RENDAHNYA PRODUKTIVITAS MINYAK SAWIT, BISA DIATASI DENGAN PUPUK SUBSIDI & TEKNOLOGI MANAJEMEN AKAR
Memet Hakim
Pengamat Sosial & Perkebunan
Kelapa sawit adalah mahluk hidup, gak bisa ngomong (bisu) tapi tidak tuli, dia bisa mendengar dan bisa berkomunikasi dengan manusia . Kelapa sawit sama hal nya manusia, perlu makan dan minum, perlu perawatan seperti bercukur, menjaga kebersihan, sebagi ketidakseimbanganya pohon ini menghasilkan buah. Jadi pohon kelapa sawit ini merupakan mahluk pekerja keras dan potensinya besar sekali. Ibarat manusia jika dibor sejak dini dapat menjadi seorang tentara, atlet, insiyur, dokter, dll. Yang produktif.
Umumnya sejak lahir (menjadi kecambah), kelapa sawit dianggap sebagaimana bayi manusia. Dirawat intensif menjadi bibit siap tanam Bibit berumur 1 tahun ditanam dilapangan selama 3 tahun disebut TBM (Tanaman Belum Menghasilkan), pada manusia disebut Balita (Bawah tiga tahun), setelah itu kelapa sawit diambil berbuah pada tahun ke 4 -28 setelah tanam. Tanaman kelapa sawit dapat “diajak berbicara” apa kebutuhannya, jika sakit sakit apa dan bagaimana caranya menghasilkan buah (TBS).
Manusia umumnya berumur 75 tahun, sedang kelapa sawit secara ekonomis umurnya dipatok 25 tahun. Saat muda (umur 10-15 tahun) kelapa sawit berpotensi menghasilkan sampai 25-30 ton/ha, dilanjutkan dengan masa dewasa 15-20 tahun (30-45 ton/ha) dan dimasa Tua (20-25 tahun), potensi produktivitas reratanya masih sekitar 30-35 ton tbs/ha.
Banyak pemilik kebun, pengusaha tidak memahami karakter tanaman kelapa sawit ini, sehingga banyak diantara yang datang ke kebun hanya mengambil hasilnya saja , kasus seperti ini banyak terjadi di lapangan, tentu produktivitasnya rendah hanya 7-10 ton/ha/tahun saja dari potensi 40 ton tbs/ha. Kebun seperti ini banyak dijual belikan. Kasus seperti ini ditaksir ada sekitar 30 % dari seluruh areal atau sekitar 5 juta ha, produktivitasnya sekitar 2-2.5 ton/ha/tahun .
Kebun yang benar-benar dikelola dengan baik diperkirakan ada 30 % juga dari total areal seluruhnya, namun kelompok yang seperti ini produktivitasnya baru sekitar 5 ton/ha/tahun. Ada sedikit kebun yang telah mencapai 7 ton minyak sawit, tetapi diperkirakan tidak lebih dari 5 %. sisanya 35 % lagi kondisinya antara dirawat dan tidak. Pantas saja jika rerata produktivitas nasional baru mencapai 3 ton/ha/tahun dari potensi 11 ton/ha/tahun minyak sawit.
Kondisi seperti ini merugikan pemilik, pemerintah dan lingkungannya . Akibatnya pendapatan pemilik sedikit, pajak kecil dan uang yang beredar juga sedikit. Artinya semua pihak dirugikan. Pemerintah daerah lewat Dinas terkait sebaiknya membuat peta produktivitas dan kepadatan kebun yang terawat, tidak terawat, dan sangat terawat. Kebun yang tidak terawat dapat dibedakan lagi apakah memang tidak mempunyai kemampuan teknis & manajemen ataukah ada kesengajaan dibiarkan terlantar. Jika kekurangan kemampuan teknis dan manajemen agar bermanfaat lebih lanjut. Alternatif lainnya dikelola oleh BUMN Perkebunan.
Perkiraan areal kelapa sawit yang 5 juta ha tidak terawat, sebaiknya ada pelatihan khusus atau kebunnya dijadikan mitra BUMN yang terbukti produktivitasnya paling tinggi. Jika ada pengugasan seperti itu, artinya jumlah luas perkebunan BUMN bisa bertambah 5 juta ha lagi, ini tugas berat, tetapi sangat mungkin dilakukan.
Pemerintah juga diminta untuk menyiapkan subsidi pupuk agar produktivitas nasional, menurut perhitungan dalam tempo 1 tahun subsidi pupuk akan kembali lagi ke kas Negara. Jika Pupuk Subsidi disiapkan penuh untuk kelapa sawit yakni Rp 92 trilyun , maka Jumlah pajak yang akan kembali menjadi sebesar Rp 188 trilyun. Arti sebenarnya bukanlah subsidi tetapi investasi. Selain itu ada tambahan dana segar sebesar Rp 677 trilyun dan totalnya menjadi Rp 1.230 trilyun yang berputar di 26 provinsi perkebunan kelapa sawit
Tabel : Perhitungan Penerimaan Kas Negara sebelum dan setelah Subsidi Pupuk

Prediksi para analis, bahwa dengan adanya program B-50, seolah merupakan lonceng kematian bagi industri kelapa sawit di Indonesia, tentu saja tidak beralasan, jika pengelolaan kelapa sawit diperhatikan dan diberikan subsidi pupuk. Apalagi jika lahan kosong berijin yang luasnya diperkirakan sebesar 3,5 juta ha lagi segera ditanami.
Ketahanan Energi yang dimotori oleh Bio Energy, perlu segera ditangani secara serius, bukan sekedar retorika. Sampai saat ini belum ada kebijakan yang diambil untuk meningkatkan produktivitas oleh pemerintah. Yang saat ini terjadi hanya pengambil alihan kepemilikan dan manajemen kebun Swata yang melakukan pelanggaran menjadi dikelola oleh BUMN baru yang belum memiliki pengalaman praktis. Sayang sekali potensi sekitar 4 juta ha kebun kelapa sawit ini harus stagnan, bahkan menurun jika tidak segera diperbaiki manajemennya.
Agar pupuk diserap lebih efisien, maka perlu manajemen akar & daun yang memungkinkan penyerapan hara maksimal, sehingga protas meningkat secara signifikan.
Bandung, 24 Okteober 2025




















