun 2047,
Secara global Amerika Serikat memliki 100 PLTN, lalu posisi kedua Francis dan Tiongkok 60 lebih PLTN. “Status PLTN Dunia pada tahun 2025, PLTN yang sudah beroperasi 416 unit berkapasitas 377.261 MWe di 32 negara. Sedang PLTN yang lagi dibangun mencapai 62 unit.65.040 MWe.di 15 Negara,” kata Dr Ir Suparman Anggota Dewan Pakar Kelompok Pengembangan Energi Nuklir Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), pada kegiatan media pelatihan bertema “Energi Bersih – Potensi, Bisnis, dan Outlook” yang digelar Pamerindo Indonesia bersama Lembaga Inovasi Energi Teknologi Nusantara (Lientera), dan PT Radian Teknologi Global (RTG) pada Sabtu–Minggu (28-29/6/2025).
Suparman mengatakan, secara total permintaan listrik yang diproyeksikan pada tahun 2060 adalah sebesar 1.813 TWh dengan perkiraan konsumen listrik per kapita sebesar 5.038 Kwh. Permintaan proyeksi tersebut mencakup kebutuhan listrik untuk kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, semelter, kelautan dan perikanan terpadu serta destinasi wisata prioritas yang mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada tahun 2029
PLTN dinilai mampu menyuplai listrik secara stabil dan rendah emisi karbon, serta mempercepat industrialisasi negara.
Kalau tujuannya hanya ingin memproduksi listrik mungkin bisa menggunakan energi yang lain. Tapi kalau tujuannya ingin mendukung Net Zero Emission seperti yang digalakkan pemerintah, diperlukan teknologi yang rendah karbon dan yang mendukung pertumbuhan ekonomi industri.
Menurut Suparman, bahan bakar PLTN adalah uranium, memiliki kepadatan energi. Satu pelet uranium seberat 20 gram dapat menghasilkan energi yang setara dengan 2,25 ton batubara. Untuk mengoperasikan satu PLTN berkapasitas 1.000 megawatt selama satu tahun, sebutnya, hanya dibutuhkan sekitar 21–25 ton uranium.
Pemakaian bahan bakar PLTN sangat hemat dan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, PLTN juga dapat membantu mengurangi emisi karbon dan polusi udara. S ebagai perbandingan PLTU batu bara, butuh 9.000 ton per hari. Jadi setahun itu sekitar 3,2 juta ton. “Bayangkan kalau kita bisa menggunakan sumber daya uranium, itu akan bisa mengurangi penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara ini,” katanya.
Pemerintah Indonesia sendiri sudah menempatkan PLTN dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Kebijakan Energi Nasional (KEN). Targetnya, PLTN akan mulai dibangun sekitar tahun 2030-an, dan diharapkan mampu mencapai kapasitas 35 gigawatt pada tahun 2060.
Program PLTN juga ditegaskan Presiden Prabowo Subianto1 rencana indonesia untuk mengembangkan reaktor nuklirnya sendiri. Hal ini diungkapkannya dalam Indonesia-Brazil Business Forum, Rio de Janeiro, Brasil, Senin (18/11/2024).
Prabowo mengungkapkan Indonesia memiliki banyak potensi energi udara (hidro), energi geotermal, dan energi surya. Menurutnya, dia optimis untuk mengembangkan energi masa depan.
“Kami berencana merancang dan memproduksi reaktor nuklir kami sendiri, sehingga kami juga bisa bekerja sama dengan industri Brazil,” kata Prabowo di Indonesia-Brazil Business Forum, Rio de Janeiro, Brasil, Senin (18/11/2024). RE/Ewindo





















