Algoritma dan Cara Kritis Bangsa, Sebuah Reflektif–Personal
Catatan dari Cilandak : Aendra Medita*)
Ada perkembangan saat ini yang tak bisa dibendung. Inilah yang namanya Algoritma dan Cara Kritis yang Tumpul
Saya sering memikirkan: betapa berubahnya lanskap media kita dalam satu dekade terakhir. Dulu, ketika masih bergulat dengan dunia pers cetak dan televisi, saya percaya redaksi adalah benteng kebenaran terakhir.
Redaktur memutuskan apa yang layak naik halaman satu, apa yang harus ditahan, dan apa yang tidak boleh diterbitkan. Kini, benteng itu runtuh oleh kekuatan tak kasat mata: algoritma.
Yang menentukan isi kepala kita bukan lagi redaktur yang penuh pengalaman, melainkan mesin dingin yang hanya tahu ‘engagement.’ Apa yang banyak diklik, diumumkan, atau diperdebatkan, itulah yang muncul.
Begitu sederhananya. Dan karena sederhana, jadinya berbahaya. Saya sering melihat, berita investigasi yang seharusnya menggemparkan tenggelamnya di linimasa, kalah oleh video viral selebritas atau kisah kocak sehari-hari. Apa yang penting bagi bangsa ini, sering kalah dari apa yang menyenangkan buat algoritma.
Di sini saya merasa, cara kritis bangsa kita ikut berubah. Kritik tidak lagi dihilangkan pada waktu yang lama, tetapi pada reaksi instan. Orang marah karena headline , bukan isi berita. Orang membagikan meme sebagai bentuk protes, padahal isunya jauh lebih kompleks. Kita berisik, tapi sering tumpul.
Media arus utama pun tidak lebih selalu baik. Alih-alih melawan arus, mereka malah ikut mengejar klik. Saya sedih membaca banyak media besar kini hanya menyalin atawa “mengutip” dari medsos. Padahal dulu, media arus utama punya kelas karena analisisnya, kedalamannya. Namun saya percaya, tidak semuanya hilang.
Masih ada jurnalis yang berjuang dengan integritas. Masih ada ruang bagi tulisan opini atau kolom panjang untuk didengar, meski harus bersaing dengan meme lima detik . Tantangannya adalah bagaimana kita—baik jurnalis maupun pembaca—berani melawan kenyamanan algoritma?
Kritik sejati memang tidak populer. Analisa sering tidak viral. Tetapi bangsa ini tidak bisa terus-menerus dibesarkan oleh sensasi. Kita perlu kembali ke tradisi berpikir panjang, berdebat sehat, menghargai data. Kalau tidak, kita hanya akan menjadi penonton yang tampil di panggung algoritma , tanpa pernah sungguh-sungguh mengerti lakon yang dimainkan.
Saya menulis ini bukan untuk mengutuk zaman. Algoritma punya sisi baik: ia membuka ruang demokrasi, memberi suara pada yang tak terdengar. Acara kemarin demo-demo 25 Agustus sampai awal Sepetember ini lari melihat livenya medsos. Tapi jika dibiarkan, ia juga bisa membutakan. Oleh karena itu, kita harus belajar mengatur algoritma , bukan sekadar menjadi korbannya dan membendungnya. Dan itu dimulai dari diri kita sendiri: membaca lebih dalam, tidak cepat bertindak, berani mengambil keputusan. Itulah cara kritis yang sejati. Tanpa itu, bangsa ini akan kehilangan ketajaman pikirannya, hanya tersisa keramaian kosong yang viral sebentar lalu hilang. Lalu ada yang baru lagi. Yuk ah Ngopi dulu saja dan kita berpikir bagaimana agar semua itu tek terhasut….
*)Seorang Jurnalis , dan analis Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) & Jala Bhumi Kultura (JBK)




















