Resensi Buku “Manajemen Akar pada Kelapa Sawit” Dr Memet Luar Biasa
SAWIT dan Dilema Produktivitas Kelapa sawit selalu menjadi buah bibir di Indonesia. Komoditas ini bukan hanya bahan baku minyak goreng di dapur rumah tangga, tetapi juga sumber devisa negara yang luar biasa.
Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun, di balik kejayaan itu, banyak persoalan menghantui: produktivitas yang stagnan, tantangan iklim, biaya pupuk yang mahal, isu lingkungan, hingga persoalan benih yang tidak selalu unggul.
Dalam konteks inilah buku Manajemen Akar pada Kelapa Sawit karya Dr. Ir. Memet Hakim, M.M., hadir sebagai tawaran baru. Alih-alih membicarakan isu umum seperti ekspansi lahan, harga crude palm oil (CPO), atau kontroversi deforestasi, penulis justru mengajak kita menengok ke dasar—secara harfiah: akar.
Baginya, akar adalah pusat kehidupan tanaman, kunci produktivitas, sekaligus fondasi inovasi agronomi. Sekilas Tentang Buku Buku setebal lebih dari tiga ratus halaman ini tidak berdiri sendiri. Buku ini Ia diperkuat oleh kata pengantar tokoh penting: Andi Amran Sulaiman (Menteri Pertanian RI), Eddy Martono (Ketua Umum GAPKI), hingga Meddy Rachmadi (Dekan Fakultas Pertanian UNPAD). Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Andi Yogyakarta ini setebal 228 halaman, September tahun 2025.

Dukungan para tokoh ini menunjukkan posisi strategis buku ini: bukan sekadar literatur akademis, melainkan pedoman praktis bagi industri perkebunan sawit Indonesia. Judul bukunya Lugas: Manajemen Akar pada Kelapa Sawit: Inovasi Baru Rekayasa Teknik Agronomi untuk Mendongkrak Produktivitas Kelapa Sawit.
Dari judul saja, kita tahu fokusnya adalah produktivitas. Isi dan Gagasan Utama
1. Pemupukan sebagai Seni dan Sains Buku ini membahas detail bagaimana pemupukan bukan sekadar soal “tabur pupuk.” Ada cara, ada organisasi, ada strategi berbeda untuk tanaman yang belum menghasilkan dan yang sudah menghasilkan.
Penulis menyodorkan pendekatan sistematis: dari pemilihan jenis pupuk, cara menabur, hingga interpretasi hasilnya. Semua ini bermuara pada satu hal: efisiensi. Dalam industri sawit, pupuk bisa menyerap hingga 60% biaya produksi. Salah strategi, maka rugi besar. Karena itu, mengaitkan manajemen pupuk dengan manajemen akar menjadi penting: bagaimana akar menyerap nutrisi, bagaimana tanah memengaruhi ketersediaan unsur hara, dan bagaimana iklim bisa mempercepat atau justru menghambat penyerapan.
2. Iklim: Musuh Tak Terlihat Bab khusus tentang pengaruh iklim memberi gambaran gamblang betapa rapuhnya sawit terhadap cuaca ekstrem. Kemarau panjang bisa memicu stres pada tanaman, menurunkan produksi tandan buah segar (TBS), dan akhirnya menekan produktivitas minyak. Banjir atau genangan membuat akar kekurangan oksigen, menyebabkan tanaman “tercekik” dan mati perlahan. Buku ini tidak berhenti di diagnosis, tetapi menawarkan solusi penanggulangan. Misalnya, strategi irigasi, teknik drainase, hingga penanaman varietas tertentu yang lebih tahan.
3. Potensi Benih: Dari Rendah hingga Sangat Tinggi Menarik sekali saat penulis menguraikan klasifikasi produktivitas benih sawit. Ada tabel sederhana namun sarat makna: mulai dari kategori rendah (kurang dari 25 ton TBS per hektar) hingga kategori sangat tinggi (lebih dari 40 ton TBS per hektar). Bukan hanya angka, tabel ini menyiratkan pentingnya benih unggul. Banyak petani masih terjebak menggunakan benih seadanya, bahkan benih “abal-abal” yang dijual bebas. Akibatnya, produktivitas lahan jatuh jauh di bawah potensi. Penulis ingin membuka mata: benih adalah investasi, bukan sekadar bibit.
