Home Danantara Danantara Berencana Menanamkan Investasi Awal sekitar Rp16 triliun di Pasar Modal

Danantara Berencana Menanamkan Investasi Awal sekitar Rp16 triliun di Pasar Modal

283
0

Danantara Berencana Menanamkan Investasi Awal sekitar Rp16 triliun di Pasar Modal

oleh : Agustinus Edy Kristianto

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berencana menanamkan investasi awal sekitar Rp16 triliun di pasar modal. Investasi ini akan berbentuk Surat Berharga Negara (SBN) dan saham. Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menyatakan, “Bukan cuma saham BUMN, tapi juga perusahaan lain yang memiliki fundamental kuat dan potensi pertumbuhan tinggi.”

Kepada Pandu Sjahrir — yang merupakan keponakan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan — kita patut bertanya terang-terangan: apakah maksudnya dana yang berasal dari dividen BUMN itu akan dipakai Danantara untuk membeli saham GOTO dan TOBA? Apalagi, jabatan terakhir Pandu adalah Wakil Direktur Utama di emiten TOBA, yang sebagian sahamnya juga dimiliki oleh LBP.

Pertanyaan ini senyampang dengan kecurigaan saya sejak lama: Danantara pada akhirnya akan menjadi “juru selamat” bagi GOTO, yang nilai sahamnya babak belur — kini berada di kisaran Rp50 (gocap). Terlebih, Pandu adalah investor awal GOTO dan pernah menjabat Komisaris Utama di GoTo Financial.

Fakta di lapangan: BUMN Telkomsel/Telkom saat ini memegang 23 miliar lembar saham GOTO. Investasi ini dilakukan pada tahun 2021 dengan nilai total US$450 juta (sekitar Rp6,4 triliun), pada harga pembelian Rp270 per lembar. Pada penutupan hari ini, Senin (20 Oktober 2025), harga saham GOTO berada di Rp55.

Artinya, investasi Telkom di GOTO telah mengalami kerugian sangat besar — mencapai hampir 80%, atau sekitar Rp5,096 triliun. Dengan demikian, nilai investasi Telkom di GOTO kini hanya tersisa sekitar Rp1,304 triliun.

Lantas, kerugian negara sebesar lebih dari Rp5 triliun ini mau diapakan? Apakah masih mungkin pemerintahan sekarang menyeret pertanggungjawaban Menteri BUMN saat itu (Erick Thohir), kakaknya (Boy Thohir, yang juga pemilik dan pengurus GOTO), serta direksi Telkom/Telkomsel yang ikut mengambil keputusan investasi tersebut?

Saya mendengar desas-desus adanya penyelesaian kasus GOTO secara “luar biasa” oleh pemerintahan sekarang: Danantara (yang kini membawahi Telkom) disebut “diperintahkan” untuk menekan GOTO agar melakukan buyback (membeli kembali)—melalui transaksi di luar bursa—seluruh saham GOTO milik Telkom pada harga setidaknya setara harga beli, yaitu total US$450 juta (Rp6,4 triliun).

Pandu, sebagai CIO Danantara, disebut bertanggung jawab menuntaskan “transaksi luar biasa” ini — setidaknya untuk turut menyelamatkan kerugian negara.

Rencana penyelesaian ini bahkan disebut-sebut dikoordinasikan dengan Kejaksaan Agung, yang saat ini sedang menyidik kasus korupsi pengadaan laptop Google Chromebook dan telah menetapkan Nadiem Makarim sebagai tersangka. Dalam perkara ini, diduga kuat ada kaitan dengan investasi Google di GOTO.

Saya juga mendengar kabar bahwa ada petinggi GOTO yang menyadari dirinya tengah ditarget penegak hukum akibat kasus ini, hingga istrinya kerap menangis di gereja.

Saya pikir, cara “unik nan luar biasa” itu patut dicoba. Harus ada yang bertanggung jawab terhadap susutnya duit segar Telkom Rp6,4 triliun di GOTO. Jangan sampai ujungnya tidak ada satu pun pelaku yang dibui, sementara duit negara raib tanpa jejak.

Mulai sekarang, kita awasi saja: kalau ada sepeser saja dana Danantara ditanam di GOTO, tahulah kita artinya bahwa Danantara — yang katanya “kekuatan masa depan nusantara” — ternyata gampang betul masuk anginnya.

Salam,
AEK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.