Resufle 5 Menteri.
Ketum APIB, Erick Sitompul : Sambut Baik Menkeu dan Menkop Baru. Agar Kebut Pertumbuhan Ekonomi Nasional Dan Program Pro Rakyat.
Pergantian 5 Menteri Mendadak dilakukan Prabowo Selasa sore, 8 Oktober 2025. Tidak tanggung tanggung, Sri Mulyani Menkeu andalan era SBY dan Jokowi Di ganti barengan Menko Polkam Budi Gunawan. Dua Tokoh kuat di kabinet Jokowi 10 tahun terakhir ini diikuti pergantian Budi Arie yang telah terkena radar Kejagung terkait perlindungan bandar Judol.
Sri Mulyani mendapat permintaan luas untuk di ganti oleh mahasiswa dan rakyat, karena kebijakan tidak populer yang memajaki kelompok kelas menengah dan masyarakat bawah dengan berbagai jenis pajak. Ucapannya yang menyakiti hati rakyat kecil termasuk merendahkan kalangan guru dan dosen juga menjadi pemicu.
Ketua Umum DPP APIB ( Aliansi Profesional Indonesia Bangkit ), Erick Sitompul menyambut baik pergantian tersebut. Dia optimis dengan Menkeu baru Purbaya Yudhi Sadewa dan Menkop Ferry Juliantono di harapkan dapat membawa arah perubahan program ekonomi menjadi lebih berorientasi terhadap nasib rakyat kecil.
Minggu lalu DPP APIB juga turut merilis 9 Pernyataan Sikap kepada media , salah satu point nya adalah meminta Presiden Prabowo mengevaluasi Menteri yang kurang Profesional dan kebijakannya sering menyakiti rakyat, kata Erick.
Erick menilai beberapa Menteri perekonomian yang ber mahzab kan ekonomi kapitalis dan liberal yang di arsiteki Sri Mulyani di era Jokowi itu layak diganti Prabowo karena tidak selaras dengan visi misi Astacita Prabowo yang lebih pro ekonomi kerakyatan dan pemberantasan kemiskinan.
Prabowo ingin mengejar pertumbuhan ekonomi nasional dengan kisaran angka 7-8 persen melalui percepatan pembangunan kemandirian pangan, kemandirian energy, energy hijau dan ekonomi kreatif dengan melibatkan ekonomi kerakyatan sekaligus memperkuat posisi strategis BUMN sebagaimana diamanatkan pasal 33 UUD 45.
Terkait adanya gejolak pasar modal setelah pergantian Menkeu kepada Purbaya, Erick berpendapat gejolak short time di Capital Market itu fenomena biasa saja. Itu tidak akan berlangsung lama. Sebagaiman juga terjadi ketika berdirinya Danantara. Sebagai mantan Dirut PT. Danareksa Sekuritas yang handal di era pemerintahan Presiden SBY, Purbaya tentu dapat dengan cepat menenangkan pasar.
Erick juga beranggapan adanya pendapat bahwa Purbaya tidak se terkenal Sri Mulyani di kalangan lembaga Internasional dan investor asing, hal itu juga tidak mutlak, tidak terlalu penting. Karena dukungan internasional dan masuknya investor asing ke Indonesia itu bukan semata karena nama besar Menkeu dan bicaranya yang pintar.
Indonesia itu negara sangat besar yang memiliki potensi Sumber Daya Alam luar biasa hebat dan prospek ekonomi yang bagus di semua sektor terutama perkebunan kelapa sawit, tanaman pangan, Perikanan, pariwisata, farmasi, industri digital dan pelbagai potensi industri hilir mineral Nikel-Tembaga-Bouksit-Timah, Emas serta potensi luar biasa besar jangka panjang untuk energy Nuklir yakni Logam Mineral Tanah Jarang hingga potensi Energy Baru dan Terbarukan.
Investor asing akan berlomba datang ke Indonesia tentu terlebih dahulu melihat iklim investasinya yang kondusif sekaligus melihat potensi ekonominya. Kedua faktor diatas itu yang menjadi magnitnya, bukan wajah Menkeunya, kata Erick
Sebagai bendahara negara, tugas utama Menkeu itu adalah menjaga stabilitas fiskal, menertibkan dengan ketat pengeluaran negara dan menjaga agar defisit APBN tidak semakin melebar kalau bisa justru menekan sekecil nya.
Kemudian memetakan dan meningkatan sumber pendapatan negara, baik dari pajak maupun non pajak, membuka kantong kantong sumber pajak baru yang selama ini tidak dijamah, dimanjakan dan sengaja disembunyikan terutama dari kantong investasi besar asing seperti smelter nikel raksasa era Jokowi
Menkeu juga agar dapat menggalang pajak lebih progresif dari kalangan korporasi besar dan dari warga super kaya dan Crazy Rich yang saat ini berkembang pesat tanpa menyakiti mereka.
Selain harus mengawasi efisiensi anggaran di seluruh lembaga negara dan instansi pemerintahan di pusat dan daerah untuk menekan Fraud,
Spending pemerintah harus tetap maksimal di kucurkan untuk mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi. Namun belanja pemerintah lebih di prioritas membantu industri dalam negeri yang mulai terseok.
Langkah awal Menkeu Purbaya sangat bagus. Di DPR kemaren Purbaya menyebut segera memindahkan dana Depkeu sebesar 200 Trilyun dari BI ke rekening Depkeu di perbankan. Ini gebrakan Purbaya yang cukup penting. Selain memperkuat likuditas perbankan yang mulai mengering. Penempatan dana ini akan dapat di serap luas para pelaku usaha dan masyarakat sekaligus memperkuat konsumsi masyarakat.
Namun kepada pihak perbankan perlu diingatkan dan di awasi agar dana tersebut lebih banyak di alokasikan dengan bunga murah untuk pelaku usaha menengah ke bawah dan untuk 80 ribu unit koperasi rakyat yang saat ini sedang dikembangkan pemerintah. Koperasi rakyat merah putih di bawah binaan Menteri Koperasi baru Ferry Juliantono agar dapat menyerap kredit murah perbankan. Jutaan pekerja koperasi rakyat dan mitra usaha nya akan dapat berkembang tentu apabila mendapat permodalan yang semestinya dan mengelola koperasi nya secara profesional. Angka pengangguran saat ini 7,4 juta orang, harus dapat ditekan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi termasuk melalui ekonomi kerakyatan yang luas.
Erick mengingatkan , dana 200 Trilyun di perbankan nasional itu jangan diberikan lebih banyak ke kredit korporasi besar . Itu sama saja buang garam kelaut. Apalagi kepada korporasi besar yang tidak nasionalis, karena dana kredit perbankan dalam negeri sering di pindah ke luar negeri terutama ke Singapore untuk disimpan dan untuk berinvestasi di luar negeri, ungkap Erick.




