4. Akar sebagai Fondasi Agronomi Inilah inti buku. Penulis menekankan bahwa akar bukan hanya organ penghisap nutrisi, tetapi juga pusat dari segalanya: kesehatan tanaman, daya tahan terhadap iklim, efisiensi pupuk, hingga produktivitas jangka panjang. Dengan manajemen akar yang baik—melalui teknik rekayasa agronomi tertentu—produktivitas bisa melonjak. Dalam bahasa sederhana, kalau kita ingin pohon sawit sehat dan produktif, jangan hanya menatap batang dan tandannya, tapi rawatlah akarnya. Kekuatan Buku
1. Inovasi yang Jarang Dibahas Sebagian besar literatur sawit bicara soal ekonomi, pasar, atau lahan. Buku ini justru masuk ke ranah mikro: akar. Fokus ini membuat buku berbeda dan menawarkan sesuatu yang baru.
2. Bahasa Populer, Tidak Kaku Meski ditulis oleh seorang akademisi, gaya penulis cukup komunikatif. Istilah teknis ada, tetapi dijelaskan dengan konteks praktis. Petani pun bisa memahami, bukan hanya mahasiswa pertanian.
3. Kombinasi Teori dan Praktik Penulis tidak hanya bicara konsep, tetapi juga menyertakan rekomendasi lapangan: cara memupuk, cara mengelola genangan, cara memilih benih. Ini membuat buku terasa aplikatif.
4. Relevansi Tinggi Di saat produktivitas sawit nasional mulai stagnan, sementara tuntutan pasar global semakin tinggi, buku ini datang sebagai panduan. Ia relevan dengan kebutuhan zaman. Memang bukan tanpa kelemahan Buku ini sedikit bahas Kurang Mengupas Isu Lingkungan Sawit selalu dikaitkan dengan deforestasi, emisi karbon, dan keberlanjutan. Buku ini lebih fokus ke teknis agronomi, sehingga pembaca yang mencari perspektif ekologis bisa merasa kurang.
Minim Aspek Sosial-Ekonomi Padahal, petani sawit rakyat adalah tulang punggung industri ini. Bagaimana kondisi sosial-ekonomi mereka berhubungan dengan manajemen akar? Pertanyaan ini tidak banyak disentuh. Namun, kelemahan ini sebenarnya lebih ke arah keterbatasan fokus. Penulis memang sejak awal menyatakan dirinya berbicara soal agronomi, bukan politik atau sosial. Mengapa Buku Ini Penting Ada dua alasan mengapa buku ini layak mendapat perhatian serius. Pertama, ia memberi ilmu praktis yang bisa langsung diterapkan di kebun. Petani, perusahaan, bahkan mahasiswa pertanian bisa belajar teknik yang berdampak nyata.
Kedua, ia menjadi buku referensi strategis di tengah perdebatan global tentang sawit. Dunia menekan Indonesia soal isu lingkungan, sementara di dalam negeri kita menghadapi produktivitas rendah. Buku ini menawarkan jalan tengah: meningkatkan produktivitas di lahan yang ada, tanpa perlu membuka hutan baru. Dengan kata lain, manajemen akar bisa jadi solusi agronomi yang sekaligus menjawab tantangan keberlanjutan. Kesimpulan Manajemen Akar pada Kelapa Sawit karya Dr. Ir. Memet Hakim, M.M. adalah buku yang tidak hanya penting, tetapi juga mendesak untuk dibaca apalagi saat ini bangsa lagi gencarnya ke dunia sawit yang sangat aduhai.
Ia menawarkan perspektif baru yang sederhana namun revolusioner: akar adalah kunci produktivitas sawit. Buku ini kuat karena berangkat dari riset ilmiah sekaligus pengalaman praktis di lapangan. Ia bukan sekadar bacaan akademik, melainkan juga buku panduan bagi petani, perusahaan, dan pembuat kebijakan. Jika ada satu pesan utama dari buku ini, mungkin sederhana: jangan abaikan akar. Dari sanalah masa depan sawit Indonesia ditentukan.Bukan begitu?
Perensensi: Aendra Medita



















