Home Kolom Betapa Dahsyatnya Penghentian Anggaran Defisit Oleh Presiden Prabowo Mengakhiri Neoliberalisme Fiskal

Betapa Dahsyatnya Penghentian Anggaran Defisit Oleh Presiden Prabowo Mengakhiri Neoliberalisme Fiskal

150
0

Betapa Dahsyatnya Penghentian Anggaran Defisit Oleh Presiden Prabowo Mengakhiri Neoliberalisme Fiskal

Oleh : Salamuddin Daeng

Pemotongan atau efisiensi anggaran yang dilakukan Presiden Prabowo bukan sekedar mengurangi pemborosan anggaran yang dilakukan oleh pemerintah, namun lebih jauh lagi adalah politik yang dahsyat untuk mengakhiri sistem keuangan Neoliberal yang membangkrutkan negara.

Sistem defisit keuangan neoliberal tidak hanya membangkrutkan pemerintah tetapi juga sekaligus memiskinkan rakyat. Sistem ini tidak hanya memaksa negara untuk terjebak dalam ketergantungan asing utang, namun sekaligus menguras uang yang ada di dalam perekonia untuk membiayai pemerintah semata.

Dengan sistem defisit anggaran maka uang asing mengendalikan seluruh kebijakan negara, mengatur arah dan tujuan pemerintahan negara, mengatur belanja negara dan memasukkan persyarakat (term of condition) yang ketat dan bahkan mengatur apa yang boleh dibeli oleh negara dan untuk apa uang yang dibelanjakan. Bahkan nanti suatu saat uang uang asing dan uang oligarki sekutu mereka di dalam negeri mengatur kapan sebuah pemerintahan diadakan atau dipertahankan.

Yang paling menyakitkan adalah kesulitan yang diterima rakyat akibat sistem defisit anggaran tersebut. Pada saat pemerintah menetapkan APBN 2026 senilai 638 triliun rupiah, maka bergelondongan uang mengalir dari bank nasional, lembaga keuangan nasional, dana jamsostek dan lain sebagainya ke dalam surat utang negara karena suku bunga yang tinggi. Perekonomian rakyat mengering, keadaan usaha produktif menjadi lemah, rakyat tidak lagi memperoleh uang atau likuiditas untuk memajukan usaha produktif. Perbankkan ongkang kaki beternak uang di Surat Utang Negara (SUN), pemerintah daerah sengaja tidak menghabiskan anggaran sehingga tidak terserap semua disimpan kembali bank dan lari ke SUN.

Caranya begini membuat Kementerian Keuangan dan lembaga terkait lainnya tidak usah bekerja keras, membuat roadmap strategi keuangan, memikirkan bagaimana meningkatkan pendapatan negara dari dalam perekonomian terutama hasil eksploitasi sumber daya alam. Defisit APBN sudah nyaman dengan utang yang terus menggunung, dan mengeruk pajak dari rakyat kecil setiap tahun untuk membayar utang utang tersebut. Sebagai negara pengekspor sumber daya alam tersebesar di dunia, Indonesia telah dijadikan sebagai bancakan oleh asing dan oligarki untuk mengeruk sumber daya alam tanpa kontribusi yang setara dengan negara Indonesia.

Semua ini telah diakhiri oleh Presiden Prabowo. Tidak ada lagi rezim anggaran defisit permanen. Angaran bisa surplus dan bisa juga defisit jika benar-benar diperlukan, bersifat mendesak dan dalam keadaan darurat. Namun bukan sistem yang secara permanen menjadi angaran ideologi seperti yang berlangsung sejak era reformasi. Praktek yang telah menjerat perekonomian Indonesia sehingga berada pada kondisi saat ini mengalami doble defisit, yaitu defisit dalam APBN dan defisit dalam neraca transaksi berjalan.

Apa hasil dari Penghentian anggaran defisit yang sebentar lagi akan dipetik oleh rakyat? Hasilnya adalah bank bank akan bekerja keras kembali menyalurkan uang ke tengah tengah masyarakat, membangun usaha produktif. Bank kembali menjadi lembaga perantara, menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan uang ke masyarakat, bukan membeli SUN. Demikian juga dengan lembaga keuangan seperti Jamsostek atau BPJS ketenagakerjaa, Taspen, Asabri, yang uangnya ribuan triliun, tidak lagi beternak uang di SUN, Tapi menyalurkan uang tersebut ke masyarakat penerima manfaat.

Namun kebijakan Presiden Pranowo ini sudah pasti akan menuai perlawanan, dari bandit bandit keuangan kelas kakap yang biasa menyimpan uang dan beternak di SUN, menjadikan kementerian keuangan sebagai tempat pencucian uang. Bandit keuangan yang kini tengah ditekan oleh Presiden Prabowo agar menyimpan devisa hasil ekspornya di dalam negeri tengah melancarkan pemberontakan. Hati hati lah Presiden dengan segala usaha membuat kekacauan akhir akhir ini. Bisa jadi adalah usaha perlawanan balik antek neoliberalisme yang bekerja sama dengan bandit keuangan sumber daya alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.