Pita Cukai, Pita Moral yang Lepas
Rokok tanpa cukai, laporan tanpa tindak, dan birokrasi yang lebih pandai bersembunyi daripada berubah.
Catatan Agus M Maksum
Setiap kali ada razia rokok ilegal, yang ditangkap selalu warung kecil. Pemiliknya ibu-ibu, kadang bapak tua yang matanya sudah kabur. Tapi yang menjual pita cukainya? Yang mencetak, mendistribusikan, mem-backup? Mereka entah di mana.
Negeri ini memang jago menindak yang kecil. Tapi selalu gagap di depan yang besar.
Sebuah laporan dari warga Madura masuk ke meja menteri: “Terjadi penjualan pita rokok besar-besaran, Pak. Semua dijual kembali dan dipakai untuk merek lain. Kalau ini ditertibkan, penerimaan pajak negara bisa naik.”
Bahasanya sederhana. Tapi di balik kalimat itu, ada jeritan ekonomi yang kehilangan keadilan.
Begitulah nasib pita cukai di negeri ini — pita yang seharusnya jadi simbol pengikat moral antara pemerintah dan rakyat, kini malah jadi tali yang longgar diikat oleh cukong-cukong berkuasa.
Di atas kertas, Bea Cukai punya slogan: “Mengawal Kepabeanan, Menjaga Cukai untuk Negeri.”
Tapi di lapangan, justru negeri yang harus menjaga mereka.
Menteri itu geram. Ia ingin mengubah governance culture — bahasa halus untuk mengatakan: sudah terlalu lama aparat terbiasa menutup mata. Tapi ia juga tahu, mengubah budaya itu lebih susah daripada memecat orang. Karena yang harus dipecat bukan hanya orangnya, tapi cara berpikirnya.
Di forum internal, ia bersuara keras:
“Kalau ketahuan lagi nongkrong di Starbucks berseragam, saya pecat! Saya persulit hidupnya!”
Kata-kata itu viral. Tapi di bawah, sistem tak bergeming.
Karena masalahnya bukan di kopi atau seragam, tapi di mental.
Mental yang membuat aparat lebih takut pada atasan daripada pada kebenaran. Lebih rajin menegur yang lemah daripada menindak yang kuat.
Itulah sebabnya pita cukai bisa berpindah tangan tanpa rasa bersalah.
Karena moral birokrasi kita pun sudah ikut lepas — seperti pita itu.
Dan selama warung kecil masih jadi sasaran, sementara cukong besar tetap duduk nyaman sambil menyesap kopi mahal, selama itu pula rakyat tahu: reformasi kita baru berhenti di papan nama, belum sampai ke nurani.
Kalau mau jujur, negara ini bukan kekurangan aturan. Tapi kekurangan rasa malu.
Dan barangkali, satu pita yang paling mahal di negeri ini bukan yang tertempel di bungkus rokok, melainkan pita nurani — yang entah sejak kapan, sudah dilepas.




















